Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 20


__ADS_3

Gina keluar dari kamar nenek Sari dengan kepala yang tertunduk, berjalan dengan menyeret kaki dan tasnya menuju pintu utama. Sungguh sebenarnya ia juga berat mengatakan hal demikian tapi dia juga harus menyampaikan nya.


Melihat wajah nenek Sari yang bersedih membuat Gina merasa bersalah. Karena dia juga sudah sangat dekat dengan nenek Sari dan begitu juga dengan beliau yang sudah menganggap Gina seperti cucunya sendiri.


Sebelum benar-benar pergi dari sana, Gina terpaku di tempatnya dan memperhatikan rumah besar itu, cukup singkat memang mengenal keluarga baik seperti nenek Sari juga Eza dan Reyhan walaupun terkadang pria 35 tahun itu sering membuat Gina marah karena sikap nya yang dingin dan cuek juga galak terhadap nya.


Saat Gina sedang mengenang kebersamaan dia dengan nenek Sari di rumah itu, sebuah tangan besar mencengkeram lengan nya dan menarik paksa dengan sedikit kasar, membawa nya ke arah dimana tempat itu adalah sebuah kamar yang Gina tahu itu adalah kamar milik Reyhan.


Dengan cahaya yang minim yang lebih tepatnya memang gelap karena hanya ada cahaya dari bulan yang masuk dari jendela kaca kamar itu. Gina sudah tersudut di dinding belakang pintu, seorang pria menghimpit nya dengan kedua tangan kekarnya. "Pak Reyhan?" lirih Gina dengan perasaannya yang tidak karuan karena posisinya yang saat ini sangat lah dekat dengan Reyhan kala itu.


"Bagaimana kamu bisa tiba-tiba mengambil keputusan secara sepihak itu?!" tanya Reyhan dengan menekan ucapannya.


"Keputusan apa? A-apa maksud pak Reyhan?" gugup Gina yang merasa semakin tidak nyaman dengan posisinya kini.


Reyhan tidak menjawab nya, ia hanya menatap dalam manik netra Gina yang semakin terlihat gugup karena nya.


"P-pak, bapak mau apa?" tanya Gina lagi.


"Saya ini calon suami mu! bukan bapak ataupun orang asing di hidup mu, apa tidak bisa kau memanggilku dengan nama?!" Reyhan lagi-lagi menekan ucapannya yang membuat Gina semakin terpojokkan.


"Ta-tapi usia kita-''

__ADS_1


Brugh'


Reyhan memukul dinding tepat dekat kepala Gina sehingga membuat gadis 19 tahun itu seketika menghentikan ucapannya dan memejamkan matanya karena takut.


"Apa hanya karena usia? tidak ada yang lainnya?" Gina membuka matanya, tidak ada jawaban darinya, ia hanya diam dengan terus menatap dalam manik coklat milik Reyhan yang saat ini tengah menatap nya juga.


"Mas.." lirih Gina dengan sangat pelan dan mampu membuat tatapan tajam Reyhan seketika mengendur, tangan kanannya ia turunkan, merasa syok dengan panggilan Gina yang terdengar tulus itu bukan di buat-buat.


"Aku minta maaf selama ini telah merepotkan mu, membuat kamu selalu marah karena sikap ku yang kekanakan, kita bertemu karena sebuah perjanjian yang di buat nenek, tapi perjanjian itu sudah selesai. Jadi..." Gina menjeda sebentar ucapannya dan saat mulutnya akan memulai ucapannya kembali tiba-tiba Reyhan menyerang bibir mungil Gina dengan bibir tebalnya.


Hanya sekejap, ya Reyhan hanya mengecupnya sebentar menandakan bahwa ia tidak ingin mendengar apapun lagi yang keluar dari mulut Gina tentang perjanjian itu.


