
''Kenapa kakak membawa Gina tapi malah meninggalkan nya di pinggir jalan?''
''Oh soal gadis menyebalkan itu,'' gumam Reyhan dengan malas dan duduk di kursi kerjanya.
''Kak! aku sedang bertanya!'' ucap Eza dengan nada ya g sedikit lebih tinggi.
''Turunkan nada bicara mu!''
''Kak, kakak tidak boleh seenaknya pada Gina, kalau kakak memang tidak menyukainya, kakak batalkan saja perjodohan itu, tidak perlu menyakiti Gina begitu.'' Yang semula Reyhan mengabaikan ucapan Eza seketika menoleh karena mendengar ucapan terakhir Eza.
''Manyakitinya?''
''Ya! apa yang kakak lakukan? sampai-sampai dahi Gina lebam begitu?'' tanya Eza lagi dan Reyhan pun terdiam mengingat kembali kejadian sebelumnya.
''Apa karena aku menginjak pedal rem dengan tiba-tiba dan membuatnya terluka,'' gumam Reyhan dalam hatinya.
''Apa? apa kakak sudah menyadari kesalahan kakak?''
''Karena gadis itu kau tidak lagi menghargai kakak, aku akan buat perhitungan padanya.''
''Berani kakak menyakitinya lagi, aku pastikan kakak akan menyesal,'' ancam Eza.
Mereka saling terdiam dengan saling menatap tajam, hanyut oleh pikiran nya masing-masing, tidak pernah Eza berontak seperti ini sebelumnya, dan kali ini bahkan Eza berani mengangkat kepalanya untuk membentak Reyhan, kakaknya sendiri.
Ada apa dengan Eza, kenapa Eza se-khawatir itu pada gadis yang menurut Reyhan, gadis yang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya. Dan tidak aneh bagi Eza kalau kakak nya bersikap kasar begitu pada semua orang terkecuali dengan neneknya, tapi kalau sampai menyakiti fisik apalagi pada seorang perempuan, Eza belum pernah mendengar nya.
Keheningan antara kedua kakak beradik itu menandakan kalau mereka sedang saling merajuk, Reyhan yang marah karena kelancangan adiknya dan Eza yang marah karena Reyhan telah kasar pada Gina, yang sudah menjadi temannya.
Krekkk!
__ADS_1
Suara pintu terbuka tanpa adanya ketukan, sebuah kepala muncul yang tidak lain adalah Gina, yang berniat untuk memeriksa keadaan ruangan itu, dengan memamerkan gigi putih nya Gina pun masuk ke dalamnya, Reyhan dan Eza yang sudah menoleh hanya diam dengan meneruskan saling menatap bagaikan peperangan belum usai.
''Eemmm anu, itu-'' ucap Gina yang tidak tahu harus berbicara apa pada kedua pria yang ada di depannya itu.
Saat ini Gina berdiri di antara kedua laki-laki yang berbeda karakter tersebut, tangan Reza tiba-tiba menarik Gina agar berdiri di sisinya namun Reyhan yang tak mau kalah menarik kembali Gina agar berpindah dari Eza dan berdiri di sampingnya.
''Dia teman ku, harus berada di sisi ku,'' ucap Reza yang sudah menarik kembali Gina.
''Dan kau lupa, dia ini calon istri kakak, yang berarti calon kakak ipar mu,'' sahut Reyhan yang kembali menarik Gina.
Gina bagaikan barang yang terus menjadi rebutan antara kedua anak-anak laki-laki, dan akhirnya karena tidak mau berpihak pada siapapun, Gina memutuskan untuk berdiri jauh dari keduanya.
''Kalian seperti anak kecil,'' sindir Gina dengan ketus.
Reyhan menatap tajam ke arah Gina, dan matanya menangkap sesuatu yang ada di kening Gina, Reyhan memicing memperjelas penglihatannya, dan ternyata benar apa yang di katakan Eza kala Gina terluka karena ulahnya.
Reyhan melangkah perlahan ke arah Gina karena ingin lebih jelas melihat luka lebam itu, Reza yang melihat kakaknya berjalan ke arah Gina, menduga kalau kakaknya akan berbuat kasar lagi terhadap Gina.
