Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 10


__ADS_3

''Pak Reyhan sakit?'' pertanyaan Gina membuat semua merasa bingung tapi Reyhan tidak sama sekali menanggapi pertanyaan gadis lugu itu.


''Rey, kau sakit?'' dan kali ini bukan Gina yang bertanya melainkan sang Nenek.


''Tidak,'' jawab singkat Reyhan dengan ketus.


''Tapi kenapa wajah Pak Reyhan merah begitu, coba biar saya periksa.'' Gina yang sudah mengulurkan tangannya untuk memeriksa kening Reyhan namun belum sempat tangan Gina menempel pada kening Reyhan, tangan Gina sudah di tepis dengan kasar oleh Reyhan.


''Singkirkan tangan mu itu,'' sarkasnya.


''Saya kan hanya ingin memeriksa suhu badan, pak Reyhan,'' sahut Gina yang sedang mengusap tangannya sendiri karena terasa agak sakit ulah tepisan tangan Reyhan.


''Rey.... jangan kasar begitu dengan calon istri mu.''


Uuhhuuukk uhuukkk uhuuukkk,,,,


Rupanya ucapan sang nenek membuat Eza terbatuk-batuk karena terkejut mendengar ucapan Nenek nya.


''Ca-calon istri?'' tanya Eza dengan terbata-bata dan di angguki oleh sang Nenek. Belum sepenuhnya percaya Eza pun menoleh ke arah Reyhan untuk mendapatkan jawaban nya namun Reyhan hanya bersikap acuh.


''Bagaimana mungkin Gina mau dengan kakak,'' gumam Eza yang langsung mendapatkan tendangan keras dari sang nenek dari bawah meja sana.


''Habiskan sarapan mu, dan pergi ke kampus. Ingat nenek Masi memantau hasil nilai mu,'' ucap nenek sedikit mengancam.


Masih dalam keadaan terkejut, Eza pergi begitu saja tanpa permisi dan juga belum menghabiskan sarapannya seperti biasanya, sepanjang jalan Eza terus bergumam kalau apa yang di ucapkan sang nenek hanyalah bualan semata, entah kenapa Eza merasa kecewa dengan apa yang di dengar nya.


Melihat Eza yang pergi begitu saja, Gina pun berniat untuk ikut pergi dan menyusul Eza tapi baru saja Gina akan mengangkat bokongnya dari kursi, suara Reyhan yang terdengar menggelegar membuat Gina terperanjat dan duduk kembali. ''Duduk dan habiskan sarapan mu, kau juga harus ke kampus bukan?'' ucapnya dengan ketus.


''Iya, tapi saya ingin berangkat bareng dengan Eza.''


''Biar saya yang antar, cepat habiskan sarapan mu.'' Sahut Reyhan dengan tegas yang bertanda tidak mau di bantah lagi, mengenal sifat sang cucu, nenek Sari pun hanya bisa memberikan kode pada Gina agar tidak lagi membantah ucapan Reyhan.

__ADS_1


''Baiklah,'' Gina pun makan dengan perlahan sambil terus mengumpat dalam hati nya.


''Isshh orang ini kaku sekali, persis kanebo kering. Eza yang malang, dia tidak habiskan sarapan nya.''


****


Di dalam mobil berlogo kuda berdiri dengan dua kaki belakangnya, dua orang masih saling mengunci mulutnya masing-masing, tidak ada obrolan maupun hanya sekedar suara deheman, Reyhan yang tengah sibuk menyetir dan Gina yang membuang pandangannya ke luar kaca mobil, dan sesampainya di sebuah lobby gedung kampus, Gina hanya mengucapkan terima kasih dan langsung turun tanpa berpamitan pada Reyhan, dan Reyhan yang bahkan tidak menyahut sama sekali dan berlalu dengan mobilnya.


Seperginya Reyhan, Gina pun melangkah masuk ke area kampus tapi langkahnya terhenti karena panggilan dari seseorang yang tak lain adalah Reza yang memang berniat untuk menunggu kedatangan Gina.


''Za, Lo belum masuk kelas?'' tanya Gina.


''Belum, kelas gue di mulai dua jam lagi, oh ya ikut gue, ayo!'' Tangan Gina langsung di tarik Eza menuju belakang kampus yang terdapat taman di sana.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari dalam mobil dengan tatapan tajam.


