Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 08


__ADS_3

Rey membawa mobil di tengah derasnya hujan, dan seperti biasa tidak ada obrolan sama sekali, sesampainya mereka di sebuah pelataran rumah yang besar, Reyhan pun mematikan mesin mobil dan bersiap akan turun namun ia merasa aneh, tidak ada pergerakan dari Gina sejak tadi dan ternyata gadis menyebalkan itu saat ini tengah tertidur dengan keadaan pakaian nya yang basah kuyup.


''Gadis ini benar-benar menyusahkan ku, bisa-bisanya ia tertidur pulas dengan pakaian nya yang basah.'' Gumam Reyhan, dengan terus bergerutu Reyhan terpaksa harus membawa Gina ke dalam gendongannya dengan baju yang ikut basah karena terkena baju Gina yang memang sudah lepek dengan air hujan.


Sedikit kasar Reyhan membopong tubuh kurus Gina dan membawanya ke dalam rumah itu, membuka pintu dengan susah payah dan menaiki tangga untuk membawa Gina ke kamar tamu seperti perintah Nenek nya.


Tapi saat Reyhan sudah sampai di anak tangga ke empat, Eza yang kebetulan akan turun berpapasan dengan Reyhan yang saat ini sedang membawa seorang gadis di gendongan nya.


''Gina?''


''Minggir kamu!''


''Kak, ada apa dengan dia?''


''Tidak perlu tahu, kamu bisa minggir atau tidak!'' ucap Reyhan sedikit membentak.


''Sini kak biar aku gendong,'' Eza sudah bersiap akan mengambil alih tubuh Gina ke dalam gendongannya namun tangan Eza di tepis oleh Reyhan.


''Tidak perlu, minggir!'' Reyhan melewati Eza dan melanjutkan langkahnya untuk ke kamar tamu dengan Eza yang membuntut di belakangnya.


Sesampainya ia di kamar tamu, Reyhan meletakkan Gina di atas kasur dan menarikan selimut untuk Gina yang mungkin saja kedinginan karena air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.


''Tubuh sekurus ini ternyata berat juga, makan apa dia sebenarnya,,'' gumam Reyhan.

__ADS_1


''Ck, bawa tubuh sekecil itu saja kau mengeluh kak, tapi so' sekali tidak mau aku gantikan,'' sahut Eza.


''Mau apa kamu disini?''


''Tentu saja untuk berjaga-jaga, jika Kaka khilaf bisa-bisa anak orang di mangsa kakak,''


''Jangan bicara sembarangan, tertarik pun tidak aku dengan nya.'' Reyhan berdiri dan akan meninggalkan kamar tamu itu.


''Oh ya panggil Bi Minah untuk menggantikan pakaian dia,'' perintah Reyhan pada Eza.


''Buat apa panggil Bi Minah, aku juga bisa kalau untuk menggantikan pakaian nya,'' celetuk Eza yang langsung di balas dengan pukulan keras pada kepalanya dari Reyhan.


''Jangan macam-macam kau, ayo!'' Reyhan menarik Eza keluar dari kamar tamu dengan cara seperti akan membuang sampah ke dalam tempat nya.


''Cepat panggil Bi Minah, kalau aku tahu kau kembali lagi ke kamar itu, aku tidak akan segan-segan melumpuhkan kartu mu,'' ancam Reyhan yang seraya pergi dari sana.


''Ck, sakit sekali keplakan tangannya, bagus enggak gegar otak gue,'' gerutu Eza.


Eza yang merasa takut dengan ancaman sang kakak karena memang Reyhan tidak pernah berkata omong kosong dengan kata-kata nya itu, dia akan melakukan apa yang sudah ia ucapkan jika ia mau dan itulah Reyhan si pria dingin tidak berperasaan.


Setelah meminta seorang pembantu untuk menggantikan pakaian Gina seperti yang Reyhan perintahkan kepada nya, Eza pun pergi dari rumah karena memang ia akan bertemu dengan para temannya tapi sedikit tertunda karena melihat Gina yang di bawa Reyhan ke rumah mereka.


