Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab-05 Paman?


__ADS_3

Kesepakatan keduanya terjalin begitu saja. Mereka, Gina dan Reyhan menjalankan hubungan tanpa rasa yang seperti kebanyakan pasangan lain jalankan. Reyhan menyerah pada apa yang di inginkan Nenek nya, dan Gina yang tidak bisa lagi menolak karena perjanjian yang antara dia dan nenek Reyhan lakukan tempo hari itu.


Hari ini Gina bekerja seperti hari-hari biasanya, Gina di di perbolehkan melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan oleh Reyhan juga neneknya.


Di tempat lain Reyhan dan neneknya berada di ruangan kantor yang Reyhan sendirilah menjadi direktur nya. Sang nenek terus saja merayu Reyhan untuk terus berinteraksi dengan Gina tapi Reyhan tidak sama sekali mengindahkan permintaan neneknya.


Pria 35 tahun itu merasa jengah karena rengekan neneknya, dan terpaksa harus menutup berkas yang sedang ia baca. ''Nek, aku sudah menyetujui permintaan nenek, lalu apa lagi,'' keluh Reyhan.


''Rey, kau harus bersikap seperti calon suami kebanyakan.''


''Ck..Ayolah Nek, Reyhan sudah menurut apa yang Nenek minta kan.''


''Ya tapi kamu juga harus berusaha untuk membuka hati mu. Nenek tahu kamu sangat membenci dengan kata pernikahan, tapi bagaimanapun kau juga harus menjalankan hubungan rumah tangga 'kan, Nenek juga sudah tua, nenek sangat ingin memiliki cicit.''


Raut wajah nenek tertunduk lesu, ia merasa usianya mungkin saja tidak akan lama lagi, ia tidak mau cucu laki-lakinya terkubur dalam kenangan masalalu yang sangat ia hindari itu.


Reyhan sangat menyayangi neneknya, karena memang sedari kecil ia hanya hidup dengan neneknya, neneknya lah yang merawat nya menggantikan sosok ibu untuknya, Reyhan juga tidak akan bisa melihat neneknya bersedih. Reyhan menghela nafasnya dalam-dalam dan berkata, ''Baiklah Nek, Reyhan akan berusaha mengikuti apa yang Nenek mau,'' ucapnya pasrah.


''Benarkah? kalau gitu, kamu sekarang jemput Gina di tempat kerjanya, lalu ajak di makan siang.'' Ekspresi yang semula sendu tiba-tiba berubah menjadi riang, dan itu membuat Reyhan sebenarnya jengah karena tau akal neneknya yang akan melakukan berbagai macam cara agar ia luluh dengan cara berpura-pura bersedih.


''Astaga! tidak sekarang ya Nek, ada pertemuan sebentar lagi.'' Tolak Reyhan dengan halus tanpa ingin membuat neneknya marah lagi.


''Buat apa kamu punya bawahan kalau untuk menghandle perkejaan saja tidak bisa!'' Protes sang nenek.

__ADS_1


''Oke–oke. Rey akan jemput dia.'' Reyhan pun mengalah, dan beranjak untuk menjemput Gina di tempat kerjanya.


'Wanita yang menyebalkan' nama kontak yang Reyhan simpan, siapa lagi kalau bukan Gina, entah sejak kapan ia menyimpan kontak Gina tapi yang pasti baru kali ini ia menghubunginya.


''Kemana dia, so sibuk sekali sampai telpon ku saja tidak di angkat,'' gerutu nya.


Mobil berwarna silver yang di kemudikan Reyhan berhenti tepat di sebrang jalan raya tempat Gina bekerja, di sana Reyhan hanya berdiam diri di dalam mobil sambil menunggu Gina sampai terlihat oleh matanya.


Beberapa jam kemudian setelah Reyhan menunggu begitu lama, akhirnya nya Gina pun terlihat, dengan seragam khas barista kafe, Gina keluar dengan seseorang, mereka terlihat sangat akrab dengan Gina yang terus tertawa karena candaan dari pria yang berjalan disampingnya.


