
Reyhan membawa Eza eza ke sudut parkiran yang di sana memang jarang terjangkau siapapun, hanya ada ban-ban bekas dan kayu yang tidak terpakai.
Eza yang bingung mau apa dia di bawa ke sana hanya mengikuti langkah lebar kakaknya, tapi dia cukup syok karena raut wajah Reyhan yang seolah-olah sedang menghadapi musuhnya.
Eza tersungkur jatuh saat Reyhan melepaskan tangan nya yang mencengkram erat lengan dia.
''Kak! kakak kenapa?'' tanya Eza yang memang tidak mengerti kenapa kakak nya bersikap begitu.
''Kamu yang kenapa!!?'' tanya balik Reyhan dengan suara keras.
''Kenapa kamu selalu mencoba mendekati Gina?'' tanyanya lagi.
Eza bangun dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah Reyhan. ''Karena aku temannya,'' sahut Eza dengan sembarangan.
Reyhan menahan diri, buku-buku tangan memerah karena menggenggam erat, ''Dan bukan kau tidak tahu, aku adalah calon suami Gina,'' jawabnya dengan menggertakan gigi-giginya.
Entah kenapa bukan merasa takut atas raut wajah Reyhan, Eza malah tertawa terpingkal-pingkal, bukan tertawa bersama, melainkan mentertawakan ucapan Reyhan yang menurut nya. Bukanlah Reyhan yang bisa berkata seperti itu. ''Kak! sejak kapan kakak mengakui nya?'' tanya Eza.
Reyhan membeku, ya! tidak bisa di elak, memang semula ia enggan mengakui siapa itu Gina, tapi lamban laun, dia merasa marah kalau Eza terus mendekati Gina dan seolah-olah menjauhkan nya dari gadis 19 tahun itu.
''Bukan urusan mu! sekali lagi jangan mencoba menjauhkan Gina dari ku, dan jangan pernah ikut campur!'' tegasnya yang kemudian berlalu meninggalkan Reza yang masih memegang ponsel milik Gina.
"Apa kakak sudah benar-benar menyukai Gina?" batinnya pun berucap cemas.
Kejadian itu membuat Eza berpikir keras dengan sikap kakak nya yang begitu kasar terhadap nya, ada apa dengan kakak? kenapa kakak bersikap begitu, apa dia sudah mulai tertarik dengan Gina? dalam hati Eza pun terus bertanya-tanya.
Sepanjang koridor Eza menyeret kakinya, dengan lengan yang lebam karena terbentur sebuah batu di parkiran tadi karena Reyhan, kakak nya. Ia terus berpikir, apa benar kakak tirinya itu sudah menyukai gadis yang juga ia sukai, apa akan ada persaingan yang sengit di antara mereka?
Ujung matanya melirik ke arah dimana seorang gadis yang sedang berbincang di depan kelas, dan segera ia hampiri dengan sedikit berlari. ''Gin!?'' panggil nya
Pemilik nama itupun, menoleh dan tersenyum ke arah Eza yang memanggilnya. ''Za? ada kelas pagi?'' tanya Gina balik.
''Iya, oh ya, ini handphone kamu kan?'' ucapnya yang menyodorkan ponsel ke arah Gina.
__ADS_1
''Oh iyaaa,,, kenapa ada di Lo, Za?''
''Emmm... tadi kakak yang menitipkan nya,'' jawab Reza yang terdiam sejenak.
Tidak mungkin Reza menceritakan yang sebenarnya antara dia dan kakaknya di parkiran tadi, bagaimanapun ia juga tidak mau Gina menganggap dirinya buruk karena bersikap kurang ajar pada kakaknya sendiri.
***
Jam mata kuliah Gina telah usai, dan di sebuah bangku taman, Gina duduk dengan buku tebal di tangannya, ya Gina tengah mempelajari sesuatu.
Eza yang juga kebetulan sudah selesai dengan mata kuliah pagi nya, tidak sengaja melihat gadis yang di taksir nya itu duduk seorang diri dan segera menghampirinya.
''Gina?''
''Eehhh.. duduk,'' ucap Gina mempersilakan Eza duduk di sampingnya dan melanjutkan kembali membaca buku tebal itu.
