Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 17


__ADS_3

Setelah selesai dengan makan malam, mereka berdua pun masing-masing pergi meninggalkan meja makan. Reyhan yang melangkah menuju ruang baca, dan Gina yang akan pergi membersihkan piring-piring bekas mereka makan, namun sebuah deringan ponsel terdengar nyaring dan membuat perhatian Gina teralihkan.


Ponsel Gina yang berdering namun entah kenapa Reyhan sangat tertarik dengan si penelpon yang menghubungi Gina di malam seperti ini.


Setelah membersihkan tangan, Gina segera mengambil ponselnya yang terus saja berdering. Nama rumah sakit yang tertera di ponselnya dengan cekatan ia menggeser icon hijau dan langsung menempelkan ke telinganya.


Reyhan yang berdiri di samping lemari besar berusaha menjangkau perbincangan Gina dengan si penelpon. Namun tiba-tiba yang ia dengar sebuah suara isakan yang sangat lirih, Reyhan tertegun sejenak dan sedikit mencondongkan kepalanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Ya! Gina sudah terduduk di samping kursi dengan memeluk kakinya, Reyhan melangkah menuju ginay dan mensejajarkan diri nya dengan posisi Gina saat ini.


''Hei tupai, kau kenapa?'' tanya Reyhan namun Gina tidak mengidahkan pertanyaan Reyhan, dan ia pun mencoba bertanya lagi setelah menghela nafasnya.


''Gina?! ada apa?'' tanya Reyhan lagi namun dengan tangan nya yang menepuk pelan punggung Gina. Perlahan Gina mengangkat kepalanya dan terlihat mata dan pipi Gina sudah basah dengan air mata, alis Reyhan menyatu dengan sempurna, dengan raut seakan meminta jawaban akhirnya Gina pun menjawab dengan suara pelan dan lirih.


''Pak bisa tolong saya, antarkan saya ke rumah sakit,'' Reyhan tidak menjawab nya, dia hanya mengangguk kecil dan membantu Gina untuk berdiri.


Reyhan memapah tubuh kurus Gina dengan sangat hati-hati, dan membawa nya ke mobil miliknya, dari kejauhan tampak nenek Sari memperhatikan dua manusia itu. Ada rasa bahagia melihat dua orang itu yang semakin dekat tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Di mobil, Reyhan hanya fokus dengan kemudinya, dan di sebelahnya Gina hanya diam dengan tatapan kosong ke luar kaca mobil, tubuhnya gemetar dan Reyhan tahu kalau Gina sedang menahan tangisnya.


''Jangan di tahan, itu tidak baik,'' Ujar Reyhan, dan Gina hanya melirik sebentar lalu kembali menatap keluar kaca lagi.

__ADS_1


Sungguh, Reyhan bukan tipe pria yang jago dengan hal menenangkan perasaan lawan jenisnya, dia sendiri pun bingung bagaimana caranya untuk berkata pada gadis seusia Gina yang notabenenya memang gadis labil.


''Maaf, saya bukan tipe pria yang mudah berbicara dengan lawan jenis,'' ujar Reyhan lagi.


''Saya tau,'' sahut Gina dengan bergumam.


Sesampainya di rumah sakit, tanpa mengucapkan apapun, Gina keluar mobil begitu saja dan Reyhan bisa mengerti karena dari raut wajah Gina seperti ada sesuatu dengan ibunya yang memang di rawat di sana.


Reyhan membuntut dari belakang, Gina yang berjalan cepat begitupun dengan Reyhan, tibalah mereka di ruangan rawat yang di sana sudah ada beberapa perawat juga seorang dokter yang kemungkinan memang sedang menunggu nya.


Gina membeku di ambang pintu melihat kain putih yang menutup seluruh tubuh serta wajah ibunya, Reyhan mengikuti arah pandang Gina, sungguh ia tidak menyangka kalau inilah penyebab gadis riang itu menangis.


Seakan syok dengan apa yang terjadi, Gina menatap tubuh kaku ibunya yang terbungkus kain putih dengan tatapan nanar, tidak bereaksi apapun namun tetap air matanya terus saja mengalir.


