Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 11


__ADS_3

''Pak, kenapa anda yang membawa mobil Eza?''


''Ini juga mobil saya, saya yang membelinya, Eza hanya menggunakannya saja.'' Jawab Reyhan dengan ketus.


''Ck, sombong!!'' celetuk Gina tapi tidak ada tanggapan dari Reyhan.


Tidak ada lagi obrolan karena memang seperti biasanya, saat Gina bersama Reyhan, Gina menjelma menjadi wanita pendiam, berbeda saat dengan Eza, Gina akan menjadi wanita yang aktif, ceria dan juga cerewet.


''Saya tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan, tapi apa kamu sadar karena kedekatan kalian, kalian justru di gosip kan dengan semua orang yang ada di kampus,'' ucap nya tiba-tiba.


''Gosip? gosip apa, berpacaran begitu?'' sahut Gina tapi Reyhan hanya diam mendengarkan.


''Aku tidak masalah di gosip kan seperti itu, karena memang aku tidak peduli,'' lanjut Gina. Mendengar ucapan Gina, Reyhan tiba-tiba menginjak pedal rem dengan mendadak sehingga membuat suara decitan dari ban mobil yang di paksa untuk berhenti mendadak terdengar sangat menyakitkan telinga.


Dugh!


Karena Reyhan yang mengerem mendadak, Gina yang tidak menggunakan seat belt sehingga membuat nya terpentok dashboard mobil dengan sedikit keras dan menyisahkan lebam di kening Gina.


Aaauuuuuu


''Sakit, Pak!!'' teriak Gina yang spontan karena terkejut.


''Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan tadi?'' tegas Reyhan dengan wajah yang memerah.


''Apa? oh, ya. Sangat sadar, aku memang tidak pernah mau peduli dengan apa yang orang lain katakan,'' jawab Gina dengan keras.


''Kamu sadar kamu ini siapa?''


''Saya? ya Gina, kenapa memangnya?''


''Kamu itu calon istri saya, ingat itu!'' bentak Reyhan yang sudah tidak bisa lagi membendung amarahnya dan meluapkan nya pada Gina, yang terkejut karena mendapatkan bentakkan Reyhan.


''Calon istri? ya calon istri yang di jodohkan, 'kan. Tapi apa anda melupakan perjanjian kita dulu, kalau di antara kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing 'kan!!''

__ADS_1


Reyhan menatap tajam tepat di netra Gina, lama mereka saling menatap dengan tajam dan akhirnya Reyhan pun membuang pandangannya ke depan dan begitu juga Gina.


''Turun!'' ucap Reyhan dengan suara tertahan.


''Apa? turun, di sini?'' Gina memperhatikan sekeliling nya yang memang mereka berada di sebuah jalan raya bahkan yang sangat jarang sekali di lewati mobil angkutan umum maupun sebuah taxi sekalipun.


''Turun!!!'' ucap Reyhan lagi namun kali ini Reyhan membentaknya dan bisa di bilang mengusirnya keluar dari mobil dengan sangat kasar.


Karena tersulut emosi, Gina pun turun dari dalam mobil dan membanting pintu dengan keras, dan dengan teganya Reyhan melajukan mobilnya meninggalkan Gina yang berdiri di pinggir jalan yang sepi dengan lebam di keningnya.


Gina melangkah dengan kaki yang sesekali menendang ke udara dan menendang apapun yang ada di depan nya dengan kesal.


''Reyhan brengsek, Reyhan arogan! tega sekali dia meninggalkan wanita di jalan sepi begini.'' Gina terus memaki Reyhan di sepanjang langkahnya.


''Aku berharap meteor jatuh menimpa dirinya,'' umpat nya lagi.


Matanya terus mencari kendaraan yang lewat namun saat ada beberapa yang lewat tidak ada yang mau berhenti meskipun ia sudah berteriak meminta tumpangan.


''Sial, sial, sial. Awas kau pria kasar, aku akan membalas mu suatu hari nanti.'' Gina terus melangkah sampai ke persimpangan jalan raya yang sudah lumayan ramai akan kendaraan.


''Gin?'' panggil seseorang yang tidak asing lagi yang ternyata adalah Eza yang masih memakai mobil Reyhan.


