Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab-06


__ADS_3

''Cukup sampai disini rapat hari ini, terimakasih,'' ujar Reyhan pada beberapa dewan direksi dan lainnya melalui laptopnya secara daring itu.


Sudah hampir lima jam lamanya Gina berada di dalam ruangan Reyhan, menunggu Reyhan selesai dengan urusannya, merasa lelah serta bosan Gina pun memilih untuk tidur dengan kepala yang di letakan di atas meja bertumpu dengan kedua tangannya.


''Kamu ingin makan apa?'' tanya Reyhan tanpa menoleh ke arah Gina yang tertidur di ruangannya, merasa tidak ada jawaban Reyhan pun melirik ke arah dimana Gina berada, alisnya menyatu memperjelas penglihatannya.


''Ck, merepotkan'' decak Reyhan, ''Heiii… , apa kamu tidak lapar!'' teriak Reyhan namun tetap tidak ada jawaban.


Merasa penasaran akhirnya Reyhan pun beranjak dari duduk nya dan berjongkok melihat wajah Gina yang tertidur dengan wajah damainya, sedikit terpaku namun sesaat kemudian ia menyadarkan dirinya dan segera berdiri.


''Pantas dia sampai tertidur, ternyata dia menunggu lumayan lama,'' ujarnya setelah melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


''Han, belikan makanan dua porsi, antarkan ke ruangan ku sekarang! terimakasih,'' ucap Reyhan memerintah pada seorang kepercayaannya yang bernama, Hanafi.


Reyhan yang memang seorang pekerja keras tidak mengenal lelah sedikitpun melanjutkan pekerjaannya sembari menunggu makanan yang di pesannya datang, namun baru saja ia meletakkan bokong nya, pintu kantor di buka seseorang tanpa di ketuknya.


''Kak… ,'' panggil seorang pemuda yang cukup tampan, berjalan memasuki ruangan kerja Reyhan, tanpa merasa bersalah karena bersikap tidak sopan.


''Apa adab tidak di di ajarkan di asrama?'' sindir Reyhan dengan sinis. Tanpa mengindahkan sindiran dari Reyhan, pemuda itu hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.


Langkahnya terhenti melihat seorang gadis yang tertidur di ruangan kerja Reyhan, ''Wah siapa dia?''


''Ssssstt, jangan buat masalah!'' cegah Reyhan agar pemuda bernama lengkap Eza Bimawan tidak mengganggu Gina yang sedang tidur.


''Siapa dia kak?''


''Kamu tidak perlu tahu.''


''Dia cantik lho kak.''


''Ada perlu apa kamu kesini?'' tanya Reyhan tanpa mempedulikan ucapan Eza yang memuji Gina.


''Oh ya, hampir lupa. Kak aktifkan lagi rekening bank ku ya, please…. ,'' rengek Eza.


''Baik, tapi apa kamu bisa selesaikan lukisan mu itu dengan baik?''


''Siap kak.''


Eza Bimawan, adik laki-laki dari Reyhan, walau bukan adik kandung namun Reyhan tetap menyayangi Eza dengan caranya sendiri, yaitu mendidik nya agar lebih dewasa serta lebih bertanggung jawab demi masa depannya juga.


Eza sangat berbakat di bidang melukis, sudah beberapa kali ia mencapai kejuaraan dunia dari bakatnya itu, dan Reyhan yang mengetahui itu lantas berniat membantunya agar lebih berjaya lagi, untuk membuatkan pameran lukisan yang akan di selenggarakan di bawah naungan anak perusahaan yang Reyhan pimpin.


''Tiga Minggu lagi pameran itu akan dilaksanakan, kakak harap kamu menyelesaikan lukisan yang kamu buat dengan keinginan kamu sendiri,'' ujar Reyhan dengan tegas dan di iyakan oleh adiknya dengan semangatnya.


Kedua beradik kakak itu sedang berbincang dengan serius, Gina yang merasa terganggu karena suara obrolan pun terbangun dan bergumam. ''Sudah jam berapa ini?'' gumamnya yang melirik ke arah jam yang tergantung di dinding, matanya terbelalak karena satu jam lagi kelasnya akan di mulai, ya hari ini ia mengikuti kelas malam karena waktu siangnya ia harus berkerja dan lembur karena menggantikan temannya yang cuti bekerja. ''Astaga! aku harus ke kampus!!'' pekiknya yang langsung berdiri dan memunguti tas serta jaketnya yang tergeletak di lantai kantor.

__ADS_1


''Hei, mau kemana kamu?'' tanya Reyhan.


''Aku harus ke kampus, Pak!'' jawab Vlora yang sedang merapihkan baju dan rambut nya yang di ikat tinggi membentuk ekor kuda. Sedang Reyhan bertanya, Eza malah terpaku melihat wajah Gina yang manis tanpa adanya polesan riasan apapun itu.


Suara ketukan pintu terdengar, seorang pria berpakaian formal masuk dengan sebuah paper bag di tangannya.


''Ini Pak, pesanannya,'' ucapnya dengan ekor mata yang sedikit melirik ke arah Gina yang masih sibuk dengan rambutnya.


''Ya terima kasih, kamu boleh keluar,'' usir Reyhan dengan tegas.


''Makan dulu, baru terserah kamu mau pergi pun silahkan!''