Gina melangkah dengan perlahan menatap kain putih yang menutupi wajah ibunya, tangan nya bergerak dengan bergetar membuka kain putih tersebut, dan nampak lah wajah yang pucat menandakan tidak ada kehidupan di dalam nya. Matanya yang terpejam damai dan bibir yang sedikit terbuka. Apa ini benar-benar ibu? ibu benar-benar meninggalkan ku? lantas kenapa ibu melahirkan ku jika harus pergi juga, siapa yang aku miliki di dunia ini? rentetan pertanyaan muncul dalam benak Gina.


Aaaakkkhhhhh.... ibu...


jerit Gina pun pecah yang kemudian memeluk tubuh kaku ibunya. Seakan tidak percaya kalau jasad yang terbujur di hadapannya adalah wanita yang melahirkannya, wanita yang pernah ia benci karena hinaan yang terlontar untuk nya dari orang-orang tidak berperasaan itu.


Reyhan yang semula tidak mau terlalu peduli dengan orang lain tiba-tiba memeluk tubuh Gina dan menenangkannya di dalam dekapannya.

__ADS_1


''Gin, tenang Gin.'' Hanya itu yang bisa Reyhan katakan.


Tenang? bahkan ucapan Reyhan pun tidak bisa Gina terima. Ya, bagaimana mungkin anak bisa tenang, ketika melihat tubuh ibu kandungnya sendiri yang sudah tidak lagi bernyawa, dan untuk detik-detik terakhirnya pun sang anak tidak ada di sampingnya.


''Pak, ibu saya pergi meninggalkan saya! bagaimana saya bisa tenang!!'' bentak Gina, ya benar apa yang di katakan gadis 19 tahun itu, dan bentakan itupun tidak membuat Reyhan tersinggung karena memang apa yang di ucapkan nya itu salah.


''Ya saya tahu, tapi apa cara kamu meratap begini, ibu kamu bisa hidup lagi?'' sahutan Reyhan rupanya membuat Gina lebih tenang, Gina tersungkur ke lantai dan kembali memeluk kakinya sendiri. Menangis tersedu-sedu mengingat dosa-dosa nya terhadap ibunya, mengingat kasih sayang ibu untuk nya, menyesal? ya tentu, namun tidak ada artinya karena ibunya pun sudah pergi untuk selama-lamanya.


''Maaf Pak, apa bisa ikut dengan saya sebentar, untuk mengurus surat kepulangan mendiang ibu Nur?'' ucap seorang perawat dan Reyhan pun mengiyakan nya.


''Gina kamu tunggu saya sebentar, saya akan ikut dengan suster itu,'' ucap Reyhan berpamitan, namun tidak ada jawaban dari Gina.


Entah kenapa saat ini Reyhan merasa bertanggung jawab atas diri Gina, ia mengurus semua berkas-berkas catatan rumah sakit ibu Nur.


Selang-selang yang menancap di beberapa bagian tubuh ibu Nur pun satu persatu di lepas oleh perawat yang masih berada di sana. Gina bangun dan duduk di bangku yang ada di samping ranjang ibunya, tangan renta nan kaku serta dingin itu ia raih dan ia cium. ''Bu,, kenapa ibu pergi tanpa aku?'' lirih Gina.


''Bu, Gina enggak punya siapa-siapa lagi di sini. Lalu Gina harus bersama siapa? bahkan Nana belum sempat minta maaf pada ibu..'' Suara Gina semakin lirih, suaranya yang serak dan tangis yang terus menerus ia keluarkan menandakan kalau dirinya memang sedang hancur.


Di balik pintu, Reyhan yang baru saja kembali dari bagian administrasi memperhatikan Gina dari balik kaca, ini kali keduanya melihat Gina yang menangis, namun kali ini tangisan itu sangat menyayat hatinya.


Sebuah kertas yang ia pegang, ia simpan di saku celananya, ''Saya pastikan, kamu tidak akan merasa sendirian, Gin,'' gumam Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2