Eza yang melihat Gina terduduk lemas di pinggir jalan segera menghampirinya karena yang dia tahu kalau Gina sedikit bersama Reyhan tapi kenapa saat ini ia melihat Gina di tepi jalan dengan wajah yang lusuh.


''Lu ngapain disini? dimana kakak?''


''Kakak lu mati ketimpah meteor,'' ucap asal Gina karena sudah terlanjur kesal.


''Kalian bertengkar?'' tebak Eza dan segera di angguki Gina.


''terus dimana kak Reyhan?''


''Tau ah! Za, tolong beliin air minum ya, gue haus banget.''

__ADS_1


Eza pun segera pergi tapi tidak untuk membelinya karena ia melihat ada botol air di dalam mobil kakaknya, dan segera memberikannya pada Gina yang langsung di tenggak habis oleh nya.


''Kayak habis jalan jauh aja lu, Gin,'' ledek Eza yang belum tahu kalau memang Gina habis berjalan jauh karena ulah kakaknya.


Tuukk!


Gina memukul kepala Eza dengan ujung botol air yang sudah kosong itu. ''Kakak lu nurunin gue di jalan bawah jembatan layang sana, bagaimana enggak haus coba,'' omel Gina dengan lantangnya.


Eza mengikuti arah tunjuk Gina, matanya terbelalak tidak percaya, kakak nya bisa setega itu. 'Bukannya kakak yang ngotot membawa Gina, tapi kenapa Gina bisa sampai di turunkan di pinggir jalan.' batin Eza.


''Kok bisa, pasti ada sesuatu yang buat dia kesal,'' belum Gina menjawabnya, mata Eza melihat sesuatu di kening Gina yang tertutup oleh poni Gina dan tangannya menyingkirkan poni itu. Matanya mengernyit heran karena setahu dia saat tadi Gina dengan nya tidak ada luka lebam di dahinya.


''Apa ini juga ulah kak Reyhan?'' tanya Eza dan di angguki Gina, tanpa berkata apa-apa, Eza segera menarik tangan Gina dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil, lalu melesat dengan cepat sehingga membuat Gina kebingungan karena tingkah Reza.


''Wooy, Za! pelan-pelan dong,'' teriak Gina tapi tidak ada tanggapan dari Eza, wajah Eza yang biasa nya terus tersenyum dengan ramah tapi tidak dengan kali ini, wajah ya memerah seperti sedang menahan amarah.


Sesampainya ia di gedung perkantoran yang Gina tahu kalau itu tempat Reyhan bekerja, Eza menghentikan roda mobilnya di pelataran kantor dan turun tanpa mengucapkan apapun pada Gina yang masih di dalam mobil yang bahkan kontak mobil nya masi tergambar di tempatnya.


'Kenapa ekspresi Eza jadi seram begitu,' gumam Gina sambil mengusap dahinya yang terasa sakit karena benturan tadi.


Eza melangkah dengan langkah yang lebar, beberapa sapaan tidak ada satupun yang ia sahut seperti biasa nya dan membuat karyawan yang sudah terbiasa dengan keramahannya mendadak heran.


''Ada apa dengan mas Eza, tidak seperti biasanya dia begitu,'' bisik salasatu karyawan kantor pada temannya.


Tanpa mengetuk dulu, Eza masuk begitu saja ke ruangan Reyhan yang kebetulan ada seorang pria yang sepertinya rekan kerjanya.


Reyhan menatap Eza dengan tajam dan begitu pun dengan Eza yang tidak sama sekali menurunkan pandangan dari mata Reyhan.


''Kau keluar dulu, sepertinya adik ku perlu didikan lebih,'' ucap Reyhan pada rekan kerjanya.


''Baik Pak,'' jawabnya, lalu keluar meninggalkan adik dan kakak yang sepertinya akan ada perdebatan serius karena di lihat dari tatapan mereka yang seperti menyiratkan sebuah peperangan.


''Apa kamu tidak lagi memiliki rasa sopan santun yang sudah di ajarkan nenek pada mu?'' tanya Reyhan dengan sindiran keras.

__ADS_1


''Jangan mengajarkan ku soal sopan santun, kakak juga tidak menerapkan nya 'kan?'' jawab Eza dengan bertanya balik pada kakaknya.


''Apa maksud mu?''


__ADS_2