Tidak ada ekspresi apapun dari pada Reyhan melihat calon istrinya akrab dengan pria lain. Ya, itu semua karena Reyhan benar-benar tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Gina, untuk sekarang.


''Haaahhh… , itu dia, kalau bukan karena nenek, saya malas bertemu dengannya,'' gerutu Reyhan dengan kesal.


''Siapa dia, Gin?'' tanya pria teman kerja Gina yang sejak lama memendam rasa untuk gadis manis itu.


''Oh dia, dia paman ku,'' jawaban Gina yang tiba-tiba terucap itu terdengar jelas ke telinga Reyhan. 'Paman? apa-apaan dia!' buku-buku tangan Reyhan memerah, ia merasa kesal karena Gina mengatakan kalau dirinya adalah Pamannya.


Gina menghampiri mobil Reyhan dengan temannya yang membuntut dari belakang. ''Om, saya Irfan temannya Gina,'' sapa pemuda yang bernama Irfan memperkenalkan dirinya dan memanggil Reyhan dengan panggilan yang membuat Reyhan menahan emosinya.


Mata Reyhan tidak bersahabat, matanya menatap tajam pada kedua manusia yang berdiri di luar mobil nya, tidak ada jawaban dari Reyhan, ia hanya diam dengan wajah datarnya.


Menyadari Reyhan merasa kesal karena panggilan 'om' untuk nya itu, Gina pun mengusir Irfan untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


''Fan, mending lu pergi dah,'' bisik Gina dengan bahasa keseharian mereka.


''Kenapa Gin? kan gue cuma mau kenal.''


''Udah, nanti gue ceritain.''


Akhirnya pemuda bernama Irfan pun pergi dari sana karena Gina yang mengusirnya. Tinggallah Gina seorang diri di luar mobil dengan memasang wajah yang tak merasa bersalahnya.


''Masuk!'' perintah Reyhan begitu tegasnya, Gina terjingkat dan terpaksa mengikuti perintah Reyhan namun bukan duduk di depan samping kursi kemudi bersama Reyhan, Gina malah duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Dia pikir aku ini supir kali ya!" gerutu Reyhan.


Reyhan mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, tidak ada pembicaraan di dalamnya, mereka hanya diam satu sama lain. Sampai ketika roda mobil berhenti di perusahaan yang cukup ternama itu, ya Reyhan kembali ke kantor sebelum ia menjemput Gina, entah kenapa niat Reyhan berubah, yang semula akan mengajak Gina makan namun tiba-tiba niatan itu sirna.


''Keluar!'' pinta Reyhan dengan ketus, dengan kepala yang tertunduk namun bukan karena takut, Gina pun keluar mengikuti apa yang Reyhan minta, berjalan membuntut dari belakang sampai ke sebuah ruangan dimana, di sanalah ruangan tempat Reyhan bekerja.


Dan lagi-lagi Gina di buat tercengang karena tempatnya berdiri saat ini adalah di depan gedung perkantoran ternama yang pernah Gina ingin bekerja disana tapi apalah daya seleksi sebagai karyawan disana sangatlah ketat dan diapun tergeser dari seleksi awal.


"Kenapa diam, ayo!" ajak Reyhan lagi dengan suara yang seperti biasanya, ketus.


"Pantas saja sudah tua belum juga menikah!" cela Gina dengan suara pelan.


Tatapan para karyawan membuat Gina tidak nyaman, ya sebelumnya para karyawan belum pernah melihat direktur di sana membawa seseorang terlebih lagi itu adalah seorang wanita.

__ADS_1


Siapa gadis itu? kenapa bisa datang bersama direktur? pertanyaan semacam itu pasti terlontar dari mulut-mulut orang yang bekerja di sana.


__ADS_2