''Emmmm.. masih ada kelas setelah ini?'' tanya Eza dengan canggung, ya entah kenapa setelah mendengar ancaman Reyhan, hatinya mulai was-was karena takut Gina benar-benar dekat dengan kakak nya.
''Iya, sama,'' jawab Eza yang hanya di angguki Gina, Reza terdiam sejenak memikirkan sesuatu yang akan di tanyakan nya. ''Emmmm, Gin?''
''Yaaa?'' bukannya langsung bicara, Eza terdiam lagi dan membuat Gina menutup bukunya karena menyadari kalau Eza akan bicara sesuatu.
''Kenapa Za?'' tanya Gina lagi.
''Emmm.. Ada yang mau aku bicarakan,'' ucapnya pelan dan Gina hanya diam dengan mengangkat kedua alisnya menunggu apa yang akan di katakan teman nya itu.
''Kamu dan kak Reyhan bertemu atas perjanjian antara kamu dan Nenek, 'kan?''
''He'umm. Lalu?''
''Ya perjanjian itu apa tidak bisa di batalkan, lagipula dasar perjanjian itu 'kan ibu mu, dan ibumu juga telah meninggal, apa kamu masih terikat kontrak juga?'' mendengar penuturan Eza, Gina terdiam dengan berpikir keras.
Ya benar apa yang di katakan Eza, dasar perjanjian itu berasal karena ia tidak bisa membayar biaya rumah sakit ibunya, dan sekarang ibunya telah beristirahat dengan tenang dan yang pasti sudah tidak ada lagi biaya yang dikeluarkan oleh nenek Sari untuk pengobatan ibunya.
__ADS_1
Dan juga tidak menutup kemungkinan, dirinya bisa membatalkan perjanjian itu bukan? apa ini sebuah kesempatan untuk nya lepas dari kontrak yang baginya telah membuat ia merasa terbelenggu oleh sebuah kertas kontrak itu.
''I...iya, ada benarnya juga,'' sahut Gina setelah berpikir sejenak dan entah kenapa mendengar sahutan Gina, Reza tersenyum dengan lebarnya.
''Ya, dan kamu juga bisa bebas tidak harus terikat janji apapun dengan Nenek,'' lanjut Eza, semua yang di katakan Eza memang benar, tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hati gadis 19 tahun itu, tapi apa? entahlah, ia pun tidak mengetahuinya.
***
Sebuah usul Eza ternyata mempengaruhi pikiran Gina, dengan langkah nya yang dia sendiri tidak yakin tapi ia juga harus melakukannya.
Gina berhenti di depan pintu sebuah kamar, tangannya terangkat dengan hati-hati lalu mengetuknya dengan pelan. Sebuah sahutan terdengar samar-samar namun terdengar olehnya.
Gina membuka pintu dan masuk ke dalam nya, seorang wanita paruh baya duduk di kursi goyang yang berbahan rotan menatap dengan senyuman lembut ke arahnya.
''Ada apa anak nakal, kemarilah,'' ucap nenek Sari padanya.
Gina duduk di kursi sebelah kursi Nenek Sari, ia tidak langsung bicara, Gina hanya diam dengan kepala yang tertunduk. ''Ada apa?'' tanya Nenek Sari lagi.
''Neek.. ada yang mau gina bilang,'' ucap nya pelan.
''Apa?''
''Tentang surat perjanjian itu,'' raut wajah nenek Sari kian berubah, seperti tahu akan apa yang Gina ingin katakan.
''Katakanlah,'' yang semula bicara wanita paruh baya itu dengan nada yang lembut seketika berubah dingin.
''Sebelumnya Gina minta maaf, bukan berarti Gina tidak tahu terimakasih, tapi Gina juga berhak bicarakan ini,'' ucap Gina lagi masih dengan kepala yang tertunduk.
''Nenek tidak lagi mengeluarkan biaya rumah sakit 'kan, karena ibu juga sudah tidak ada. Jadi, apa bisa kita membatalkan perjanjian itu?'' tanya Gina yang kian memberanikan dirinya untuk mengangkat kepalanya menatap langsung wajah nenek Sari.
Nenek hanya menghela nafasnya, tidak terkejut sama sekali dengan apa yang Gina ucapkan.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarkan ucapan Gina dari balik pintu dengan raut wajah penuh amarah.
__ADS_1