
''Gue enggak boleh nyerah, ya gue harus lebih tegas pada kakak,'' gumam Reza.
Di koridor kampus, Eza melangkah dengan yakin menuju kelas di mana Gina berada, dan secara kebetulan saat dia akan masuk ke kelas Gina, Gina juga sudah bersiap untuk keluar.
''Eza? ada apa?'' tanya Gina.
''Apa ada waktu? gue belum makan dari tadi pagi,''
''Heemmm,,, ada, makan siang bareng?'' jawab Gina dan langsung di angguki Eza dengan cepat, merekapun pergi ke kantin bersamaan.
Menunggu pesanan makan mereka datang, Gina yang sibuk dengan ponselnya, Eza pun berniat mengatakan sesuatu.
'' Bagaimana dengan kakak?'' tanya Eza.
''Enggak gimana-gimana.''
''Kakak terus nindas lu, ya?''
''Ya seperti itu, kalau tidak menindas ya bukan kakak lo.''
Makanan datang dan merekapun makan dengan lahap, entah kenapa Eza merasa tidak rela melihat Gina terus dekat dengan Reyhan, kakaknya sendiri. Perasaannya semakin memaksanya untuk berusaha agar Gina mengalihkan perhatian dari Reyhan.
''Sebentar,'' ucap Eza yang mengulurkan tangannya lalu membersihkan sisa makanan yang menempel di sudut bibir Gina. hinay terdiam, mata mereka saling menatap.
Ada getaran di dada masing-masing mereka, namun getaran apa itu Gina pun tidak mengerti. ''Di lihat-lihat Eza tampan juga,'' ucap Gina dalam hatinya.
Cekrekkk..
Di sudut lain tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memotret kebersamaan mereka di sana dan siapa? entahlah.
Pipi ginay memerah karena malu, kecanggungan pun terjadi seketika, dan mereka melanjutkan makan nya, setelah selesai makan siang Eza mengajak Gina sekedar mencari angin segar karena baru selesai dengan pelajaran di kampus yang membuat otak mereka panas.
Taman, ya Eza mengajak Gina di taman yang terdapat rumput-rumput hijau yang sejuk, tanpa kursi mereka pun duduk di atas rumput tersebut, menghadap sebuah danau yang terawat, mereka duduk secara berdekatan.
__ADS_1
Bak alam semesta mendukung, tiba-tiba hujan pun turun, Eza yang langsung sigap menarik Gina agar segera pergi dari sana dan mencari tempat berteduh, Gina menatap tangannya yang di genggam erat oleh Eza, dirinya merasa tersipu.
Eza memang sering kekanakan, tapi tidak di pungkiri sikap Eza terhadap Gina selalu hangat tidak seperti Reyhan padanya, yang selalu kasar dan selalu berkata dengan di iringi bentakan.
''Kita berteduh disini ya?'' ucap Ezza, dan Gina tersadar dari lamunannya. ''Hah? oh iya.'' jawab Gina.
Eza melihat Gina yang sedang menggosok kedua tangan nya, dan dia mengerti kalau Gina memang tidak tahan dengan cuaca dingin terlebih dengan dinginnya udara pada saat hujan.
''Dingin ya? sini tangan lo,'' ucap Eza yang langsung menarik tangan Gina dan memasukan tangan kanan Gina di saku kiri sweater nya.
''Kenapa seperti ada yang berbeda dari Eza?'' gumam Gina dalam hatinya.
***
Di kamar yang berdiameter minimalis, Gina merebahkan tubuhnya setengah selesai membersihkan dirinya dari basahnya air hujan.
Dengan rambut yang masih basah dan masih terbungkus handuk yang sengaja dililit nya, ingatannya berputar pada saat Eza menggenggam erat tangannya di balik saku sweater nya.
''Aaakkhhhhh, kenapa Eza bisa sekeren itu siih,'' teriak dia di balik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.
Triiingg!
Suara notifikasi pesan masuk pada ponselnya, dan cepat-cepat ia ambil dari atas meja dan benar sekali ada sebuah pesan masuk dari Eza. 'Istirahat ya, cuci rambutnya, soalnya kena air hujan 'kan tadi. jangan sampai kamu sakit' isi pesan Eza untuk Gina.