"Saya minta maaf, tapi saya harap kamu bisa mempertimbangkan lagi untuk menyudahi hubungan ini. Lima hari! berikan waktu lima hari perasaan mu untuk mengambil keputusan apa yang harus kau ambil," ujar Reyhan begitu serius.


Gina tetap diam dengan terus menatap wajah Reyhan yang memberikan senyum tipisnya bahkan nyaris tidak terlihat itu. Ya Reyhan memanglah pria yang kaku, seumur hidupnya ia bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis dalam kata lain berpacaran! dan baru pertama kali ini ia dekat dengan seorang wanita dan itu adalah Gina.


Tangan Reyhan bergerak menyentuh kepala Gina, mengusap nya dengan lembut seraya berkata, "Jika memang kau ingin pergi sekarang juga, saya tidak bisa lagi menahan mu. Bahkan saya akan berjanji padamu, kalau nantinya, saya tidak akan menemui ataupun menunjukan wajah saya padamu untuk selamanya," ujarnya yang kemudian Reyhan pun pergi dari sana meninggalkan Gina yang masih terpaku di tempatnya, di kamar Reyhan.


Beberapa saat kemudian, Gina keluar dari kamar Reyhan dengan langkah nya yang lemas, berpikiran di setiap langkah kalau keputusan nya itu tepat baginya atau tidak! tapi sebenarnya apa yang di maksud Reyhan itu? apa lelaki itu sebenarnya ingin mengatakan kalau dia tidak ingin dirinya pergi dan membatalkan perjanjian perjodohan itu. Lalu apa mungkin Reyhan sudah menyukai nya? Gina terus saja bermonolog dengan dirinya sendiri.


Gina memang sangat ingin terbebas dari rencana perjodohan itu tapi hati nya seakan ingin sekali menetap dengan apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


Dari arah belakang suara hentakan kaki terdengar menghampiri nya. "Gin?!" panggil nya yang ternyata adalah Eza. Gina hanya tersenyum dengan tipis menanggapi panggilan Eza.


Eza memperhatikan tempat kemudian berbisik pada Gina ke telinga nya. "Bagaimana, apa kau sudah membicarakannya pada nenek?" tanya Reza penasaran.


"Sudah."


Seketika Eza mengulumkan senyumannya, merasa bahagia setelah mendengar jawaban gadis itu, membayangkan Gina akan benar-benar menjauh dari Reyhan, kakaknya sendiri dan itu membuat dia mempunyai kesempatan untuk mendekati Gina.


"Tapi Za.." lirih Gina yang kemudian membuat raut wajah Eza berubah seketika, perasaannya tidak enak dengan aoa yang akan di katakan Gina.


"Tapi? tapi apa?"


"Entahlah, hati gue tiba-tiba menolak apa yang gue mau lakuin.." seru Gina.


"Maksud kamu? apa jangan-jangan kamu udah suka sama kakak?" tebak Eza tapi Gina tidak sama sekali menjawabnya, ia hanya diam dengan tatapan jauh ke depan.


Baru saja Eza akan mengatakan sesuatu pada Gina lagi, tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Membaca pesan singkat yang masuk itu kemudian berpamitan pada Gina karena teman-temannya yang menghubunginya itu sudah menunggunya di tempat biasa ia berkumpul.


Gina menatap punggung Eza yang semakin menjauh, perasaannya gusar saat ini. Bukan ia tidak menyadari akan perasaan Eza terhadap nya tapi Gina tidak sama sekali menunjukan kepekaan terhadap maksud Reza. Ya awalnya Gina juga menyukai sosok Eza namun semakin lama membuat ia berpikir kembali, akan bagaimana ia nantinya jika menjalani hubungan dengan lelaki yang bahkan tidak memiliki sifat kedewasaan sedikit pun.


Eeza memang baik, perhatian terhadap nya tapi ada sosok lain yang membuat Gina lebih nyaman saat berada di dekatnya, siapakah dia? entahlah sosok itu masih tersimpan rapat di hatinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2