Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 16


__ADS_3

Suara deheman memecah obrolan kedua remaja yang akan menginjak usia dewasa itu, siapa lagi kalau bukan Gina dan Eza.


Ya nenek Sari mendatangi mereka yang sedang asik bersenda gurau di halaman belakang rumah, dengan tongkat di tangannya sebagai penopang di saat ia berjalan, nenek Sari tersenyum lembut kepada Gina.


''Anak nakal, rupanya disini kalian,'' ucap nenek Sari dengan gaya bicaranya.


''Nenek mencari kita?'' tanya Eza dan di iyakan oleh neneknya.


''Eza, tolong nenek ya. Antarkan Renita kembali ke asrama nya, karena besok akan ada ujian di sekolah nya,'' perintah nenek Sari pada Eza, cucunya.


Karena tidak bisa membantah perintah dari sang nenek, Eza pun mengiyakan-nya dan berpamitan pada Gina untuk pergi sebentar.


Seperginya Eza, nenek Sari menoleh ke arah Gina yang terlihat seakan tidak ingin Eza pergi. Dengan mencari topik lain, nenek Sari pun berkata, ''Panggil Mas-mu, ajak dia makan. Karena sedari siang dia belum sempat makan karena sibuk dengan tamu-tamu,'' ucapan nenek Sari membuat alis mata Gina terangkat.


''Mas mu? siapa yang di maksud nenek,'' gumam Gina dalam hatinya.


''Emmm siapa nek?'' tanya Gina dengan sungkan.


''Ya mas mu siapa lagi, Reyhan!'' jawab nenek dengan suara sedikit keras.


''Oh pak Reyhan,'' celetuk Gina yang langsung mendapatkan pukulan pelan dari tongkat nenek Madam.


''Memangnya kau pikir dia itu bapak kau, panggil dia Mas!'' omel nenek Sari yang kemudian pergi meninggalkan Gina yang sedang menahan sakit di bagian bekas pukulan sang nenek.


''Diih, Mas? hissshhhh,, macam tukang sol sepatu langganan ku,'' Gina tertawa cekikikan karena nenek Sari yang menyuruhnya untuk merubah panggilan nya pada Reyhan.

__ADS_1


''Heemmn, baik kalau begitu, Maass Reyhan dimana kamu... .'' Seakan merasa aneh karena panggilan itu, Gina terus saja mentertawakan panggilan nya pada Reyhan.


Gina terus berkeliling mencari keberadaan Reyhan, semua pintu ia buka. Dari ruangan baca, studio musik milik Eza, kamar yang entah pemiliknya siapa dan ada banyak lagi pintu-pintu yang turut dibuka oleh Gina hanya untuk mencari keberadaan Reyhan.


''Haaahh,, ini rumah apa gedung kampus sih, banyak sekali pintu,'' gumamnya lelah. Dan saat Gina akan membuka sebuah pintu yang ternyata memang itulah kamar Reyhan, tanpa mengetuk terlebih dahulu Gina masuk begitu saja dan teriakan keras keluar dari mulutnya juga dari seseorang yang mungkin saja pemilik kamar tersebut.


Aaaaaaaakkkhhhhhhhhh!!!!!!!


''Jabang bayi! belut sawah!'' teriak Gina yang langsung membuang pandangan ke arah lain.


''Hei, kamu ini apa-apaan, kenapa masuk ke kamar orang seenaknya!'' bentak seseorang yang ternyata adalah Reyhan, yang kebetulan baru saja selesai mandi dan akan mengenakan pakaian. Dengan kata lain saat ini Reyhan hanya menggunakan handuk yang baru saja ia pungut dari bawah, ya handuknya terjatuh berbarengan teriakan dari Gina.


''Maaf, maaf. Saya tidak tahu kalau ini kamar pak Reyhan,'' ucap Gina di balik telapak tangan yang menutupi seluruh wajahnya.


''Ck, dasar tidak tahu malu, jangan mencari alasan! keluar!!!'' bentak Reyhan lagi namun bentakan ini berbeda dari biasanya, ya bentakan Reyhan kali ini bentakan keras dan kasar.


Syok, ya dia syok dengan apa yang di lihatnya, tubuh yang atletis di tambah Reyhan yang tak memakai pakaian. Astaga!! ini rezeki nomplok atau kesialan, gumam Gina dalam hatinya.


Sungguh, Gina tidak dapat menghilangkan bayang-bayang tubuh yang perfek itu terlebih ada buliran air yang menambah kesan **** pada Reyhan.


''Hisshhh,, kenapa jadi begini.'' Gina terus berjalan kesana-kemari karena masih merasa gugup, bunyi pintu yang di buka pun membuat ia terkejut bukan main karena efek dari rasa gugupnya.


Wajahnya yang merah, dan tangannya yang ia satukan di belakang tubuhnya, Gina pun berusaha berbicara pada sang pemilik kamar dengan setenang mungkin.


''Ada apa kau kemari?'' tanya Reyhan dengan raut seperti biasanya.

__ADS_1


''Emmm anu Pak, Emmm,, nenek menyuruh ku memanggil mu untuk makan,'' jawab Gina dengan gugup.


Tanpa menjawab, Reyhan melewati Gina begitu saja dan meninggalkan Gina yang membeku di tempatnya. Namun setelah beberapa saat ia terdiam membeku, Gina pun tersadar dan berjalan mengikuti langkah Reyhan dari belakang.


Di ruang makan, tidak ada orang satupun di sana, yang ada hanya hidangan yang masih mengepulkan asap halnya seperti masakan yang baru saja matang. ''Kemana semua orang?'' gumam Reyhan.


''Enggak tau,'' jawab Gina dengan tiba-tiba dan membuat Reyhan terkejut lagi karena mengira dia hanya sendirian.


''Bisa tidak, jangan muncul tiba-tiba begitu,'' omel Reyhan Lagi.


Gina dan Reyhan duduk dengan berjauhan, dan memulai makan tanpa adanya perbincangan. Benak Gina sangat ingin mencari topik pembicaraan namun ia bingung harus di mulai nya dari mana karena sifat Reyhan yang terlewat kaku.


''Kalau kamu tidak nyaman, saya bisa pindah tempat makannya,'' ujar Reyhan yang membuat Gina tersedak makanan nya sendiri.


''Eeehh, enggak Pak, sungguh…'' cegah Gina.


Mereka terdiam kembali dan tiba-tiba Reyhan pun berujar.


''Bagaimana kuliah mu?''


''Lancar…''


''Lalu?''


''Hah? apa ya? ya lancar, apa lagi?'' dengan polosnya Gina menjawabnya, karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan ia katakan sebagai jawaban nya.

__ADS_1


''Dia kaku sekali, persis kanebo kering, beda banget dengan adiknya,'' ucap Gina dalam hatinya.


__ADS_2