
Pertanyaan Gina membuat Reyhan mengernyitkan dahinya. Reyhan menatap hangat pada iris mata Gina yang bulat mencari alasan Gina kenapa bisa mempertanyakan hal yang membuat nya heran.
"Apa maksud dari pertanyaan mu?" tanya Reyhan setelah terdiam sejenak.
"Ya, Gina hanya memastikannya saja. Apa mas benar-benar yakin untuk menikah dengan gadis seperti ku?"
"Gadis seperti mu? Gin! mas mohon katakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan!"
Gina terdiam lagi, mengambil nafasnya, lalu menghelanya dengan panjang.
"Mas. Mas ini laki-laki sukses dan cukup populer di kalangan bisnis. Apa mas tidak berpikir kalau nantinya akan bersanding dengan gadis yang terus menjadi bahan gosip."
"Gosip? gosip apa?"
Gina tersenyum sekilas, kemudian menggelengkan kepalanya. Reyhan yang merasa tidak mendapatkan jawaban, akhirnya mengulurkan tangannya meraih dagu Gina yang saat ini tertunduk memainkan kuku-kuku jari tangan nya.
"Gin?"
Tangan Reyhan membuat kepala Gina menoleh ke arahnya, mata mereka pun bertemu.
"Ada apa? apa yang sebenarnya terjadi. Gosip apa yang kau maksud?"
"Nggak Mas, sudahlah enggak apa-apa. Lagi pula aku juga udah terbiasa kok."
"Gin? kamu enggak mau jujur sama mas?"
Gina mengulumkan bibirnya, sungguh suara lembut Reyhan membuat ia tenang. Hati nya berdesir dan menghangat.
"Mereka selalu mengatakan kalau aku ini anak haram, dan mereka juga selalu berkata kasihan pada laki-laki yang akan menjadi pacarku ataupun suami ku karena aku ini gadis yang tak bernasab. Ya walaupun memang kenyataannya seperti itu."
Bahu Reyhan merosot, hingga rasanya menyentuh kursi mobil. Mendengar ucapan Gina rasanya ia turut merasakan apa yang di alami Gina gadis malang ini.
"Jangan pernah membenarkan apa yang mereka katakan. Lagipula mas tidak pernah mempermasalahkan siapa kamu. Kalau begitu, mas akan atur pernikahan kita secepatnya dan mengumumkan nya pada semua orang, dan buktikan bahwa omongan mereka itu salah."
"Mas"
"Apa?"
"Apa jadinya jika Mas benar-benar menikahi ku, aku ini bukan siapa-siapa yang pantas menjadi gadis beruntung itu."
__ADS_1
"Lalu kenapa? kamu pilihan Mas! dan Mas sendiri lah yang memilih mu untuk menjadi istri mas."
"Tapi Mas—"
"Tapi apa?!"
"Orang-orang akan mulai membicarakan Mas Rey. Dan Hina tidak ingin hal itu terjadi. "
Lagi-lagi Reyhan menghela nafasnya dengan panjang, ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya Gina pikirkan.
"Dengar, Gin! Mas enggak ngerti kenapa kamu peduli dengan omongan orang lain. Yang mas mau hanya kamu! kamu yang mas pilih untuk menjadi istri mas, wanita pilihan mas! wanita yang akan menemani mas sampai mati!"
"Mas!" suara Vlora meninggi dengan spontan.
"Ya! aku memang peduli dengan omongan mereka. Karena kita memang hidup karena penilaian orang lain!"
Reyhan mendorong nafasnya kasar dan duduk dengan tegap di kursinya. "Aku udah seperti itu sedari dulu mas."
Reyhan menoleh kembali, memutar tubuhnya menghadap ke arah Guna yang ada di sebelah kirinya.
"Bicara apa kamu ini!"
Gina bergegas keluar dari mobil Reyhan, dan baru saja kaki kirinya keluar Reyhan sudah mengatakan sesuatu lagi.
"Kalau begitu mas akan mengumumkan pernikahan kita besok!"
Gina mendengar nya, namun Gina mengabaikan nya. Ia terus saja melangkah keluar dari mobil membiarkan Reyhan menatap punggungnya yang semakin menjauh dan hilang setelah Gina masuk ke sebuah taxi yang kebetulan sedang menunggu penumpang di sana.
