Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 24- Lupa


__ADS_3

Gina menatap bergantian pada Reyhan dan Eza yang juga sedang menatap dirinya, kemudian ia beralih menatap nenek Sari yang hanya memberikan senyuman menunggu jawaban darinya.


"Za," ucap Gina membuka mulutnya setelah beberapa saat terdiam. Eza melebarkan senyumannya menanti apa yang akan di ucapkan Gina setelah nya.


Gina menghela nafasnya sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Lo laki-laki yang paling asik yang pernah gue kenal, dan gue sangat, sangat nyaman saat berada di dekat lo," lanjut Gina membuat Eza tersenyum bahagia sedangkan Reyhan sudah menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang muram.


"Dan mas Rey," ucap Gina kemudian yang menatapnya dengan tatapan dalam membuat Reyhan pun menatap dirinya. "Mas laki-laki yang baik, sopan, juga penyayang walaupun dengan cara yang berbeda dari lelaki kebanyakan, tapi Gina merasa nyaman dekat mas." Reyhan tersenyum tipis mendengar nya.


Gina terdiam kembali, ketiga orang itu yang merupakan nenek dan kedua cucunya masih menunggu Gina melanjutkan ucapannya. "Jadi?" seru nenek yang tak sabar mendengar pilihan Gina terhadap dua laki-laki berbeda usia itu.


"Ya Gin, jadi bagaimana?" timpal Eza yang sama tidak sabar nya dengan sang nenek.


Gina menghela nafasnya lagi dengan panjang dan menatap Eza dengan wajah yang tersenyum manis. "Eza, sampai kapanpun lu akan jadi teman gue, teman yang enggak akan tergantikan."


"Jadi maksud kamu? kamu memilih Eza?" sambar nenek Sari yang belum sepenuhnya mengerti apa yang di maksud Gina.


Gina tersenyum lagi, dan kepalanya menoleh ke arah Reyhan yang masih menatapnya dengan tangan yang ia letakan di atas meja. GINA maraih tangan Reyhan dan menggenggamnya seraya berkata."Maaf, Gina sudah berpikir lama untuk ini. Dan yang memberikan kesempatan Gina untuk memikirkan nya itu, mas Reyhan sendiri, jadi.."


Gina sejenak menjeda ucapannya, berharap agar salasatu dari mereka menerima dengan apa yang sudah ia putuskan."Gina memilih mas Reyhan sebagai calon imam Gina," ucap Gina kemudian yang membuat semua orang terkejut terlebih lagi Eza yang benar-benar tidak menyangka atas pilihan Gina.


Karena yang dia tahu Gina sangat menentang perjodohan itu dan menerima nya dengan terpaksa karena adanya surat perjanjian kontrak dengan sang nenek.


"Gin? tapi kita 'kan sudah membicarakan itu semua," seru Eza yang belum menerima apa yang Gina katakan.


"Ya Za, tapi gue juga udah berpikir banyak kok, dan ini pilihan gue. Gue harap Lo bisa terima apa yang menjadi keputusan gue ya, maaf." Tanpa berkata apapun lagi, Eza pergi dari sana begitu saja membuat hati Gina merasa bersalah.


"Apa selama ini gue salah bersikap akrab sama dia," gumam Gina dalam hatinya.


"Sudah tidak apa-apa, biar Eza, nenek yang berikan pengertian. Pilihan Gina sudah tepat, jadi…, jagalah hubungan kalian agar tetap sehat sampai ketika ijab kabul di lakukan," ujar nenek Sari menasehati kedua pasangan yang berbeda usia terlampau jauh itu.

__ADS_1


"Nenek tinggal dulu ya, kalian habiskan bolunya jangan di buang, mubazir." ucap sang nenek mengerlingkan matanya lalu pergi dari sana meninggalkan Reyhan dan Gina.


Seperginya Sari, Gina yang menyadari masih menggenggam tangan Reyhan seketika berniat untuk melepaskan nya namun Reyhan menahannya membuat Gina tersipu malu karena apa yang di lakukan calon suami nya itu.


" Terima kasih," ucap Reyhan dengan nada yang sangat lembut.


"Untuk?"


"Untuk memilih saya, dan mendewasakan adik saya."


.


Sejak hari itu Eza sangat jarang pulang kerumah, ia kerap menginap di rumah teman-temannya dan jika ia ingin pulang hanya untuk mengambil pakaian ataupun berganti pakaian, ia akan menghubungi penjaga rumah dan mencari tahu tentang ada dan tidaknya Reyhan di sana.


Hubungan antara Gina dan Reyhan berjalan dengan semestinya.