Merasa perutnya yang terasa perih akhirnya Gina langsung menyambar satu paper bag yang ada di atas meja lalu melahapnya dengan cepat. Reyhan dan Eza memperhatikan cara makan Gina yang tidak sama sekali mencerminkan dirinya sebagai gadis yang cantik.


''Gadis yang unik,'' celetuk Eza.


''Arogan sekali.''


Berbeda dengan Eza, Reyhan malah mengkritik cara makan Gina.


''Selesai, terima kasih makanannya, aku pamit!'' ucap Gina yang langsung berlalu pergi dari ruangan Reyhan.


Reyhan yang memang cuek hanya mengangkat bahu nya dan melanjutkan kembali pekerjaan nya.


Reza pun berlalu pergi dengan terburu-buru, entah apa yang akan di lakukan oleh pemuda labil itu kali ini, batin Reyhan.


''Hey...!!! tunggu!!!'' panggil seseorang dari belakang, mata Gina mengecil merasa asing dengan orang yang berlari ke arah nya.


''Saya?'' tanya Vlora menunjuk dirinya dan di angguki seseorang itu yang tak lain adalah Eza Bimawan, adik tiri dari Reyhan.


''Cepet banget sih jalannya,'' protes Eza yang sok kenal.


''Kamu siapa? kenapa panggil saya,'' ujar Gina.


''Biasa aja ngomongnya, enggak usah pake bahasa baku. Kenalin gue Eza,'' ucap Eza dengan bahasa anak muda kebanyakan, merasa dirinya seumuran dengan Gina, dia pun berusaha mengakrabkan diri dengan gadis manis itu.


''Oh ya, terus lu ada perlu apa sama gue?'' tanya Gina yang masih bingung.


''Yaelah, kaku amat lu. Oh ya, Lu mau ke kampus 'kan, kampus mana lu?'' tanya Eza.


''GunaBakti.''


''Kebetulan, gue juga kuliah disana, bareng yuk! gue juga ada kelas dua jam lagi.''


Tanpa menunggu jawaban dari Gina, Eza sudah menarik tangan Gina lebih dulu untuk masuk ke dalam mobilnya yang ia parkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


''Gue adik Reyhan,'' celetuk Reza karena menyadari kalau Gina canggung terhadapnya.


''Oohhhh, adiknya pak Reyhan, ngomong kek dari tadi,'' sahut Gina. ''Tapi setahu gue, adiknya pak Reyhan cewe,'' lanjutnya.


''Ya, itu adik bungsu kami, eh tapi kok lu bisa kenal sama dia, bagaimana ceritanya, soalnya setahu gue, dia itu ga pernah punya temen cewe,'' ujar Eza sembari tangannya sibuk membelok- belokan kemudi nya.


''Oh gue sama dia itu—''


Dddrrrrrtttt!


''Tunggu, ada telpon,'' potong Eza yang langsung menyambar ponselnya yang ia letakkan di samping jok mobil nya.


''Iya Ma...''


'Di mana kamu, Za?'


''Za di jalan mau ke kampus, ada apa Ma?''


'Oh ya sudah, kalau kelasnya sudah selesai, Mama mau ketemu.'


''Ok Mama ku sayang, nanti Za kerumah Mama.''


Perbincangan anak dan ibu itu selesai dengan bersamaan mereka hampir tiba di kampus universitas GunaBakti, dimana universitas swasta yang bergengsi di kotanya, dan Gina yang cukup beruntung bisa masuk ke universitas itu karena sebuah beasiswa.


Hanya membutuhkan waktu sebentar Gina dan Eza sudah mulai akrab, keduanya saling mengenalkan diri dan berbincang layaknya seorang teman baru, bercerita tertawa semua mereka lakukan di dalam mobil sampai tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di pekarangan gedung kampus.


''Eh omong-omong, gue minta kontak lu ya,'' ucap Eza yang langsung memberikan ponselnya pada Gina, yang langsung di iyakan dan mengetikan nomor kontaknya di ponsel Eza.


''Za, lu punya air mineral ga?''


''Kenapa? lu haus?''


''Udah sini, cepet.''


Eza pun mengambil sebuah air mineral botol yang ada di kursi belakang dan memberikan pada Gina, namun bukan untuk di minum melainkan Gina menggunakan air mineral itu untuk mencuci wajahnya di luar mobil dan itu membuat Eza tercengang karena tingkah Gina yang apa adanya itu.


''Kan bisa di toilet kampus!''


''Enggak sempat, terima kasih ya, gue duluan, byee...'' Gina pun berlalu meninggalkan Eza yang masih tercengang dengan tingkah Gina yang barbar.


''Benar-benar cewe unik tuh orang,'' gumam Eza dengan wajah yang tersenyum. Ya kepribadian Gina berbanding terbalik pada gadis-gadis kebanyakan yang kerap bersikap jaim padanya, sangat berbeda dengan Gina yang apa adanya dalam bersikap dan itu sangat jarang ditemui.


Gina memutar kepalanya melihat kebelakang, dimana Eza masih berdiri di sana. Bibirnya tersenyum dan melambaikan tangannya.


Entah mengapa ia sedikit lebih nyaman berada di dekat pemuda yang mengenalkan dirinya sebagai adik dari Reyhan itu, ketimbang bersama Reyhan sendiri yang mungkin saja karena faktor usia yang sebaya dengan Eza dan pada Reyhan yang sangatlah jauh.

__ADS_1


__ADS_2