Dalam diamnya, Reyhan memikirkan perkataan terakhir Gina yang terucap. 'Tapi.. membuat kamu mendapatkan hinaan itu juga, karena aku? aku mana sanggup mas'
Perlu beberapa waktu membuat Reyhan mengerti kalau arti dari perkataan terakhir Gina yang terucap sebelum dia pergi, yang sebenarnya Gina takuti ialah dirinya.
"Dia tidak ingin saya mendapatkan hinaan sama seperti nya setelah menikahinya? apa itu yang dia coba katakan?"
Reyhan menyapu rambutnya ke belakang, kepalanya terasa pening secara tiba-tiba. Dia tidak menyangka bahwa Gina berpikiran sejauh itu tentang nasibnya jika menikah dengan dia.
Reyhan terus saja memikirkan Gina bahkan saat dia sudah kembali ke perusahaannya. Pikiran nya benar-benar penuh dengan nama Guna, juga wajah gadis manis itu. Terlebih lagi matanya yang berkaca-kaca saat pembicaraan terakhir mereka.
"Lalu sebenarnya bagaimana perasaannya terhadap ku?"
__ADS_1
Reyhan menyadari kalau ada sesuatu yang salah, yang sebenarnya dia belum juga mengatakan perasaannya secara langsung pada Gina. Dia hanya mengatakan akan menjaganya dan menikahi nya tidak dengan pengutaraan perasaan.
Sungguh perdebatan kala itu membuat keduanya saling menjauh, menjauh bukan ingin melarikan diri, namun mereka saling memberikan ruang, agar pikiran positif mengambil alih semuanya.
Rindu! keduanya di serang virus rindu. Reyhan yang belum juga melihat Hina sejak hari itu dan untuk menghubungi nya ia juga merasa ragu. Begitu juga dengan Gina yang sangat merindukan Reyhan, karena setelah perdebatan itu terjadi, Reyhan bahkan tidak pernah lagi menghubungi nya.
Gina tersenyum pilu melihat wajahnya di pantulan cermin yang berbayang. Mengingat perkataan Reyhan yang katanya akan mengumumkan pernikahan mereka keesokkan nya, bahkan memberikan kabar pun sampai saat ini tidak!
"Mas apa yang kau katakan itu semua hanya ingin membuat ku semakin berharap?" gumam Gina. "Aku kangen mas...," lanjutnya dengan begitu lirih.
Setelah bersiap, Guna segera berangkat ke kampus nya.
Reyhan tidak sempat pulang ke rumah beberapa hari ini, dan lebih tepatnya ia tidak ingin neneknya menanyakan keadaan hubungan nya bersama Gina, karena memang hubungan mereka sedang ada sedikit masalah.
Sepagi ini, Reyhan sudah rapih dengan setelan kemejanya. Berdiri di jendela raksasa ruangan kerjanya dengan tangannya yang memegang sebuah cangkir kopi panas.
Menatap jauh kedepan, dan lagi-lagi Gina lah yang ia pikirkan. Ya! siapa lagi kalau bukan gadis keras kepala itu.
"Bagaimana kabarmu Gin. Apa saya harus mengutarakan perasaan saya langsung. Agar dia tidak lagi ragu terhadap saya?"
"Bicara sama siapa, pak?"
Reyhan segera menoleh dengan kedatangan Aska pagi itu dengan membawakan sebuah paper bag yang Reyhan tebak isinya adalah makanan untuk dia sarapan.
"Bawa itu balik, saya tidak berselera makan," ketus Reyhan yang kemudian duduk di kursi kerjanya.
"Pak. Madam menanyakan Gina pada saya. Saya haru jawab apa?"
Benar dugaan Reyhan kalau sang nenek mencoba mencari tahu tentang hubungan nya dengan Gina.
"Katakan saja, dia sedang sibuk dengan pelajaran nya."
"Pak. Setiap wanita manapun pasti menginginkan status yang jelas juga butuh kepastian yang valid. Jangan menunda nya pak. Nanti menyesal. Saya permisi dulu, ini saya letakan di sini ya."
Reyhan memiringkan kepalanya, menatap punggung Aska yang menjauh, 'apa yang di maksud si manusia kalong itu?' Reyhan bertanya-tanya.
Ya di sinilah Reyhan berdiri, di kampus GunaBakti tempat Gina kuliah. Bibirnya tersenyum melihat seorang gadis manis yang berjalan dengan rambut yang bergerak mengikuti irama langkahnya. Namun baru saja ia akan melangkah tiba-tiba terhenti.
Ia mengeratkan gigi-giginya marah, karena melihat Gina yang sedang bersama seorang pria dengan akrab nya..
__ADS_1