
"Aku harus menanyakan ini, Mas!"
"Iya, tapi ayo kita berteduh dulu!"
Reyhan meraih tangan Gina, namun Gina tidak bergerak sedikitpun ia tetap bertahan di bawah guyuran air hujan.
"Apa mas Rey, mencintai ku?"
Seketika Reyhan menolehkan kepalanya, matanya terkunci pada iris mata indah milik Gina, keduanya saling menatap. Reyhan yang tidak menyangka kalau Gina bertanya hal demikian hanya bisa diam sejenak sebelum menjawabnya agar dengan sangat mudah di pahami.
"K-kenapa kamu tanyakan ini?"
"Karena Mas Rey mengatakan perpisahan beberapa hari lalu tapi pagi tadi, Mas Rey malah datang ke kampus ku dan mencari ku, dengan rangakaian bunga?"
Seketika lidah Reyhan membeku, Reyhan tahu kalau Gina akan mendengar nya dari teman satu kampusnya.
"Iya, Mas memang mencari mu," jawab Reyhan dengan suara yang bersaing dengan air hujan yang menulikan telinga setiap manusia.
"Kenapa mas?"
"Alasan yang sama dengan keberadaan mu disini sekarang. Kenapa kamu datang ke sini padahal sudah Mas katakan kalau Mas yang akan datang padamu, terlebih lagi sedang hujan deras. Untuk memastikan sesuatu 'kan, setelah kamu sendiri yang menolak Mas nikahi?"
Keheningan sejenak terjadi melanda keduanya, mereka saling menatap dalam nihil suara. Hanya hujan yang mengoyak keheningan, dan mengoyak perasaan masing-masing yang tidak dapat mereka sampaikan dengan baik selama ini.
"Mas, mencintaimu Gina Utami." Reyhan yang tidak berdaya hanya mampu mengutarakannya dengan lirih juga menundukkan kepalanya tepat di depan bibir Gina.
Tangannya meraih lembut dagu bulat Gina, mendaratkan bibirnya dengan nyaman di sana. Melahap habis bibir Gina yang sudah kebiruan karena kedinginan dan sama-sama menggigil di bawah guyuran air hujan yang deras.
Pendapat orang? persetan dengan itu!. Toh Reyhan sudah tidak ingin mendengar apapun kata orang, yang dia inginkan hanya Gina, Gina dan Gina.
Dan begitu juga Gina yang tidak ingin kehilangan Reyhan, tidak ingin melihat Reyhan pergi meninggalkan nya dan menjauh dari pandangan, tidak ingin mendengar kata perpisahan lagi.
__ADS_1
Juga Gina tidak lagi mau memperdulikan apa kata orang, tidak peduli penilaian orang lain terhadapnya karena apa yang menurut orang itu buruk belum tentu buruk untuk nya, dan apa yang menurut orang lain baik, belum tentu juga baik untuk nya. Karena bagaimanapun kita bukan tergantung penilaian orang. Pembenci akan tetap menjadi pembenci walaupun kita berusaha keras agar mereka menyukai kita.
Ia hanya ingin Reyhan! laki-laki yang mampu membuat nya nyaman, laki-laki yang bisa menjadi apa saja untuk nya. Kekasih, Kakak dan juga bisa menjadi seorang Ayah yang bahkan belum pernah ia rasakan menjadi seorang anak perempuan dari seorang ayah cinta pertama dari anak gadisnya. Yang dia tahu hanya nama dari pri yang katanya adalah ayahnya, Bram? benarkah itu nama ayahnya, batin Gina merasa sedikit terganggu sebenarnya tapi ia tidak mau mengambil pusing akan hal itu.
Gina membuka matanya saat ciuman mereka mengambil jeda, Reyhan menyapu air hujan yang membasahi wajahnya mesti dia tahu itu akan sia-sia.
"Gin? apa kamu mencintai, Mas?"
"Iya," jawab lirih Gina.
"Katakan!"
