Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 22 - Sikap Lain Reyhan


__ADS_3

"Perkenalkan, dia calon istri saya."


Gina membelalakkan matanya, menatap tajam wajah Reyhan yang bahkan berbicara santai dan lantang. Memperkenalkan dirinya sebagai calon istri dirinya pada calon rekan bisnisnya itu.


Tersenyum dengan tipis dan menatap lembut pada Gina yang seketika merasa gugup karena senyuman Reyhan.


Pak Nino Fernandez, ya nama itu yang Gina dengar saat Reyhan menyebut calon rekan bisnisnya. Dengan wajah menunjukkan keramahan Tuan Nino Fernandez mengulurkan tangannya pada Gina namun ketika Gina akan menyambut jabatan tangan lelaki itu, Reyhan langsung menyambar tangan Nino untuk menggantikan tangan Gina.


Entahlah, apa itu hanya sebuah akting di depan rekan bisnisnya karena menjaga image nya agar terlihat nyata dengan apa yang ia katakan, atau mungkin itu memang dari hatinya. Nino Fernandez tertawa canggung ketika tangannya yang menunggu Gina malah Reyhan sendiri yang menggantikan nya.


"Hahah.. rupanya pak Reyhan ini sangat posesif ya.." ujar lelaki itu mencairkan suasana.


Reyhan hanya sedikit tersenyum dan Gina masih dengan raut wajah yang penuh tanda tanya atas apa yang di lakukan Reyhan.


Pertemuan itupun usai, lelaki yang sudah sah menjadi rekan bisnis Reyhan, berpamitan pulang dengan sekertaris pribadinya. Dan tinggalah hanya mereka berdua, ya staff yang membawa mobil Reyhan sudah di minta olehnya untuk pulang lebih dulu. "Mari.." ucap Reyhan pada Gina agar segera masuk ke dalam mobil, namun tidak sama sekali Gina tanggapi, ia hanya diam di tempatnya dengan terus menatap Reyhan dan bukan Reyhan tidak tahu arti dari tatapan itu.


"Masuklah dulu, saya tahu kamu banyak pertanyaan untuk saya kan?" tebak Reyhan dan Gina pun masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintu nya olehnya.


Reyhan menginjakkan kakinya pada pedal gas dengan sangat hati-hati, bahkan sebelum ia benar-benar melajukan mobilnya, ia memastikan terlebih dahulu kalau Gina sudah benar memasang seat belt dan duduk dengan nyaman.


Tidak! ini bukan jalan arah pulang ke rumah sang nenek ataupun kembali ke kantor, melainkan stir mobil itu belok ke arah pinggiran kota yang di mana, di sanalah tempat pemakaman umum ibu Gina dikebumikan..


Gina semakin di buat bingung oleh Reyhan, tapi lelaki itu tidak sama sekali membuka mulutnya untuk menjelaskan sebenarnya untuk apa mereka ke sana.

__ADS_1


"Pak! kenapa kita kesini?" tanya Gina terpaksa.


Reyhan menoleh dan tersenyum getir, entah apa arti senyuman itu, tapi yang pasti arti senyuman itu mengartikan kalau ia tidak terlalu menyukai panggilan itu untuk nya.


Menghentikan laju mobilnya dan turun dari sana kemudian berputar untuk membukakan pintu untuk Gina, lalu memintanya untuk turun saat itu juga. Tanpa rasa canggung pun Reyhan menggandeng tangan Gina berjalan melewati makam-makam yang berjejer rapih menuju satu makam yang sudah pastinya makam itulah tempat peristirahatan terakhir sang ibu dari Gina.


Reyhan melepaskan pegangan tangan nya setelah sampai di sana, Gina berjongkok setelah memberikan salam pada makam ibunya dan diikuti oleh Reyhan yang juga ikut berjongkok di samping Gina.


"Pak? kenapa -"


Ucapan Gina terpotong karena Reyhan yang menyambar nya untuk berbicara pada makam ibu dari Gina, dan betapa terkejutnya Gina saat mendengar penuturan Reyhan pada saat itu.


