
Cukup lama Gina menangis dipundak Nenek Sari yang sabar menunggu Gina sedikit lebih tenang. "Sudah?" tanya Nenek Sari dan Ginapun mengangguk lemah.
"Sekarang ceritakan pada Nenek, ada apa sebenarnya?"
Gina terdiam sejenak sembari menyeka sisah-sisah air mata yang membasahi pipinya itu.
"Nenek tahu asal usul ku 'kan?" mata kendur itu memicing heran dengan pertanyaan gadis pilihannya itu.
"Kenapa kamu bertanya itu?"
"Apa nantinya tidak akan bermasalah jika aku berada di tengah-tengah kelarga Nenek?"
Pluk! Nenek Sari memukul pelan kepala Gina, entah kenapa ia tidak suka dengan pertanyaan Gina kali ini. Karena mestinya Gina dapat mengerti jika dia sudah memilihnya, itu berarti Nenek Sari sudah memikirkannya dengan panjang, terlebih lagi Nenek Sari bukanlah orang yang sembarangan.
"Jangan bertanya itu lagi, Nenek tidak suka!" Gina memanyunkan bibirnya. Lalu menyenderkan kepalanya lagi di pundak wanita tua itu.
"Nek, aku pernah bertemu dengan seorang gadis yang sebaya ku, dia mengenal ku. yang memang ternyata dia juga berkuliah di kampus yang sama, dia ternyata tahu asal-usul ku. Ada satu kalimat yang membuat ku terus memikirkannya."
"Apa itu?"
"Dia bilang kalau aku ini anak haram dari nama pria yang di panngilnya 'Om Bram'. Semula aku tidak ingin memikirkannya, tapi tempo hari saat aku dan mas Rey ke Mall, kami berrtemu dengan bapak-bapak yang saat ini sudah menjadi rekan bisnis Mas Rey."
"Lalu?"
__ADS_1
"Ya rupanya sangat mirip dengan ku, Nek. Bahkan namanya sama dengan yang disebut Tisha waktu itu, Bram."
Nenek Sari terdiam sejenak, matana melirik ke sampingnya yang terdapat sebuah gawai yang dia tahu itu adalah gawai lain millik Reyhan. Tangannya menyentuhnya diam-diam dan bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Dasar licik!" gumam Nenek Sari dan terdengar samar ditelinga Gina. "Apa Nek? Nenek ngomong apa?" tanyanya yang sudah menegakkan tubuhnya.
"Hah? tidak, begini saja. Katakan apa yang ingin kamu katakan, sebutkan yang ingin kamu mau, jin Nenek pasti akan mengabulkannya," ucap Nenek Sari dengan disusul kekehannya.
"Issshh Nenek, bercanda terus," decih Gina yang kesal.
"Hei anak nakal! Nenek serius, tidak percaya? cobalah."
Gina memicing tidak yakin, tapi dia juga penasaran yang akhirnya mengatakan semua yang selama ini mengganjal di hatinya. "Aku ingin memiliki wali ketika ijab qabul nanti," ucap Gina dengan harapan yang sangat tulus. Nenek Sari tersenyum lembut, tangannya mengusap sayang kepala Gina.
"Ya sudah sana, kamu coba gaun itu dulu, sepertinya itu terlingat sangat manis kalau kamu pakai." Tunjuk nenek pada sebuah gaun berwarna peach. gina mengangguk dan mendatangi seorang pegawai yang sedang berada di dekat gaun itu.
Sedangkan sang nenek, ia mengangkat gawai tadi lalu meletakkannya didekat bibirnya seraya berkata.
"Kau sudah mendengarnya 'kan, permintaan cucu menantu ku cukup sederhana, bukan?"
Ya sebelum Reyhan pergi ternyata dia sudah meneinggalkan gawainya yang lain yang sudah tersambung dengan gawai satunya, yang otomatis dapat mendengar semua pembicaraan Nenek dan calon istrinya itu. Di luar sana, Reyhan tertawa kecil karena ternyata rencananya menguping diketahui sang Nenek.
Beberapa saat kemudian, Reyhan pun masuk kembali kedalam mememui Neneknya yang langsung mendapatkan toyoran kepala dari sang nene. "Licik kamu ya?"
__ADS_1
"Tidak apa Nek, karena dengan cara ini aku dapat mengetahui yang sebenarnya dia pikirkan. Dan Reyhan pun menyadari kalau ada yang aneh dari pertemuan kami waktu itu. Yang ternyata Mario lah yang sudah berusaha mempertemukan Tuan Bram dengan Gina."
Nenek Sari hanya diam menyimak apa yang Reyhan katakan selagi Gina sedang berada di feeting room. Ya sebelumnya dia sudah merasa aneh dengan sikap Gina setelah bertemu dengan calon kliennya waktu itu. Akhirnya diapun menanyakannya langsung dengan temannya, Mario. Dan dia menceritakan yang sesungguhnya.
Karena sesungguhnya, Mario sudah menyadari dari awal, kalau wajah Gina memang sangat mirip seseorang yang sangat dia kenal, dan Mario diam-diam mencari tahu hal itu yang dia sendiri terkejut dengan kebetulan ini, bahwa Bram juga pernah memiliki kekasih yang bekerja sebagai sekertarisnya itu. Tapi karena keluarga Bram yang sudah kaya raya dengan bergelimang harta, keluarga pun tidak menyetujui hubungan mereka.
Yang dia tahu nama mantan kekasih Bram adalah Nur Azizah, dan itu nama yang sama dengan nama mendiang ibu dari Gina, yang dia tahu dari Reyhan, karena sebelumnya ia bertanya pada sahabatnya itu tentang keluarga Gina.
''Jadi maksud mu, Brama Bagaskara itu ayah kandung dari Gina?"
"Nenek mengenalnya?"
"Dia anak teman arisan Nenek."
Sari menghela nafsanya dengan kasar, Reyhan yang merasa heran dengan raut wajah Neneknya yang berubah. memberanikan diri untuk bertanya, tapi sebelum ia membuka mulutnya, Gina sudah datang dengan memakai gaun berwarna peach yang sangat menyatu di kulit bersih Gina. Ia terkesima melihatnya begitu juga sang Nenek yang mulutnya ternganga kagum
"Perfect, bungkus ini!" ucap Nenek Sari pada pegawai butik.
~~~~~
Mampir juga ke novel besty ku ya...
__ADS_1