Sebenarnya banyak pertanyaan di dalam benaknya tapi karena Eza yang memang tidak pernah mengambil pusing sebuah perkara, akhirnya memutuskan untuk tidak ingin tahu banyak dengan apa yang kakaknya lakukan tapi ini bersangkutan dengan Gina. Eeza pun menunda keinginan tahunya.

__ADS_1


''Sepulangnya nanti, gue tanya aja langsung ke Gina,'' gumam Eza di dalam mobil.


Di ruangan lain, Reyhan sedang membersihkan dirinya yang akan pergi tidur, tapi tiba-tiba ia memikirkan keadaan Gina yang mungkin saja sudah di gantikan pakaian nya, mata yang merah dengan wajah yang kuyul karena air hujan bukan ia tidak menyadari kalau Gina saat itu sedang menangis, ya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, ada sedikit rasa iba di hatinya pada gadis menyebalkan itu tapi seketika ia usir rasa iba itu jauh-jauh karena mengigat sikap Gina yang kerap membuat nya kesal.


Sreekkkkkkk


Bunyi tirai di buka dengan seseorang yang berdiri bertolak pinggang menghadap ke arah tempat tidur yang dimana ada gadis yang masih terlelap di bawah selimut tebal.


Sinar matahari yang cukup menyilaukan mata membuat gadis itu berdecak kesal karena tidurnya terganggu oleh pancaran sinar matahari, ''Tutup gorden nya, silau iihh,,'' keluh nya yang belum tersadar sepenuhnya.


''Bangun,'' suara barinton itu terdengar sayup-sayup di acuhkan nya begitu saja. ''Bangun..'' Suara itu semakin terdengar jelas namun dengan nada yang sedikit naik tapi tetap di acuhkan nya. ''Gina! BANGUN!!!'' duuuaarrr,,, kali ini suara itu berubah menjadi bentakan dan membuat gadis 18 tahun itu terjingkat dan hampir terjatuh dari tempat tidur nya.


''Ih,,,ada apa sih, pagi-pagi begini udah teriak-teriak,'' protes Gina.


''Kau bilang ini pagi? buka mata mu lebar-lebar, lihat jam berapa sekarang,'' dengan polosnya Gina mengikuti apa yang di ucapkan pria yang tak lain adalah Reyhan Pratama pria yang sedang di jodohkan olehnya itu. Matanya ia paksa untuk terbuka lebar dan setelah melihat jarum jam yang menunjukkan di angkat sepuluh pagi, matanya semakin di buat lebar seakan-akan akan lompat dari tempat nya.


Gina loncat dari tempat tidur dan membuang selimut yang sebelumnya ia pakai den sembarangan, merasa panik tanpa alasan, matanya berkeliling seperti mencari sesuatu.


Di balik kepanikan Gina, Reyhan justru melongo melihat penampilan Gina yang memakai pakaian serba ketat, sebuah t-shirt dan celana yang super pendek, ia gelengkan kepalanya menyadarkan matanya yang seakan-akan terkunci oleh apa yang di kenakan Gina.


Reyhan segera mengambil selimut yang sebelumnya di buang Gina dan berjalan menghampirinya dengan selimut yang di bentangkan lebar-lebar.


Greppp' Reyhan menutupi seluruh tubuh Gina dengan selimut yang di pegang nya, Gina yang masih panik seketika terdiam karena posisi nya yang seakan-akan sedang di peluk oleh Reyhan dengan berbatasan selimut, wajah nya memerah begitu pun dengan Reyhan yang langsung melepaskan tangannya dari selimut yang sudah membungkus tubuh Gina.

__ADS_1


''Kau ini apa tidak tahu malu, mengenakan pakaian kurang bahan seperti itu, hah!'' hardik Reyhan dengan sedikit gugup.


__ADS_2