
Pertemuan hari itu dengan pria paru baya bernama Bram, membuat Gina terus saja mengingatnya, nama yang sama, yang waktu itu disebut oleh Tisha. "Apa dia yang di maksud Tisha?" gumam Gina.
"Gin, kamu ngomong apa?" tanya Rehyan yang samar-samar mendengar gumaman Gina.
Gina segera menggeleng sebagai jawabannya. Reyhan tersenyum begitu lembut melihat calon isrinya yang terlihat sangat cantik dengan balutan kain brukat putih. Ya disebuah butik bernama Ivory lah saat ini Reyhan dan Gina berada.
Ya nenek Sari tiba-tiba menghubungi kedua untuk datang kesana, walaupun Reyhan dan Gina tadinya menolak karena memang mereka sedang sibuk dengan urusan kampus dan kantor. Tapi buknlah nenek Sari namanya jika tidak bisa memaksa mereka.
"Senyum dong! biar tambah cantik!" ucap seseorang yang baru saja masuk ke sana dan teryata itu adalah Nenek Sari.
"Neek... ."
"Selamat datang Madam!" seru semua karyawan menyapa dengan begitu ramah.
"Ya, ya..., mereka tidak merepotkan kalian 'kan?" tanya Nenek Sari pada karyawan butik dan hanya dijawab degan senyuman saja, karena mereka sudah tahu bagaimana sang Madam yang sering membuat guyonan untuk mencairkan suasana.
"Nek, ini untuk apa?" tanya Reyhan.
"Ya untuk acara pertunangan kalian lah, untuk apa lagi!"
"Pertunangan? tapi kan Gina masih sibuk urus skripsinya, Nek," kata Reyhan yang tidak enak dengan Gina karena awalnya ia telah berjanji akan membawa hubungan mereka kejenjang serius ketika Gina lulus.
"Iya Nenek tau, ini hanya feeting saja, begitu Gina selesai ujian Skripsi dan sidang akhir, Nenek akan tentukan hari H-nya. Ya 'kan, Gin? kamu setuju 'kan?" Gina tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan lirih, karena pikirannya tidak singkron, yang saat ini ia terus mengingat wajah pria parubaya yang sangat mirip dengannya itu.
__ADS_1
"Terserah Nenek saja lah," decih Reyhan, Nenek Sari ikut duduk di samping Reyhan lalu menyenggol lengan cucunya itu.
"Cantik 'kan, gadis yang Nenek jodohkan itu padamu?" bisik sang Nenek dengan mengerlingkan matanya ke arah Gina, yang kini sedang ,mencoba beberapa macam gaun cantik itu.
Reyhan melirik ke arah Gina, ya memang tidak salah pilihan sang Nenek untuknya, dia sendiri saja sampai heran pada dirinya sendiri, yang sempat menolak gadis seperti Gina, dan sekarang malah Bucin akut.
Tapi tiba-tiba ia mengingat sesuatu, ya adiknya, Ezza Permana. Yang sempat menjadi rivalnya untuk mendapatkan Gina, bahkan ia sempat kesal pada adik laki-lakinya itu karena terus mengganggu Gina. "Nek, Ezza sudah jarang pulang kerumah ya?" tanya Reyhan, dan sang nenek pun tersenyum lembut karena bagaimana pun, dia sangat mengenal sifat cucu-cucunya itu.
Ya, walaupun Reyhan kerap bersikap cuek juga tegas pada adik-adiknya, tapi Reyhan tetap menyanyangi adik-adiknya itu. "Ya begitu, kemarin sempat pulang tapi beberapa hari ini entahlah, tapi Nenek sudah menghubungi ibunya, dia bilang Ezza sering pulang kesana," jelas sang Nenek yang membuat Reyhan sedikit bernafas dengan lega.
"Syukurlah, Rey hanya takut dia terjerembab ke pergaulan yang tidak benar, Nek." Sang nenek mengusap lengan kekar cucunya, karena dia dapat mengerti kalau Reyhan memang mengkhawtirkan masa depan adiknya.
"Maaf Madam, mengganggu waktunya. Ini hasil feeting, silahkan..." Pegawai butik memberikan beberapa potret Gina dengan gaun yang berbeda-beda. Sang Nenek memperhatikan satu persatu dengan seksama, seraya berkata.
"Sebenarnya semua ini bagus, tapi ada yang kurang," celetuk Nenek Sari.
"Senyumnya." Nenek Sari mengangkat pandangannya ke depan, tepatnya ke arag Gina yang baru saja melepaskan gaun terakhirnya yang ia coba.
"Gin?" Gina menoleh mendengar panggilan nenek dari calon suaminya itu.
"Iya, Nek?"
"Kemarilah!" Gina pun mendekat setelah mengikat rambutnya tinggi-tinggi.
__ADS_1
Gina duduk di sofa samping Nene Sari, menatapnya penuh tanya.
"Rey, ambilkan tas Nenek dimobil, Nenek lupa membawanya."
Reyhan mengangguk dan berlalu pergi, sebenarnya dia tau itu hanya sebuah alasan karena sesungguhnya sang Nenek hanya ingin berdua saja dengan Gina yang pastinya ada sesuatu yang akan dibicaraknnya. Tapi walaupun begitu dia tetap pergi, dan melirik ke pegawai butik lalu memberikan sebuah isyarat agar pergi juga dari sana untuk memberikan ruang sang nenek dan Gina.
Setelah memastikan tidak ada orang selain mereka berdua, Sari pun segera memulai pembicaraannya.
"Gin, cucu ku..., are you oke, baby?"
Mendengar pertanyaan yang keluar dari wanita tua, yang sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri, tentu hatinya tiba-tiba menghangat. Sesuatu yang sesak seakan ingin sekali ia bebaskan, air matanya pun terus mendesak keluar tapi tetap berusaha ia tahan.
"I'm oke, Nek," jawab Gina dengan suara yang bergetar.
"Sayang, sekarang kamu itu tanggung jawab Nenek, kamu cucu Nenek. Apa tdak mau berbagi apapun pada Nenek?" Mendengar itu tentu pertahanan Gina pun runtuh yang akhirnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos juga.
"Jika ingin menangis, menangislah! jangan pernah takut dianggap cengeng hanya karena menangis. Tanpa kamu tunjukan pun, Nenek tahu kalau kamu adalah gadis yang kuat." Gina pun menangis di pundak nenek Sari.
Wanita menangis bukan karena lemah, namun karena telah lelah berpura-pura tersenyum meski hatinya terluka. Seorang wanita yang kuat tahu bagaimana menjaga hidupnya agar tetap sejalan. Dengan berlinangan air mata, dia masih bisa berkata, 'Tidak, aku baik-baik saja'.
TBC>>>>>>>>>>...
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Mampir ke novel teman ku jug ya guys...