Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 32- HARUS!


__ADS_3

Rindu melanda hati seorang Reyhan Permana. Tapi sayang dia tidak mengerti bagaimana melampiaskan apa yang ia rasakan.


Pria penggila kerja itu semakin tidak bisa di kontrol, bahkan ia kerap melewatkan waktu makan dan tidur nya hanya karena ingin mengalihkan perasaan dan pikirannya yang kacau itu.


Aska asisten pribadinya pun tidak bisa lagi membujuknya untuk makan dan juga hanya untuk sekedar beristirahat sejenak. Tidak! Aska tidak pernah melihat Reyhan seperti ini, sekacau ini? Reyhan yang dia kenal adalah Reyhan yang tenang dan berwibawa, dan mengutamakan kesehatannya, tapi tidak untuk kali ini.


Apa yang Reyhan katakan pada Gina kala itu, dia sendiri yang akan mengatakan atas perpisahan nya hubungan mereka pada sang nenek, belum juga Reyhan katakan sampai saat ini.


Reyhan pun sangat jarang sekali pulang kerumah, dia kerap tidur di kantor yang sudah di pastikan hanya ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan sang nenek atas Gina.


Namun saat ini ia menyadari satu hal.


Ia rindu Gina.


Brakkkk..


Emosi Reyhan seketika memuncak, karena menerima penolakan dari kliennya. Tanpa ingin tahu mengapa proposal itu di tolak.


"****! kurang ajar!!" ucapnya setelah menggebrak meja kerjanya.


"Pak, mereka menolak karena memang pihak kita yang melakukan kesalahan dalam penulisan proposal," ujar Aska.


"Apa maksudmu? kesalahan dalam penulisan proposal? kau kira aku ini bodoh!!"


Rupanya Reyhan belum juga mau mengakui kesalahannya, Aska pun hanya menunduk takut di tempat nya.


"Nama Produk yang kita sampaikan pada meeting kemarin berbeda dengan yang tertera di proposal," lirih Aska lagi mencoba untuk memberikan penjelasan pada Reyhan.


Reyhan menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah, merasa heran dengan apa yang di katakan Aska, iapun menunggu penjelasan Aska selanjutnya.


"Nama produk kita seharusnya GNE, tapi yang tertera di proposal adalah G-Gina."


Mata Reyhan memicing, merasa tidak yakin dengan apa yang di katakan asisten pribadinya itu, dengan segera ia memeriksa kembali isi dari pada proposal itu, yang dia sendirilah yang membuat nya. Sungguh terkejutnya, Reyhan sampai tidak bisa berkata-kata, dengan kasar ia mengusap wajahnya yang pucat.


"Sampaikan permintaan maaf ku pada mereka," ucap pelan Reyhan dan Aska pun mengangguk mengerti.


Aska berbalik badan ingin pergi dari ruangan dingin itu, tapi seketika ia urungkan, Aska berbalik kembali dan mendekat ke arah Reyhan yang terlihat sangat putus asa.


"Pak..? saya tahu Anda sedang ada masalah, tapi alangkah baiknya Anda menyelesaikan nya terlebih dahulu, saya tahu Anda sangat tersiksa dengan perasaan Anda, dan mungkin saja dia merasakan hal yang sama seperti Anda saat ini. "


Reyhan mengangkat kepalanya, menatap lelaki yang usianya tiga tahun lebih muda dari nya itu.


"Temuilah dia, sebelum Anda benar-benar kehilangan nya."


"Apa kamu yakin Aska, dia juga merasakan hal yang sama seperti saya?" Aska mengangguk dengan senyuman khasnya.

__ADS_1


Dengan yakin Reyhan pun beranjak dari tempat duduknya, meraih jasnya dan mengambil dompet juga kunci mobilnya.


"Mau saya temani?"


"Tidak, saya bisa sendiri!" tolak Reyhan tegas.


"Tapi terima kasih atas saran mu," ucapnya kemudian, lalu Reyhan pun pergi dari sana meninggalkan Aska yang masih berdiri di depan meja kerja milik Reyhan.


Di kampus, Gina yang baru saja keluar dari ruangan Auditorium karena baru saja menghadiri seminar sala satu dekan fakultas, Gina berniat kembali ke ruang kelasnya karena ada bukunya yang tertinggal di sana. Namun baru saja ia akan melangkah masuk, ada seorang gadis yang memanggilnya dari arah belakang.


"Gin?"


Gina menolehkan kepalanya, merasa asing dengan wajah gadis tersebut.


"Ya, saya?"


"Iya, tadi ada laki-laki penampilannya formal gitu, dia cari lu," ujar gadis tersebut.


"Laki-laki? lu ingat ciri-cirinya nggak?"


"Euumm.. orangnya tinggi, alisnya tebal, mmmm apa lagi ya... Oh ya! dia punya lesung pipi padahal dia nggak senyum lho.."


