
"Mas Rey.."
Panggil Gina dengan suara yang mesra, pada Reyhan yang baru saja selesai dengan meeting nya dan kembali ke ruangan nya. Reyhan tersenyum dengan hangat menatap Gina yang duduk dan bangkit menghampiri nya.
Pria yang membuntut pada Reyhan di belakang nya merasa terkejut karena panggilan mesra dari seseorang untuk bosnya itu. 'Mas Rey?' gumamnya yang berusaha melihat siapa yang memanggil bosnya dengan mesranya. Tubuhnya yang tertutup oleh tinggi badan Reyhan terjingkat, matanya terbelalak ketika melihat gadis yang tadi pagi ia maki-maki dan saat ini sedang tersenyum ke arah pemimpin perusahaan tempatnya bekerja.
Gina yang juga tidak mengetahui ada orang lain selain mereka terjingkat kaget ketika melihat sebuah kepala yang muncul dari balik tubuh Reyhan.
"Yah!! astaga... . Mas kok nggak bilang kalau ada orang lain di sini?"
Reyhan hanya tersenyum gemas melihat gadisnya terkejut seperti itu. "Pa-Pak Reyhan? dia?" lelaki itu dengan wajah yang pucat, berusaha mencari tahu dengan bertanya langsung pada sang direktur utama tempat nya bekerja.
"Dia calon istri saya" jawab Reyhan dengan nada yang dingin, seperti mengetahui apa yang di rasakan oleh karyawan nya, Reyhan justru memberikan peringatan dengan caranya sendiri.
"Saya sengaja memintamu ikut kesini, agar mengerti siapa yang kau maki-maki tadi pagi di hadapan karyawan lain."
Lelaki bernama Riski menelan ludah nya dengan sangat susah, ia benar-benar merasa bodoh karena bersikap kurang ajar, terlebih lagi pada gadis calon istri pemimpin perusahaan. 'Apa ini hari terakhir ku bekerja disini' Riski menatap Reyhan dan Gina secara bergantian, merasa bersalah.
"Maafkan saya, Bu bos" lirih Riski menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"hihihi, Bu bos? lucu sekali" bukannya berniat membalas perlakuan Riski karena ini memang kesempatan bagus, tapi Gina malah mentertawakan panggilan nya dari Riski.
Reyhan melirik Gina, alisnya terangkat semua. Lalumenggelengkan kepalanya karena merasa kagum dengan keluasan hati gadis remaja itu.
"Perkenalkan, aku Gina , Kaka!" Riski yang semula menundukkan kepalanya seketika terangkat dengan cepat, terkejut dengan sahutan gadis yang di panggil nya (Bu bos).
Bukan mendapatkan makian balik, seperti dugaannya melainkan yang dia dapat perlakuan sikap ramah dari gadis yang telah di maki-maki-nya. Terlebih lagi dia memanggil nya dengan sebutan, kakak?
"Kakak?"
"Ya, apa tidak boleh, Gina panggil kakak?"
Riski masih melebarkan matanya, dan beralih menatap Reyhan yang memberikan anggukan kecil padanya, agar mengatakan setuju untuk panggilan nya itu.
"Bo-boleh, boleh. Apapun panggilnya saya setuju!'' jawab cepat Riski. Reyhan memberikan isyarat lagi agar Riski keluar dari ruangannya. Dan kemudian diapun berpamitan dengan kedua nya.
Seperginya karyawan bernama Riski itu, Gina kembali tertawa karena mengingat panggilan untuk nya yang dia rasa cukup lucu.
"Kamu senang sekali ya?"
__ADS_1
Reyhan berjalan ke arah meja kerjanya.
"Bukan begitu, hanya saja, aku merasa panggilan itu tidak pantas dan konyol untuk ku."
"Kenapa begitu?"
"Apa aku terlihat seperti ibu-ibu?"
"Maksud mu?"
"Ya! Kakak tadi memanggil ku dengan sebutan Bu bos, aku kan bukan ibu-ibu," protes Gina. Reyhan pun hanya tertawa kecil mendengar nya.
.
Masih berada di ruangan yang sama, Gina dan Reyhan sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Gina yang sejak tadi sibuk membaca sebuah novel, dan Reyhan yang sibuk dengan pekerjaannya.
Namun sebuah suara yang cukup nyaring dan keras menyita perhatian keduanya, ya suara itu berasal dari gawai milik Gina, yang di letakan di atas meja. Gina yang langsung menjawab panggilan tersebut dan Reyhan yang diam-diam mendengarkan pembicaraan gadisnya itu, karena merasa penasaran dengan si penelepon.
"Kalau begitu nanti, aku bagian mencari buku itu."
"Ya! aku pastikan besok sudah ada."
"Mas, Gina izin keluar ya. Ke toko buku yang ada di persimpangan Juanda sana."
"Biar Mas antar, tapi sebentar ya. Mas selesaikan ini terlebih dulu—'' belum selesai Reyhan berucap, Gina sudah menyambar tangan Reyhan lalu mencium punggung tangan Reyhan.