''Kamu? Eza manggil gue, dengan bahasa 'kamu' aduuhhh Eza... jangan bikin gue meleleh,'' ucapnya dengan wajah yang berseri-seri membaca pesan singkat dari Eza.
Kedekatan mereka yang semakin lama, membuat Gina merasa nyaman dengan kehadiran Eza di hidupnya, setiap hari ia berharap bisa bertemu Eza di manapun.
Tepat hari ini pada hari ulang tahunnya, pagi-pagi sekali saat Gina membuka pintu rumahnya karena ia akan pergi bekerja, ada sebuah kotak besar berwarna krem tergeletak di teras rumahnya.
''Milik siapa ini?'' gumamnya sembari ia ambil dari bawah lantai teras nya.
'Selamat ulang tahun! semoga kau menyukainya'
__ADS_1
Sebuah tulisan singkat terdapat di atas kotak itu, senyumnya mengembang karena merasa bahagia. Ya, kali ini ada seseorang yang mengetahui hari ulang tahun dia, karena setiap tahun pada hari ulang tahunnya ia tidak pernah sekalipun mendapatkan ucapan atau hadiah apapun dari siapapun itu.
Seperti mendapatkan kebahagiaan berlipat-lipat, Gina benar-benar merasa sangat bahagia, ''Pasti dari Eza,'' gumamnya dengan menebak si pemberi hadiah, yang tidak ada nama pengirim nya itu.
Dengan terus tersenyum, ia membawa hadiah itu dan menyimpannya di bagasi motor yang ia pinjam dari tempatnya bekerja, mengendarai motor dengan terus bersenandung kecil, dan tidak ia sadari iapun sudah sampai di tempat ia menghasilkan uang dari gaji yang ia dapatkan setiap bulan nya.
''Gin, kayaknya lagi seneng banget, dapat berita apa?'' tanya teman kerjanya yang bernama Kiki.
''Enggak,, cuma lagi seneng aja,'' sahut Gina.
''Cerita dong,''
''Hemmm,, ada deehhh.''
***
Selesai dengan jam kerjanya Gina berniat akan mengunjungi ibunya yang masih di rawat di rumah sakit namun niatnya terurungkan karena mendapatkan telpon masuk dari Nenek Sari, nenek dari Reza dan Reyhan. Yang menyuruhnya datang ke rumah karena akan ada acara pertemuan keluarga.
''Kenapa gue harus datang?'' gumam Gina setelah menutup sambungan telepon dari nenek Sari.
Karena atasan nya yang menyuruhnya untuk tetap menggunakan sepeda motor milik tempat nya bekerja, akhirnya Gina pun pergi ke kediaman nenek Sari dengan sepeda motor tersebut.
Ya benar saja rumah yang besar itu sudah terparkir mobil-mobil mewah di sana dan Gina tanpa canggung memarkirkan sepeda motor butut itu bersamaan dengan mobil-mobil mewah itu. Banyak pasang mata yang sinis melihat kedatangan Gina namun dengan cueknya, Gina melewati orang-orang yang menatapnya risih itu.
Merasa ia di undang langsung oleh sang pemilik rumah, Gina masuk ke rumah berlantai 4 itu dengan begitu percaya dirinya, memakai pakaian sederhana namun rapih, Gina mencari keberadaan nenek Sari yang belum ia lihat.
Sampai ketika seseorang memanggilnya yang salah paham dengan siapa dia disana.
''Hei nak! kau sedang apa? dapur sebelah sana!'' ucap seseorang menunjuk ke arah dapur karena mengira Gina adalah seorang pelayan tambahan.
Gina mengedarkan pandangannya, memastikan kalau yang di panggilnya itu bukan dirinya, tapi tidak, memang dirinya yang di sangka seorang pelayan yang telat datang.
''Bisa-bisanya nenek Madam mempekerjakan gadis di bawah umur seperti itu,'' ucap yang lainnya.
__ADS_1