"Bu? saya kembali ke sini lagi, dengan bertujuan untuk meminta restu langsung pada anda untuk menyunting anak ibu untuk menjadi istri saya."


Bahkan Reyhan membawa sekeranjang kelopak bunga mawar pun Gina tidak menyadari itu, apa karena ia terkesima dengan sikap Reyhan yang menggandeng tangan nya kala itu, sehingga tidak menyadari kalau tangan lain Reyhan membawa sekeranjang kelopak bunga mawar untuk di taburi di atas makam sang ibunda.


Reyhan berdiri lalu memberikan tangannya untuk membantu Gina agar berdiri juga. Gina menyambut tangan Reyhan dan berdiri di sampingnya. Menatap dengan tatapan nanar dan Reyhan pun begitu.


"Apa maksud dari perkataan mu itu?" tanya Gina begitu lirih.


"Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan memutuskan hubungan kita ini," lanjutnya, tapi Reyhan hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya pada gundukan tanah tempat ibu Gina beristirahat dengan tenang.


"Lihatlah Bu, anak anda sangat keras kepala! nakal bukan? seperti apa yang ku katakan tempo hari itu," ujar Reyhan pada makan ibu Gina.

__ADS_1


Alis Gina mengernyit heran, ada apa dengan sikap Reyhan saat ini? bahkan Reyhan yang ia kenal dengan sikap dingin dan kaku yang seperti ia tahu, dalam sekejap sikap itu sirna dengan berganti sikap hangat.


"Pak?"


"Jujur, saya lebih senang dengan panggilan mu pada saat di depan kantor tadi," potong Reyhan.


Reyhan menghela nafasnya kasar dan mengusap rambut Gina dengan sedikit kasar seraya berkata, "Tapi tidak apa-apa, mungkin nanti akan berubah secara perlahan. Aku memakluminya," tuturnya.


Tangan Gina merapikan rambut yang sedikit berantakan karena ulah Reyhan. Masih dengan alis yang mengeriting heran, Gina pun berniat untuk bertanya lagi namun dengan cepat Reyhan mencegahnya dengan menaruh telunjuknya pada bibir ranum Gina.


"Dengan kedatangan mu ke kantor, yang pastinya untuk menemui saya. Saya anggap itulah jawaban mu atas apa yang aku katakan tempo hari," ucap Reyhan dengan percaya dirinya.


"Kita pulang ke rumah untuk berbicara pada nenek," sambungnya yang kemudian langsung menggandeng tangan Gina setelah berpamitan pada makam sang ibu dari Gina menuju mobilnya yang terparkir di luar pagar pemakaman.


Jika saja Gina bisa melihat dirinya sendiri, mungkin saja ia rasa malunya akan bertambah berkali-kali lipat karena saat ini wajah Gina memang sudah memerah karena malu atas tebakan Reyhan karena dirinya yang datang ke kantor memang untuk menemui nya.


Sesampainya di kediaman keluarga besar nenek madam, Reyhan dan Gina pun turun dari mobil, dan secara kebetulan seorang lelaki keluar dari sana yang tak lain adalah Eza adik dari Reyhan itu sendiri.


Lelaki yang usianya sama dengan Gina itu, kini menatap kedatangan mereka dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Gina berjalan dengan terus menundukkan kepalanya yang pastinya berbeda dengan Reyhan yang bahkan berjalan dengan kepala yang terangkat dengan gagahnya.


Memberikan senyuman yang penuh arti pada Eza dan berdiri tepat di hadapannya dengan tangan yang tiba-tiba menggenggam tangan Gina, yang saat itu kelabakan karena tindakan tiba-tiba dari Reyhan.


"Apa nenek ada di rumah?" tanya Reyhan yang entah memang hanya sekedar bertanya atau menyimpan maksud lain dari itu, hanya Reyhan lah yang tahu akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2