"Aah ya satu lagi, dia bawa bunga, cantik banget deh"


"Oh oke, makasi ya." Gina berusaha tersenyum walaupun jantung nya sedang berdegup kencang saat itu.


Gadis itu pun berlalu setelah menyampaikan pada Gina tentang ada yang mencarinya. Gina masih mematung di ambang pintu, dia masih memikirkan laki-laki yang ciri-cirinya di sebutkan oleh teman kampusnya itu.


"Apa iya mas Rey yang mencari ku?"


"Tapi untuk apa?" Gina bergumam sendirian.


Gina tidak mengerti apa yang ada di pikiran Reyhan, yang dia tahu bahwa sebentar lagi ia harus mengambil keputusan.


Tangannya sibuk mencari ponselnya yang ia simpan di dalam tas ranselnya, dan menghubungi Reyhan, tapi panggilannya di tolak.


Beberapa saat kemudian ada sebuah notifikasi masuk.


'Gin, ada apa? maaf mas tidak bisa angkat, lagi sama klien'


'Mas dimana?'


'Mas di kantor Violet Brand, yang ada di Semanggi, kenapa?'


'Aku akan datang'

__ADS_1


'Jangan, ini lumayan jauh, biar mas yang akan temui kamu, tunggu di rumah ya'


Gina tidak lagi membalas pesan Reyhan, ia juga tahu kalau alamat yang di sebutkan Reyhan itu memanglah jauh dari tempatnya saat ini, tapi dia harus ke sana. Harus!


Gina hanya ingin kepastian. Dia ingin tahu alasan Reyhan datang mencarinya dan membawakan bunga setelah mengatakan perpisahan yang membuat nya hancur beberapa hari ini.


Gina berjalan sedikit lebih cepat ke arah parkiran kampus, mengambil sepeda motor nya yang ia pinjam dari tempat kerjanya. Mengendarai dengan sedikit kencang namun tetap hati-hati.


Tapi entah mengapa, seakan alam sedang menyambut pertemuan mereka, langit tiba-tiba menggelap, angin bertiup lumayan kencang yang sudah di pastikan akan turunnya hujan. Dan benar saja, baru saja Gina berharap agar tidak hujan. Bulir hujan sudah menimpa pelindung kepalanya yang beberapa saat kemudian hujannya pun bertambah deras.


Ya, dan itu yang juga Reyhan saksikan di tempatnya. Matanya mengerling ke arah jendela raksasa pada ruang khusus santai pada sebuah perusahaan yang ada di lantai dasar yang bahkan bisa langsung melihat ke arah jalanan. Entah kenapa hatinya merasa cemas akan sesuatu, tapi apa?


Berulang kali ia mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat waktu pada arloji branded nya. Berharap perbicangan nya saat ini cepat usai dan dia dapat pergi dari sana lalu menemui Vlora di rumahnya.


Bahkan apa yang di katakan kliennya kerap membuat nya tidak bisa lagi ia cerna.


Angannya melambung memikirkan pesan dari Gina yang mengatakan kalau dia akan menemuinya, yang dia ingat balasannya nya tidak lagi Gina balas.


'Pak Reyhan '


Aska menyenggol lengan kekar Reyhan, karena dilihat dari manapun Reyhan memang sedang melamun saat ini.


Panggilan Aska pun tidak sama sekali Rehan idahkan, karena saat ini matanya sedang melihat ke sisi samping kirinya, ia melihat seorang wanita yang baru saja turun dari sepeda motor bututnya dengan pakaian yang cukup basah karena air hujan yang pastinya menimpa dirinya.


"Gina?"


"Pak Reyhan bilang apa?"


Reyhan beranjak dari tempat duduknya, Reyhan pergi dari sana dan bergegas keluar. Dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang di lihatnya memanglah Gina.


"Gin?"


Suara khas Reyhan sampai ke telinga Gina, wajah pucat dan bibir yang sedikit membiru karena dinginnya air hujan itu.


Dan disinilah Gina sekarang, dengan keadaan Reyhan yang juga berdiri di hadapannya. Sama-sama di gempur air hujan yang menggila.


"Mas Rey"


"Kenapa kamu kesini? bukankah mas sudah katakan kalau mas yang akan menemui mu." Reyhan melangkah selangkah lebih dekat lagi pada Gina.


Gina tahu pada kalimat yang Reyhan katakan itu menyembunyikan sebuah rasa. Dia selalu menyebut dirinya 'Mas' padahal baru beberapa hari lalu dia sendiri mengatakan perpisahan padanya.


"Aku tidak bisa lagi menunda nya lagi mas" lirih Gina membuka suaranya setelah terkunci kebisuan.


"Hah?" Reyhan bingung dengan ucapan Gina yang multi tafsir.

__ADS_1


__ADS_2