Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab-07


__ADS_3

Hari sudah sangat larut, Gina yang baru saja selesai dengan mata kuliah nya berjalan dengan lesu menuju halte bus yang ada di depa gedung kampus nya. ''Lelah sekali, apa aku harus ambil cuti di cafe, badan juga terasa lemas.'' Gumam Gina dengan tangan yang terus memijat-mijat lengannya sendiri.


Sebuah bus berhenti tepat di depannya dan Gina pun segera memasukinya, bus itu bukan menuju rumahnya melainkan menuju rumah sakit tempat ibunya di rawat. Ya Gina merasa lelah karena memang hari-harinya harus bekerja dan pergi ke kampus dan belum lagi harus mengurus ibunya yang masih sakit. Sungguh anak yang malang.


Saat ia sampai di rumah sakit, ia terkejut melihat beberapa orang yang ada di kamar rawat ibunya. ''Kalian siapa?'' tanya Gina.


Semua orang pun menoleh ke arahnya, termaksud seorang wanita tua yang belum sama sekali ia kenal. Wanita tua itu melihat ke arah Gina dengan tatapan meremehkan, berjalan melewati orang-orang dan berdiri tepat di depan Gina.


''Oh ini anak haram yang kalian hasilkan,'' ucap wanita tua itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan Gina setelah mendengar nya.


''Bu, Gina tidak salah, aku yang salah,'' lirih Reni ibu Gina.


''Oh ternyata namanya Gina, sangat tidak cocok untuk anak haram seperti mu!'' ucap wanita tua itu dengan nada yang menjengkelkan bagi Gina, ya Gina sudah terbiasa dengan sebuatan 'anak haram' untuk nya, tapi dia merasa bingung pada wanita tua yang saat ini ada di hadapannya serta beberapa orang lainnya.


''Kamar rawat kelas VIP, uang dari mana kalian mendapatkan kamar rawat berkelas seperti ini, atau kamu menjual diri untuk perawatan ibu mu, iya! sungguh anak dan ibu tidak ada bedanya.'' Buku-buku tangan Gina sudah mengepal sangat kencang, ia tidak merasa marah kalau dirinya di sebut dengan sebutan anak haram tapi ucapan wanita tua itu sudah sangat keterlaluan, jual diri? untuk berpikiran ke arah sana pun Gina belum pernah.

__ADS_1


''Jaga ucapan anda ya perempuan tua, jangan buat saya melupakan kesopanan saya terhadap orang yang lebih tua, kita boleh beda usia tapi tidak untuk berbeda nyali.'' Jawab Gina dengan tegas dan tentu membuat semua orang tercengang mendengar nya.


''Cih, tidak bermoral,,'' celetuk wanita tua itu.


''Gina cukup nak,'' lirih Reni.


''Kalian pergi dari sini atau saya panggil keamanan untuk mengusir kalian secara paksa.'' Ancam Gina bersungguh-sungguh, dan empat orang termaksud wanita tua itupun pergi dengan wajah yang kesal.


Lagi-lagi Gina harus menelan pil pahit dari masalalu ibunya sendiri yang berimbas kepada nya, sungguh menyakitkan hatinya, tubuhnya saat ini sedang lelah di tambah hati yang merasakan sakit karena perkataan orang yang belum ia kenal itu.


Gina menatap ibunya dengan tatapan kecewa, ia sudah berniat untuk melupakan permasalahan dirinya dan ibunya tapi kenapa seakan-akan borok yang sudah mulai sembuh itu di korek kembali, kalau bukan masalalu ibunya yang kelam dia tidak akan menjadi korbannya, pikir Gina.


Hujan begitu derasnya di cuaca yang lumayan terang, entah karena menyambut suara tangisan dari seorang gadis yang saat ini sedang merasakan kesedihan di bangku taman atau memang meledek keresahan hati gadis polos itu.


Dunia memang tak seindah harapan nya, seseorang tidak meminta di lahirkan untuk di jadikan bahan olok-olokan para manusia yang tidak berperasaan. Gina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tidak mau siapapun melihat nya menangis walaupun dia tahu, kalau tidak ada juga yang mau perduli dengan tangisannya.

__ADS_1


Mengingat hinaan yang ia peroleh dari orang-orang yang katanya masi kerabat nya itu sangat menyisakan banyak luka di hatinya, ''tidak, ini bukan salah ku ataupun ibuku, tidak seharusnya mereka berkata itu pada kami'' jeritnya di tengah-tengah derasnya air hujan.


Saat ia tengah menyembunyikan kesedihannya di balik hujan dan Guntur yang lumayan keras tiba-tiba ia merasa air hujan itu tidak lagi mengenai tubuhnya, kepalanya ia dongakan ke atas dan ternyata ada sebuah payung yang terbuka lebar di atasnya, dan ada seseorang yang berdiri memeganginya.


Matanya ia perjelas melihat seseorang itu, pria dengan setelah kemeja berdiri di sampingnya dengan payung hitam yang melindunginya dari air hujan yang bahkan ia merasa tidak berguna lagi melindungi tubuhnya dari air hujan yang sudah membuat nya basah kuyup sebelumnya.


''Pak Reyhan?'' ya pria itu Reyhan, entah sejak kapan Reyhan ada di sana dan untuk apa, Gina pun merasa bingung.


''Kau ini bodoh atau apa, hah! kekanakan sekali main hujan begini,'' ketus Reyhan memarahi Gina tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


''Kamu sedang apa malam-malam begini ada di sini?'' balas Gina tak kalah ketusnya.


''Sepeti biasa, nenek yang menyuruhku, sudahlah jangan banyak tanya, ayo ikut aku.'' Reyhan menarik tangan Gina dengan sedikit kasar, Gina yang sebenarnya masih sedih hanya bisa mengikuti langkah kemana Reyhan membawanya.


Bersentuhan langsung dengan pria sedingin Reyhan membuat Gina sedikit canggung, ya saat ini Reyhan tengah menggenggam pergelangan tangannya dengan di bawah payung yang sama.

__ADS_1


Tiba di depan mobil putih, Reyhan membukakan pintu untuk Gina dan menyuruhnya masuk dengan sedikit kasar tapi Gina tidak protes dengan sikap Reyhan karena kekuatan nya untuk berdebat kali ini belum sepenuhnya pulih karena rasa sakit yang di berikan wanita tua itu padanya.


Reyhan melirik sedikit ke arah Gina yang duduk tanpa protes ataupun celotehan yang kerap membuat nya kesal itu, Gina hanya diam dengan tatapan mata tertuju ke depan dan tidak berkata apapun, seharusnya Reyhan merasa lega karena tidak harus mendengarkan suara cempreng dari Gina tapi kenapa seperti ada yang hilang pada Gina baginya.


__ADS_2