Eza mengajak ke teman belakang kampus bukan hanya untuk berbincang tapi menuntut penjelasan kenapa dan bagaimana Gina bisa menjadi calon istri dari kakaknya.


''Ya begitu..''


''Tapi apa lu suka sama Kakak gua?'' Gina sejenak terdiam kemudian menggelengkan kepalanya. ''Dia bukan tipe gue sebenernya.'' Sahut Gina.


''Terus tipe lu seperti apa?''


''Seperti lu,'' jawab asal Gina dan membuat Eza mengulumkan senyuman karena merasa tersanjung. Tapi beberapa saat kemudian Gina tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Eza yang menurut nya menggemaskan.


''Muka lu merah tuh, tapi tetep ganteng siihhh...''


Bisa di lihat perbedaan sikap Gina pada Reyhan dan Eza, Gina merasa lebih akrab dengan Eza ketimbang saat sedang bersama Reyhan, entah karena memang Gina dan Eza seumuran atau memang masalah kenyamanan hanya Gina yang dapat mengartikannya.


***

__ADS_1


Hari demi hari dan berganti bulan, kedekatan Gina dengan Eza bertambah semakin akrab, bahkan kerap sekali di sangka berpacaran dengan para mahasiswa kampus tempat mereka berkuliah, tapi berbanding terbalik dengan Reyhan, Gina bahkan semakin malas bertemu dengan Reyhan karena sifat Reyhan yang membosankan menurut gadis itu.


Di pelataran kampus, Eza dan Gina sudah bersiap akan pergi dari sana tapi sebuah klakson yang nyaring membuat mereka menghentikan langkahnya yang akan masuk ke dalam mobil yang di bawa sendiri oleh Eza.


Sebuah sepasang sepatu pantofel yang di kenakan oleh seseorang terlihat menuruni mobil, dan menghampiri Gina dan Eza, ya dia adalah Reyhan Pratama.


''Kakak ke kampus ku, mau apa?'' tanya Eza.


''Kau masuk ke dalam mobil, dan kamu ikut kakak.'' Ucap Reyhan memerintah Gina masuk dan menyuruh Eza ikut dengannya untuk berbicara sesuatu, Reyhan membawa Eza sedikit menjauh dari mobil Eza sehingga membuat Gina tidak bisa mendengar obrolan keduanya.


''Ada apa kak? seperti nya serius sekali.''


''Bukan tidak tahu kenapa kakak menemui mu, bukan?''


''Aku memang tidak tahu,''Reyhan menghela nafasnya sedikit kasar dan melanjutkan ucapan yang ingin ia katakan.


''Apa kamu sudah menyelesaikan lukisan mu?'' tanya Reyhan.


''Sedikit lagi kak, kenapa memangnya?''


''Kenapa kau bilang? pameran lukisan akan di laksanakan dua hari lagi dan kamu masih bermain-main.'' Omel Reyhan dan Eza hanya diam menunduk pasrah mendapatkan Omelan dari kakanya.


''Kakak kasih kamu kesempatan untuk menyelesaikan nya, tapi jika memang kamu tidak lagi berniat untuk melukis, lupakan saja.'' Lanjutnya, kakinya sudah akan melangkah pergi namun berhenti lagi.


''Berikan kontak mobil mu,'' pinta Reyhan.


Tanpa bertanya lagi, dia pun memberikannya dan merasa bingung karena kakak nya justru memberikan kontak mobil miliknya dan memberikan nya pada Eza. ''Bawa mobil ku ke bengkel, servis semua mesin karena sepertinya ada yang salah dengan mesinnya,'' ucap Reyhan seraya berlalu pergi dan masuk ke dalam mobil milik Eza, adiknya.


Eza masih terpaku di tempatnya, dan baru menyadari kalau kakaknya sudah meninggalkan kampus dengan mobil nya yang terdapat Gina di dalamnya.


Merasa heran dengan keberadaan Reyhan di dalam mobil milik Eza, Gina memberanikan diri nya untuk bertanya walaupun ia tidak mengharapkan jawaban dari Reyhan yang memang kerap mengacuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2