Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 15


__ADS_3

Di sudut kolam renang, di sebuah bangku panjang, Gina duduk seorang diri dengan menatap keramaian orang-orang yang sedang menikmati pesta.


Sebuah sepasang kaki dengan sepatu pantofel berwarna putih mendekat dan berhenti di samping bangku, Gina yang merasa ada seseorang yang datang pun menoleh.


Helaan nafas pelan keluar dari hidung mungil Gina dan seraya berkata,''Ada apa Pak?'' ucapnya dengan malas.


Pak? ya, Reyhan bagi Gina pria yang jauh lebih tua dari nya dan lebih pantas di panggil dengan sebutan itu, pak Reyhan.


''Kenapa kau malah menyendiri disini?'' tanya Reyhan.


''Tentu karena aku tidak mengenal mereka. Dan! aku bingung mau apa disini,'' jawabnya.


Helaan nafas terdengar lagi namun bukan berasal dari Gina, tetapi dari Reyhan yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Gina yang semakin bingung di buatnya karena sikap Reyhan itu sendiri.


''Fiks, dia benar-benar manusia aneh, datang seperti angin, pergi seperti hantu,'' gumam Gina menatap bingung kepergian Reyhan.


''Heiiii…! bicara sendiri, kesambet, mau?'' Eza yang datang mengejutkan Gina.


''Eza, kebiasaan banget.'' Eza pun tertawa puas karena melihat Gina yang terkejut karena nya.


Eza duduk di bangku tepat samping Gina, dan merekapun berbincang-bincang dengan seru seperti biasanya. Seseorang dapat melihat itu dengan jelas, raut wajah yang menahan kesal melihat kebersamaan Gina dan Eza, tangannya yang sedang memegang gagang gelas terkepal kuat.


Detak jantung nya berdetak kencang, ''Ada apa ini, kenapa saya melihat mereka tertawa bersama, jadi kesal begini?'' gumam seseorang.


***


Acara pesta yang entah merayakan apa itu, telah usai. Keluarga Permana termaksud Gina sedang berkumpul di ruang keluarga yang luas itu.

__ADS_1


Nenek Madam, panggilan nenek Sari itu, sejak tadi tertawa terbahak-bahak karena tingkah dari seorang anak kecil, cucu dari sepupunya yang juga datang ke pesta itu.


''Andai saja cucu ku juga bisa memberikan ku cicit selucu Airin,'' ucap nenek Sari tiba-tiba dan membuat Reyhan yang merasa dirinya tersindir dari ucapan neneknya merasa gerah.


''Saya ke kamar sebentar,'' kata Reyhan yang sudah melepaskan satu kancing bajunya dan berlalu pergi dari sana.


''Dia selalu saja begitu,'' gerutu nenek Sari.


''Emmm nek, aku izin membawa Gina ya untuk jalan-jalan berkeliling rumah,'' ucap Eza juga dengan tiba-tiba, dan langsung menarik tangan Gina tanpa menunggu jawaban dari nenek nya.


Gina yang tangannya di tarik hanya menurut mengikuti kemana Eza membawanya, semua anggota keluarga turut memperhatikan bagaimana Eza memperlakukan Gina, gadis sederhana itu.


''Sendal jepit yang di hias dengan indah pun tetap akan menjadi sendal jepit,'' celetuk seseorang yang sebaya dengan nenek Sari.


''Kak, apa tidak ada lagi gadis di dunia ini yang pantas dengan cucu mu?'' tanya wanita tidak pada Nenek Sari.


''Memangnya kenapa?''


''Ya siapa yang bilang, dia akan berubah menjadi orang lain, memang Gina ya tetaplah Gina, gadis lincah dan nakal,'' jawab nenek Sari sekenanya.


''Attitude dan asal usul gadis yang akan menjadi anggota keluarga kita itu harus jelas kak, harus terlihat baik.''


''Gina baik kok, walaupun memang agak berbeda,'' sahut nenek Sari lagi.


''Apa aku harus mencarikan gadis yang jauh lebih baik kak?''


''Tidak perlu, Gina itu berbeda, ada sesuatu yang membuat ku tertarik dengannya. Dan itu tidak kalian sadari,'' ucap Nenek Sari dengan tegas yang kemudian pergi meninggalkan keluarga besar itu di ruangan keluarga.

__ADS_1


Ya, tidak sedikit orang yang menentang kehadiran Gina di tengah-tengah keluarga besar itu, hanya nenek Sari lah yang mendukung adanya Gina di tengah-tengah mereka.


Karakter nenek sari adalah seorang wanita yang sangat tidak suka kehendaknya di tentang siapapun, sekalipun itu adik sepupunya, dia sudah menduga kalau anggota keluarga lainnya tidak akan menyukai adanya Gina, karena gadis itu bukanlah berasal dari keluarga kaya, seperti kriteria keluarga mereka.


Tapi ini adalah nenek Sari orang tertua dari keluarga besar itu, dan mereka pun tahu betul kalau nenek madan tidak akan menarik ucapannya, ataupun melepaskan sesuatu yang sudah dikehendaki nya.


''Oh ya, kalian bisa pulang sekarang, pesta juga sudah selesai!'' ucap nenek Sari dengan lembut walaupun arti dari ucapannya adalah mengusir secara halus. Sungguh ber damage sekali nenek Sari ini.


Dengan perasaan yang kesal dan juga kecewa karena telah diusir oleh nenek Sari mereka pun pergi meninggalkan rumah mewah milik pribadi nenek Sari.


Eza yang sedang mengajak Gina berkeliling halaman, sangat senang karena dapat berduaan dengan gadis yang telah mengisi hatinya itu.


Ya tidak dapat dipungkiri kalau memang Eza menaruh hati pada gadis sederhana dan tomboy itu.


'' Za, gue buka ya sepatu nya,'' ucap Gina yang merasa tidak nyaman dengan sepatu berhak itu.


''Ya buka aja Gin, lagian aku liat kamu juga kayak enggak nyaman juga pakai itu,'' sahut Eza.


'Eza kenapa sih, kok sekarang bahasa nya pakai aku kamu gitu, jadi deg-degan gini 'kan,' ucap Gina dalam hatinya.


''Oh ya Za, makasih ya kalung nya,'' ucap Gina dengan tiba-tiba. Eza terdiam sejenak dengan memperhatikan kalung yang melingkar indah di leher jenjang Gina.


''Oh iya, kamu suka 'kan?'' Gina pun mengangguk.


Tanpa mereka sadari seseorang sedang memperhatikan mereka di sebuah balkon, di sebuah kamar tepat di atas mereka.


Orang itu adalah Reyhan, yang sejak tadi memang mendengarkan obrolan juga candaan yang memekik telinga nya.

__ADS_1


''Mereka memang serupa, dari sifat pun sama,'' gumam Reyhan dengan wajah yang menahan kesal.


Helaan kasar keluar dari Reyhan yang kemudian memutuskan untuk masuk ke kamarnya, meninggalkan dua orang remaja itu yang sejak tadi ia perhatikan.


__ADS_2