Hari ini Reyhan sudah menghubungi Gina agar meluangkan waktunya untuk menemani nya di kantor namun entah kenapa Gina melupakan itu, ia justru malah datang ke acara pertunangan temannya dan itupun tidak mengabari Reyhan terlebih dahulu, ya karena menurut Gina tidak terlalu penting untuk mengatakan kemana dia pergi pada Reyhan yang berbanding terbalik dengan pria 35 tahun itu yang selalu ingin tahu kemana dan dengan siapa Gina pergi.


Di pesta pertunangan salasatu teman kampus Gina. Gina yang sedang asik berbincang dengan seseorang terjingkat kaget karena tepukan pada bahunya yang membuat ia seketika menolehkan kepalanya. "Irfan? Lo disini?" tanya Gina yang langsung mengenali seseorang yang telah menepuk pundak nya itu.


"Gin, udah lama kita enggak ketemu ya, apa kabar?" ucap lelaki yang bernama Irfan yang tanpa permisi langsung memeluk Gina dengan erat, Gina yang di peluk pun sedikit merasa canggung namun ia tidak bisa menolak nya.


"Alhamdulillah baik " sahut Gina yang perlahan melepaskan pelukan Irfan.


Dan tanpa ia sadari ternyata seseorang telah memotretnya dari jarak yang lumayan dekat, entah apa tujuan seseorang itu.


Berbincang dan saling menyapa itulah interaksi antara anak muda. "Gue permisi ke kemar kecil dulu ya," pamit Gina yang menuju toilet yang sudah tersedia di sana.


Pesta sudah hampir selesai, tapi Gina dan teman-teman masih saja berbincang-bincang dengan asik, dan tiba saatnya Gina yang sudah sangat mengantuk akhirnya berpamitan pada teman-temannya untuk pulang lebih dulu.


"Gin, Lo mau pulang?" tanya Irfan yang menyusul langkah nya yang sudah keluar dari gedung tempat acara berlangsung.

__ADS_1


"Iya, Lo juga?" Irfan pun hanya mengangguk. "Lo masih tinggal di rumah yang dulu?" dan Gina membalas nya dengan anggukan juga.


"Kalau gitu, bareng aja."


"Yakin?"


"Iyaa. Ayo!"


Gina pun ikut dengan sepeda motor milik Irfan, menuju rumah peninggalan sang ibu yang saat ini tinggali, sesampainya mereka di sana, Gina segera turun dari sepeda motor Irfan tanpa menawarkan untuk Irfan singgah walaupun sesaat karena memang sudah sangat larut, berbincang sebentar tanpa dia sadari ternyata ada seseorang yang sudah duduk di kursi yang ada di depan rumahnya.


"Kalau begitu, gue masuk ya, terimakasih dan hati-hati." Setelah Irfan melajukan sepeda motor nya meninggalkan Gina, Gina pun segera menuju rumahnya dan betapa terkejutnya ia melihat Reyhan yang duduk di sana dengan tatapan tajam ke arah nya.


"Mas?" Reyhan hanya diam dan Gina semakin melangkah mendekat ke arah Reyhan.


"Sejak kapan Mas ada disini?"


"Sejak kamu turun dari motor laki-laki tadi." Gina menelan ludah nya dengan susah payah, bukan tidak mengerti dengan kondisi saat ini, bahkan ia sangat mengerti karena dia juga tahu sifat Reyhan yang pencemburu terlebih lagi mengetahui kalau ia dekat dengan pria lain walaupun ia tidak memiliki hubungan spesial dengan orang itu.


"Ponsel mu kemana?" tanya Reyhan dengan nada yang dingin, dan Gina segera mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, betapa terkejutnya saat ia melihat panggilan tidak terjawab sebanyak 13 kali dan itu semua berasal dari nomor Reyhan yang di beri nama dengan 'Mamas Rey', manisnya.


Gina tersenyum canggung dan menundukkan kepalanya merasa bersalah, "apa kamu melupakan janji untuk datang ke kantor?" Gina mengangkat kepalanya berusaha mengingat dengan apa yang di katakan oleh Reyhan.


Matanya terbelalak karena baru mengingat bahwa ia sudah berjanji untuk datang ke kantor milik Reyhan hari ini. "Maaf," lirih Gina. Reyhan tidak mengatakan apapun lagi ia hanya diam menatap Gina, "Maasss... maaf," ucap Gina lagi namun dengan nada yang di buat manja agar Reyhan luluh dengan sikap nya.


Tanpa mengatakan apapun Reyhan berdiri dan melangkahkan kakinya, bukan melangkah untuk pergi melainkan untuk menghampiri Gina dan memeluk nya dengan erat.


"Mas?"


"Saya sedang marah sama kamu, jangan ngomong! saya cuma mau meluk biar marah saya cepat hilang."


Gina mendengar nya seketika tersenyum di balik dekapan hangat tubuh Reyhan. Itulah yang Gina suka dengan sifat Reyhan setelah mereka menjalani hubungan yang semakin erat itu, saat Reyhan marah bukan membentaknya melainkan memeluk Gina agar redalah amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2