"Aku mencintaimu, Mas Rey"
Jawaban yang hangat walaupun berada di bawah guyuran hujan yang menggila. Gina dapat merasakan sekali lagi Reyhan memagutnya tanpa henti, ia seperti tidak peduli dengan apa yang di pikirkan orang-orang saat ini, yang melihat mereka tidak juga enyah di bawah dari tirai hujan dan malah berdiri dengan bibir yang saling bertaut satu sama lain.
Bukan! ini bukan ciuman pertama Gina, tapi ini adalah ciuman kali kedua mereka. Ya! karena ciuman pertama Gina, Reyhan pula yang mencurinya pada saat Gina ingin menyudahi perjanjian kontrak antara dia dan nenek Sari.
"Jangan katakan perpisahan lagi, aku nggak suka mendengar nya!"
Bibir Gina tersenyum, sungguh panggilan mesra itu membuat nya bahagia, bahkan ia sangat ingin terbang ke langit melewati awan yang mengguyurkan air hujan saat ini juga. Tapi apalah daya, dia bukan seorang burung yang mampu melakukan itu.
Reyhan menjawabnya lirih namun cukup tegas. Bibirnya tersenyum dengan memamerkan lesung pipinya yang indah seraya berkata lagi "Ayo berteduh!"
Reyhan menarik lembut tangan Gina mengajaknya menepi ke sisi yang bertopi, memberikan kode pada Aska pakai tangannya agar datang padanya.
"Pak Reyhan?"
"Ambilkan handuk juga pakaian saya di mobil "
"Baik pak "
__ADS_1
Selagi Aska pergi mengambilkan apa yang di minta Reyhan, seorang pria yang sepertinya klien dari Reyhan ikut keluar menghampiri mereka. Melihat Gina dengan tatapan yang bingung, alisnya mengernyit dan itu dapat Reyhan saksikan langsung.
"Pak Mario? euumm maaf, jika perbincangan kita berhenti begitu saja," ucap Reyhan dengan sengaja karena merasa tidak suka pria yang bernama Mario itu memandang Gina dengan tatapan aneh menurutnya.
"Oohh ,tidak apa pak Reyhan. Tapi dia? oh maksud saya, apa dia kekasih anda?"
"Ya. Kenapa?"
Suara Reyhan berubah tidak bersahabat, karena sudah sangat kentara bahwa Reyhan sedang mode cemburu.
"Wajahnya.. saya merasa tidak asing. Apa kita pernah bertemu?" Gina menggelengkan kepalanya karena memang dia juga baru pertama kalinya melihat pria itu dan menginjakkan kakinya ke sana.
"Benarkah? apa saya salah ya."
"Benar pak Mario, mungkin Anda salah orang, karena dia baru pertama kali ini ke sini."
"Ohh iya pak, mungkin benar saya yang salah."
Aska yang berlarian menuju mereka dengan sebuah payung dan tas kecil yang terdapat permintaan Reyhan tadi.
"Oh ya pak Mario, apa saya boleh meminjam toilet sebentar. Calon istri saya butuh untuk mengganti pakaiannya!" ucap Reyhan dengan nada yang cukup sinis, dan itu dapat Aska rasakan dan pastinya membuat dia ikut tersenyum karena dapat melihat bosnya yang sedang menegaskan bahwa wanita yang ada di sampingnya adalah calon istrinya.
"Silahkan, silahkan. Kalaupun Anda membutuhkan pakaian wanita, saya pun bisa memberikannya, ada di tim wardrobe perusahaan"
"Tidak, terima kasih, saya sudah menyiapkannya. Betul begitu, Gin. Hemm?" Reyhan menoleh pada Gina memberikan senyuman kakunya yang membuat Gina hanya bisa mengangguk pasrah walaupun dia sendiri tidak mengerti arti dari senyuman kaku Reyhan padanya.
"Haha,, baik.. Rupanya anda overprotektif sekali ya," tawa renyah dari pria yang bernama Mario itu. "Bagus, bagus pertahankan itu, Rey" ucap lagi Mario dengan sedikit berbisik pada Reyhan.
"Benar dia sangat mirip Tuan Bram, apa dia keluarganya? kapan-kapan akan aku tanyakan pada Reyhan," batinpria bernama Mario itu.
...****************...
__ADS_1
Mampir juga ke novel teman ku ya...