"Tidak perlu mas, Gina bisa sendiri. Mas selesaikan saja, Mas bisa menjemput Gina ketika selesai. Assalamualaikum!" Gina berlalu keluar dari ruangan yang bertuliskan Direktur Utama itu.
Reyhan hanya menatap punggung Gina yang semakin menghilang di balik daun pintu, matanya melihat pintu dan tangan nya secara bergantian. Merasa tidak percaya akan sikap Gina yang membuat hatinya menghangat.
"Dia mencium punggung tangan ku?"
Tanpa di sadari, bibirnya terangkat sempurna membentuk bulan sabit yang indah, lesung pipinya pun semakin jelas terlihat dan mungkin saja jika orang lain melihatnya akan terpanah dengan ketampanan Reyhan, yang sejak lama tersembunyi di balik wajah dinginnya.
Gina menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat. Meminta untuk mengantarnya ke persimpangan jalan tepatnya ke sebuah toko buku yang ingin dia cari buku untuk kebutuhan kampus.
Mencari ke satu rak dan rak lainnya, Gina belum juga menemukan apa yang sedang di carinya. Sampai ketika ia melihat ke arah belakang kasir, matanya berbinar karena ternyata buku yang telah di cari-cari nya berada di sana.
"Kak, aku mau beli buku itu," tunjuk Gina pada buku bersampul putih.
__ADS_1
"Itu milik ku!" ucap seseorang dari arah belakangnya.
Gina memutar tubuhnya dan memicing berusaha mengingat orang yang saat ini sedang berdiri dengan melipat tangan nya di atas dada.
"Benar kak, ini sudah dibayar oleh kakak itu," penjaga kasir menyela pembicaraan.
"Oh begitu ya, apa ada buku yang sama?"
"Cih, buat apa kau mencari buku ini. Apa kau masih membebani dirimu dengan berkuliah? sadar diri itu perlu, kau tidak semestinya membanting tulang untuk membayar semua pendidikan mu, kalau ujung -ujungnya hanya bekerja di kedai kopi."
Ucapan pedas seorang gadis itu membuat Gina terhenyak, dan lagipula siapa dia? apa dia mengenalnya?
"Apa maksud mu!" tanya Gina dengan perasaan kesal. "Memangnya kau mengenal ku?"
"Siapa yang tidak mengenal anak haram seperti mu! seantero dunia pun tahu kau hanya anak haram yang terus mencoba menutupi jati diri mu itu!"
Gina tertawa kecil mendengar nya, mungkin orang lain akan marah dengan panggilan itu, tapi tidak untuknya karena baginya, panggilan itu sudah seperti lalapan sehari-hari dia. Ya, karena betul adanya, bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang terlahir tanpa adanya pernikahan.
"Siapa dia, Tis?" tanya seorang laki-laki yang baru saja bergabung.
"Oh dia? Dia anak haram Om Bram."
"Benarkah?"
Gina hanya mendengarkan pembicaraan dua orang seperti nya sepasang kekasih itu, dan Bram? Gina sedikit tersentak, karena baru ini mendengar nama yang di sebut kan itu, apa nama laki-laki itu benar nama sang Ayah?
Gina menggedikan kedua bahunya, masa bodo dengan nama yang di sebutkan orang itu, yang dia tahu kalau orang itu mungkin saja masih kerabat nya sebenarnya.
Gina menatap perempuan dan laki-laki itu secara bergantian, dan ternyata gadis yang bernama Tisha itu melihat ketika Gina yang kebetulan sedang menatap laki -laki itu.
"Kenapa kau menatap pacar ku? jangan pernah mencoba untuk menggoda nya! ibu dengan anak sama saja!"
Gina memejamkan matanya mencoba menahan dirinya, kemudian karena tidak ingin membuat keributan di tempat umum, Gina pun berlalu melewati keduanya tapi seperti tidak puas menghina Gina, perempuan bernama Tisha itu terus saja mengoceh.
"Lagipula mana ada laki-laki yang mau dengan mu, kalaupun ada yang mau kau pasti menggoda nya terlebih dulu!"
"Aku merasa kasihan dengan laki-laki yang akan menjadi pacarmu ataupun suami mu kelak. Menikah dengan anak tidak jelas asal-usulnya," lanjutnya dengan segala nyinyiran.
Tidak! Gina tidak sama sekali bergeming, ia hanya berjalan dengan menundukkan kepalanya tanpa ingin menoleh ke belakang lagi dan ,Bruk!
__ADS_1
Gina menabrak sesuatu, sesuatu yang tidak keras namun terasa bidang, sesuatu itu sangat wangi. Iris matanya melihat ada sepasang kaki yang berdiri di hadapan nya, perlahan ia mengangkat kepalanya dan ternyata orang itu adalah Reyhan, dengan raut wajah yang penuh dengan amarah menatap ke arah depan yang ternyata tertuju pada perempuan yang telah menghina nya itu.