Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 36 - Serupa Tapi Tak Sama


__ADS_3

Kriinnngggg!!!!!!!!!!


Jam weker berbunyi nyaring membuat sang empunya kamar melompat dari tempat tidurnya dengan wajah bantalnya. Karena setengah sadar Reyhan malah memukul jam itu dengan tongkat baseball sehingga membuatnya hancur berantakan.  Yang alhasil penghuni rumah lainnya berdatangan kearah kamar Reyhan.


"Rey!" Dugh Dugh Dugh


Nenek Sari menggedor-gedor pintu kamar Reyhan dan ada suara yang lainnya juga yang ikut mengetuk pintu itu. Seketika Reyhan tersadar sepenunya dan merasa tidak percaya jam weker hadiah dari sang nenek sudah rusak tak terbentuk di bawah lantai sana.


"Iya Neek!" sahut Reyhan sedikit berteriak.


"Ada apa Rey? kenapa ada suara ribut?"


"Tidak ada Nek, tadi ada kucing yang masuk dari jendela tapi sudah keluar kok!"


Setelah memastikan tidak ada lagi suara, Reyhan segera bergegas merapihkan kekacauan yang dia buat itu sebelum sang Nyonya Madam melihat itu semua.


Tapi setelah merapihkan semuanya bukannya segera mandi, ia malah mencari keberadaan ponselnya yang entah berada dimana.  "Itu dia!" decihnya setelah melihat ujung ponselnya yang sebagiannya tertutup oleh selimut.


"Mati?" decak kesal Reyhan yang kemudian segera mengisi daya dan dia segera mandi.


Ya, Nenek Sari pun merasa heran dengan Reyhan yang tidak seperti biasanya bangun terlambat, karena yang dia tahu, cucu sulungnya itu sangatlah disiplin terlebih lagi dengan waktu tidurnya, tanpa ia tahu kalalu ternyata cucunya itu tidak tidur semalaman karena terus berkirim pesan pada wanita yang dia jodohkan untuk cucunya itu.


"Pagi Nek..." Suara yang sangat Sari hapal dan sudah lama ia tidak mendengarnya, dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah suara itu berasal. Senyum Nenek Sari merekah dan langsung memeluk orang itu yang tak lain adalah Gina Utami, gadis yang dia temui di taman rumah sait kala itu.


"Kau kemana saja anak nakal!" Sari memukul bo-kong Gita dengan gemas.


"Heheh..., aku sibuk di kampus Nek," sahut Gina sedikit berbohong karena kenyatannya ia tak pernah lagi kerumah Nenek Sari karena hubungannya bersama Reyhan memang sedang merenggang kemarin.


"Kita sarapan bareng kalau begitu," ajak Sari dan di angguki oleh Gina dengan matanya yang mencuri pandang ke arah lantai atas tepatnya disebuah pintu kamar yang Sari sangat tahu kalau yang sedang di cari Gina saat ini adalah Reyhan.


"Mas-mu sedang mandi, baru bangun dia, entah kenapa tumben sekali dia sangat telat begini," ucap Nenek Sari yang mendumel. Gina yang mendegarnya hanya bisa mengulumkan senyumannya karena penyebab Reyhan kesiangan karena dirinya yang terus meladeni pesan-pesan tidak jelas dari Reyhan, bahkan bukan hanya berkirim pesan, Reyhan menelpon vidio Gina sampai keduanya tidak sadar sudah tertidur dengan keadaan ponsel yang masih tersambung di telepon vidio.


Berlebihan memang, bahkan seperti anak remaja yang baru saja merasakan berpacaran. Tapi ya begitulah mereka yang merasa kasmaran setelah badai menerjang hubungan.


"Hisshh lama sekali anak itu, coba kau susul, Gin!" suruh Nenek Sari pada Gina. Dengan ragu Gina pun mengiyakannya walaupun ada rasa tidak enak karena seorang gadis harus datang kekamar seorang pria, tapi ini perintah langsung dari sang nenek, Gina tidak bisa menolaknya.


Tapi baru juga ia sampai ke anak tangga yang akan berpijak kelantai dua, Gina berpapasan dengan seseorang yang sebenarnya dia rindukan. Rindu bukan berarti cinta, hanya saja sosoknya yang setiap hari menemani dia tiba-tiba menjauh karena satu hal, yaitu hati yang harus dijaga karena sudah berpemilik.

__ADS_1


"Ezza? apa kabar?" tanya Gina setelah terdiam sejenak.


"Baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Baik," sahut Gina yang sedikit canggung karena sejak hari itu, saat Gina memilih Reyhan dari pada Ezza, pemuda yang di anggap sebagai sahabatnya itu seakan menjauh darinya.


Mata Ezza tertuju pada kepala Gina yang terdapat kotoran entah debu atau apa, tapi tangannya seakan bergerak sendiri ingin mengambil itu dari kapala Gina. Tapi sebelum tangannya sampai menyentuh kepala Gina sudah ada tangan yang mencegahnyanya dengan mencengkal pergelangan tangan Ezza.


Ezza maupun Gina menoleh secara besamaan yang ternyata pemilik tangan berotot itu adalah Reyhan. Ezza yang mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya hanya mendengus pelan dan menepis kasar tangan Reyhan, pemuda 20 tahun itu hanya melirik sedikit kearah Gina lalu berlalu begitu saja tanpa berkata apapun pada keduanya.


"Gin?" panggil Reyhan yang membuat Gina seketika menoleh karena ia sedang menatap kepergian Ezza.


"Kamu?"


"Mas, aku sengaja datang karena ponselmu enggak bisa di hubungi," potong Gina.


"Oh iya, ponsel ku habis batre."


"Mas jadi 'kan menemani ku membeli keperluan acara kampus ku?"


*


Mobil Reyhan berhenti disebuah basement gedung mall yang ada di pusat Kota, Gina agak heran karena seharusnya ia pergi ke pertokoan kenapa harus ke Mall?


"Mas, kok kesini?"


"Ya kamu bilang mau beli peralatan acara kampus 'kan?"


"Iya, tapi kenapa harus ke Mall, di pertokoan ruko pun ada, Mas."


"Ah, sudah terlanjur. Pasti didalam juga ada barang yang akan kamu cari," ucap Reyhan yang sudah melepaskan seatbeltnya.


"Iya, tapi harganya pasti mahal, Mas," decih Gina.


Entahlah kenapa Gina tidak pernah berpikir kalau calon suaminya ini pemillik sebuah perusahaan sehingga soal harga barang pun masih ia permasalahkan.


Keduanya keluar dari dalam mobil dan baru saja mereka akan memasuki lift, suara seseorang membuat kedunya mengurunkan niat mereka.

__ADS_1


"Rey?"


Reyhan menoleh begitu jug Gina.


"Tuan Mario?'


"Ayolah Rey bicara biasa saja, kita bukan berada di kantor." Ya pria itu adalah Mario, rekan bisnis Reyhan sekaligus teman akrabnya.


Mario sedikit melirik ke arah Gina yang memberikan anggukan dan senyumannya.


"Kalian mau kemana?" tanya Mario


"Kalau orang pergi ke Mall, kira-kira akan apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Mario justru Reyhan memberikan pertanyaan lain padanya.


Pria bernama Mario mendengus kesal, ya! dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Reyhan karena sikap itu sudah menjadi tabiatnya sejak kecil.


"Kau sendiri?"


"Aku mendapatkan undangan makan dari klienku, kalian bergabunglah."


"Untuk apa, saya ada keperluan lain."


Mereka memasuki lift bersama-sama setelah tadi pintu lift kembali tertutup.


"Ayolah, aku akan memperkenalkan klien ku ini, dia orang yang royal dalam bisnis. Bahkan tanpa berpikir panjang beliau ini memberikan ku modal untuk membangun anak perusahaan."


Mario terus memaksa namun Reyhan keukeuh menolaknya. Melihat usaha pria asing itu untuk mengajak calon suaminya membuat Gina tidak tega yang akhirnya ikut membujuk Reyhan untuk ikut sebentar dngan Mario.


Merekapun memasuki sebuah restoran yang menyajikan olahan yang berasal dari negeri gingseng itu. Kedatangan mereka disambut baik oleh klien Mario itu. "Tuan Bram, perkenalkan ini salasatu rekan bisnis saya, dia pemilik Pratama Group." Mario memperkenalkan Reyhan pada pria parubaya yang masih gagah itu. "Dan ini calon istrinya," lanjutnya dengan menggeser tubuhnya sedikit memperlihatkan Gina yang berdiri dibelakang mereka.


Gina maupun pria paru baya itu saling terdiam, merasa ada yang aneh begitu juga Reyhan yang seakan melihat satu wajah di lain rupa.


    ~~~~~~~


Mampir juga karya teman ku yaaa....


__ADS_1


__ADS_2