Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 23 - Berada di Posisi yang Berat


__ADS_3

Tidak ada jawaban dari Eza, yang tentunya tidak juga membuat Reyhan mempermasalahkan itu, ia justru kembali melangkah dengan tangan yang masih menautkan pada jari-jari tangan Gina. Gina yang di gandeng pun hanya tertunduk dengan melewati Eza yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Beberapa saat memang Eza hanya diam di tempatnya seakan sedang menelaah apa yang ada di depannya, namun beberapa menit kemudian, diapun ikut melangkah mengejar langkah Reyhan dan Gina dengan perasaan yang kesal.


"Kak!!" suara Eza meneriaki kakaknya yang seketika menghentikan langkah mereka.


Tanpa berkata apapun Reyhan hanya menatap Eza yang memasang wajah kesalnya, "Ada apa ini kak?" tanya Eza.


"Ada apa, maksud mu?"


"Ya, ya, ya. Ke-Kenapa kakak dan Gina-?" sungguh Eza tidak bisa melanjutkan ucapannya karena dia pun merasa bingung mau mengatakan apa, masih dengan mata yang menatap ke arah genggaman tangan Reyhan pada Gina.


Belum juga Reyhan menjawab, seseorang yang muncul dari arah dalam memanggil kedua laki-laki itu. "Rey, Za?" ketiga orang itupun menoleh secara bersamaan dan Gina yang melihat seseorang itu yang tak lain adalah nenek Sari, tersenyum lebar.


"Nenek, apa kabar?" tanya Gina dan nenek Sari yang melihat kedatangan Gina terlebih lagi ia melihat genggam erat tangan Reyhan padanya, sungguh rasa bahagia sang nenek benar-benar kembali.


"Gina, gadis nakal ku? kau datang sayang, kebetulan nenek baru saja meminta di buatkan bolu kukus coklat sama si Nani, ayo!" ucap nenek yang langsung menarik tangan Gina dari genggaman Reyhan dan membawanya dari dua laki-laki itu.


Reyhan dan Eza yang masih berada di sana hanya menatap kepergian Gina dengan sang nenek yang kemudian mereka saling menatap, dan Eza yang mengatakan.


"Kak, Kaka banyak berhutang pertanyaan dari ku," ucapnya dingin namun Reyhan tidak sama sekali mengindahkan peringatan Eza, ia bahkan berlalu begitu saja meninggalkan pemuda 20 tahun itu.

__ADS_1


Di halaman belakang, Gina dan nenek sedang menyantap bolu kukus buatan asisten rumah tangga yang di panggil Nani oleh sang nenek tadi. Tidak lama kemudian, Reyhan pun datang dan langsung mengambil bolu tersebut dari tangan Gina lalu menyantapnya segera , "Emmm enak sekali," seru Reyhan.


"Mas itu punya ku," rengek Gina tanpa sadar telah memanggil Reyhan dengan sebutan 'mas'. Seketika Reyhan tersipu bahagia dan nenek Sari yang berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Rey, kau ini jahil sekali. Ini masih banyak," ucap nenek menggeser wadah bolu ke arah Reyhan, yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari cucuk sulung nya itu.


"Tidak nek, terima kasih, ini lebih enak," sahut Reyhan dengan melirik ke arah Gina yang masih menekuk wajah manisnya itu.


Beberapa saat kemudian Eza pun ikut serta duduk di kursi yang ada, masih dengan menatap kesal ke arah sang kakak yang sedang menatap Gina gadis yang ia sukai juga. "Eza, kau juga mau, cobalah," ucap sang nenek.


"Tidak nek, aku sudah sangat kenyang," jawab Eza masih dengan menatap tajam ke arah Reyhan.


"Oh ya, kalian datang bersamaan?" tanya sang nenek yang masih penasaran dengan kedatangan Gina yang tiba-tiba, setelah tempo hari Gina mengatakan untuk mengakhiri perjanjian perjodohan itu.


"Dan maksud kedatangan kami-" belum juga Reyhan melanjutkan ucapannya Eza malah memotong nya dengan sengaja.


"Nek, lukisan ku telah selesai, sesuai janji nenek, nenek akan memberikan apapun yang ku pinta 'kan?"


Nenek Sari dan Reyhan menoleh ke arahnya, dan mata kakak beradik itupun bertemu dengan menyiratkan ada sebuah peperangan dingin di sana.


"Benarkah, baiklah. Memangnya kau meminta apa dari nenek," sahut sang nenek dengan lembut.

__ADS_1


"Perjodohan!"


Ucapan Eza yang seketika membuat Reyhan memicingkan matanya, dan sang nenek yang terbelalak karena terkejut atas permintaan sang cucu yang tiba-tiba itu.


"Perjodohan? emmmm, baiklah... Biar nenek cari calonnya terlebih dahulu, Emmm… mungkin teman arisan nenek mempunyai cuc-" belum juga Sari selesai bicara, Eza memotong nya lagi, yang membuat Gina, Reyhan dan nenek Sari terdiam.


"Dia ada di sini Nek,"


"Siapa?"


"Dia," tunjuk Eza pada Gina yang membelalakkan matanya karena terkejut begitu, juga Reyhan yang sudah menahan dirinya.


Nenek Sari menoleh ke arah Gina, sungguh rencananya menyeret Gina ke dalam keluarga nya bukan untuk membuat kakak beradik itu bersaing. Tapi memang ia sangat menginginkan cucu sulung nya itu segera menikah dan Gina lah gadis pilihan nya. Dan bahkan ia tidak menyangka kalau cucu laki-laki nya yang lain juga mempunyai perasaan pada gadis yang sama dengan gadis yang ia harap menjadi istri dari cucu sulung nya.


"Ta-tapi nak, dia—" Nenek Sari benar-benar syok sehingga ia pun berbicara dengan terbata-bata.


"Kau jangan keterlaluan, Za!" ujar Reyhan yang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bicara.


"Kenapa? bukankah kalian tidak saling menginginkan, dan bukankah kakak sendiri yang mengatakan kalau tidak ingin menikah," Reyhan mengepalkan tangan dengan kuat, merasa ucapan Eza sudah sangat keterlaluan. Terlebih lagi Eza pasti sudah mengetahui maksud kedatangannya bersama Gina ke sana untuk apa.


"Cukup! kalian tidak perlu berdebat. Biar Gina yang memutuskan semuanya," ucap Sari yang langsung menatap ke arah Gina begitu juga dua lelaki itu.

__ADS_1


Berada di tengah-tengah keadaan itu membuat Gina sungguh bingung, iya tidak ingin jika pilihannya membuat sala satu kakak beradik itu berselisih, diapun tidak menyangka akan berada di keadaan canggung seperti itu.


Eza lelaki yang penting baginya, karena Eza membuat ia nyaman. Dan Reyhan, ia pun merasa kehadiran lelaki 35 tahun itu tidak kalah pentingnya, karena memang perasaannya terhadap Reyhan sangat sulit di jelaskan.


__ADS_2