''Diam di tempat mu, kakak tidak akan bermain-main lagi.'' Ancam Reyhan dengan tatapan yang benar-benar menandakan kalau ucapannya bukanlah sebuah bualan semata.
Merasa takut akan ancaman Reyhan akhirnya Eza pun mundur satu langkah dan berdiri beberapa meter dari Reyhan dan Gina yang sudah berdiri saling berhadapan.
Tangan besar Reyhan mengulur ke arah kening Gina, gadis 19 tahun itu hanya bisa memejamkan matanya sesaat karena takut Reyhan akan menambahkan luka lebam lagi pada kening nya.
Namun tidak! Gina tidak merasakan sakit, yang dia rasakan adalah sensasi dingin dari jari tangan Reyhan yang mengusap lembut luka lebam itu, ''Maafkan saya, saya tidak sengaja.'' Ucap Reyhan dengan pelan namun tetap dengan nada yang dingin dan kaku.
Gina hanya diam dengan mendongak ke atas melihat wajah Reyhan yang tentunya berada di atas kepala nya, yang memang tinggi mereka jauh berbeda yang mengharuskan Gina mendongak untuk melihat wajah Reyhan lebih jelas saat mengatakan 'maaf'.
''Tidak terlalu buruk,'' gumam Gina dengan sangat pelan namun masih terdengar oleh Reyhan dengan samar-samar.
__ADS_1
''Apa? kau mengatakan apa?'' tanya Reyhan.
''Aaah tidak, kalau begitu aku pamit, kalian lanjutkan saja perdebatan kalian, he he he.'' Dengan wajah yang memerah Gina sudah berbalik dan bersiap untuk melangkah pergi, namun langkahnya seakan tidak bisa maju ke depan karena ada yang menahannya dan ternyata kerah bajunya saat ini di tahan oleh tangan Reyhan.
Kepalanya ia tolehkan untuk melihat benda apa yang menyangkut di kerah bajunya, dan ternyata benda itu adalah tangan besar Reyhan. ''Mau kemana kamu?''
''Aku, aku mau pergi bekerja, lepaskan tanganmu itu,'' jawab Gina.
''Kau, keluar! Kalau tidak kartu kredit mu akan kakak tarik kembali,'' ancam Reyhan pada Eza yang ia tebak bukanlah hanya sebuah ancaman semata.
''Kakak enggak asik, bisanya hanya mengancam,'' ucap Eza yang kemudian berlalu namun terhenti di dekat Gina.
''Hati-hati ya, maaf aku tidak bisa membantu mu dari buasnya macan liar,'' ucap Reza yang berlari keluar setelah mengucapkan itu pada Gina.
''Sial, Eza tidak bisa di andalkan.'' Gumam Gina dengan kesal.
''Kamu tahu 'kan kalau Reza tidak bisa di andalkan,'' sindir Reyhan yang sudah melepas tangannya dari kerah baju Gina dan kembali ke kursinya.
''Kamu menahan ku disini untuk apa?'' tanya Gina yang sudah berjalan ke arah sofa yang letaknya lumayan jauh dari kursi Reyhan.
''Ambil salep di laci sana,'' tunjuk Reyhan pada sebuah meja nakas yang ada di samping sofa.
Gina menoleh ke arah dimana Reyhan menunjuk dan menggeser posisi duduknya untuk meraih laci yang di tunjuk Reyhan. ''Ini..''
''Pakai,'' sahut Reyhan yang menyuruhnya memakai sendiri ke luka lebamnya.
Gina hanya diam menatap salep dan Reyhan secara bergantian, merasa aneh dengan sikap Reyhan yang kaku namun ada sedikit rasa bersalahnya, mungkin..
''Kenapa diam? apa kamu berharap kalau saya akan memakaikan nya untuk mu, Ck..terlalu percaya diri itu tidak bagus,'' ejek Reyhan pada Gina yang bahkan tidak sama sekali berpikiran seperti apa yang di duganya.
__ADS_1
''Tidak sadar kalau dia yang terlalu percaya diri,'' gerutu Gina yang sedang membuka menutup salep dan memakainya.