Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 35 - Bergadang


__ADS_3

Di ruang tamu. Reyhan yang duduk dengan wajah yang memerah tidak sama sekali membuka mulutnya untuk bicara, entah kenapa ingatan nya terus aja melihat penampilan Gina yang hanya memakai kemeja besar miliknya tanpa sebuah bawahan.


Gina yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan miliknya sendiri, duduk dengan santai di sana di ruang tamu hanya dengan satu sofa panjang yang usang dengan meja di depannya, sudah ada Sup hangat untuk tubuh mereka yang semula kedinginan bisa kembali pada suhu normal.


Gina sedikit merasa heran karena sikap Reyhan yang tiba-tiba menjadi pendiam. Ya walaupun memang Reyhan tidak banyak bicara tapi kali ini Gina melihat ada yang berbeda pada diri Reyhan, terlebih lagi wajah dan daun telinga Reyhan yang memerah dan berkeringat? bukankah malam ini semestinya siapapun merasa kedinginan karena baru saja turun hujan? batin Gina.


Apa karena rumah sederhana itu hanya memiliki kipas angin yang bahkan kekuatan anginnya tidak setabil karena termakan usia. "Maaf ya Mas, disini tidak ada pendingin ruangan," celetuk Gina


"Hah? maksudnya?"


"Ya pasti Mas kepanasan, itu keringat Mas saja kelihatannya banyak sekali."


Seketika Reyhan mengelap keningnya yang memang sudah di banjiri keringat, Reyhan semakin di buat gugup karena Gina melihat itu. Tapi Reyhan cukup tenang karena Gina tidak benar menyadari apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Di makan Mas supnya, keburu dingin."


"Ya, terima kasih, tapi.."


"Tapi apa, Mas?"


"Mas ingin bertanya lagi, kenapa kamu pergi menemui mas, hm? padahal Mas sudah mengatakan kalau Mas yang akan datang padamu."


Reyhan menyuap sup kemulutnya dan matanya melebar karena tidak menyangka kalau sup itu rasanya enak sekali.


"Aku ingin tahu sebenarnya apa yang Mas rasakan pada Gina. Mas mengajak ku menikah tapi selama ini..., Mas tidak sama sekali mengatakan bagaimana perasaan Mas pada Gina selama ini," tutur Gina.


Gina tertunduk, ia menyembunyikan wajahnya dari Reyhan dan menunduk malu, jantung nya berdebar kencang saat Reyhan meraih tangan kirinya dan mengangkat dagunya agar mata mereka bertemu saat berbicara.

__ADS_1


"Mas mencintaimu, Gin."


Reyhan menjeda sebentar ucapannya.


"Kamu pikir buat apa Mas mencari mu seperti orang bodoh yang terus bertanya pada setiap orang di kampus mu itu, sampai harus rela menjadi godaan para gadis genit di sana, karena Mas benar-benar merindukan mu."


Gina mengigit bibirnya sekilas, tatapan mata teduh Reyhan menyihir setiap sudut hatinya dengan rasa perih. Bukan karena sakit tapi karena debaran yang sakit karena rasa bahagianya.


"Mas Rey, merindukan ku?"


Reyhan mengangguk dengan yakin.


"Tapi kenapa, Mas tidak sama sekali menghubungi ku setelah hari itu?"


"Itu karena Mas tidak memiki keberanian yang lebih. Mas takut semakin membuat mu terluka karena Mas, dan itu pastinya membuat Mas juga semakin merasa bersalah pada mu."


Reyhan tertawa kecil melihat tingkah Gina, tangannya menyentuh rambut Gina dan menyelipkan nya ke belakang telinga. "Kamu lucu sekali sih!" ucapnya dengan gemas.


Mereka menghabiskan sup dengan sembari berbincang dengan posisi pintu yang sengaja di buka lebar-lebar oleh Gina karena tidak ingin menimbulkan fitnah. Dan itu memang tindakan yang tepat dari Gina. Karena kita tidak tahu isi hati dari orang lain.


"Kalau begitu, Mas pamit ya."


Gina mengangguk palan.


Mereka berdiri dan menuju pintu, Gina membuntut di belakang karena ingin mengantar Reyhan sampai depan rumah.


"Mas hati-hati ya. Maaf, Gina tidak bisa menawarkan untuk Mas menginap disini."

__ADS_1


"Mas mengerti." Reyhan mengusap kepala Gina dengan sayang.


"Tapi beberapa waktu lagi kita akan satu rumah bahkan satu kamar," bisik Reyhan sengaja menggoda gina dan lagi-lagi Gina di buat salah tingkah olehnya.


"Mas.. udah ah jangan terus menggoda Gina lagi."


Tatapan Reyhan tidak beranjak dari wajah manis Gina, bahkan hatinya tidak sanggup berpisah dengan nya walaupun hanya sebentar. Tapi kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekelilingnya dan membuat Gina heran.


"Mas kenapa, mau apa?"


Dan lagi, lagi dan lagi.. Reyhan mengambil inisiatif mencium bibir merah muda Gina dengan cepat. Gina mengulumkan senyuman, tidak menyangka kalau Reyhan sudah semakin berani untuk melakukan itu.


"Ya sudah, Mas pamit. Besok Mas jemput kamu, hm?" Reyhan melangkah pergi tapi kepalanya terus saja menoleh ke arah Gina seakan tidak rela pergi dari sana dan ingin berlama-lama bersama calon istrinya tapi sebuah kenyataan harus ia sadari karena masih ada pembatas di antara mereka, yang belum adanya setatus yang sah menjadi suami dan istri.


"Minum air hangat! jangan pakai kipas angin, tidurlah segera!" Reyhan sedikit berteriak dari dalam mobilnya. Gina hanya tertawa kecil karena baru menyadari sisi lain dari Reyhan yaitu sifat cerewetnya persis nenek Sari.


Gina masih berdiri di depan rumah sampai matanya tidak lagi melihat mobil Reyhan yang semakin menjauh dan hilang. Hatinya benar-benar bahagia melebihi apapun. Menang lotre? lewaaattt...


Begitu juga yang di rasakan Reyhan, diapun sama merasakan bahagia nya seperti Gina. Perasaannya yang terus saja tidak tenang akhirnya bisa kembali lega karena hubungan mereka yang kembali membaik setelah beberapa hari saling menjauh.


Kedua sejoli yang baru saja merasakan indahnya cinta itu saling terhanyut di tempatnya masing-masing. Kemarin mereka sama-sama tidak dapat mengatur waktu tidur dengan baik karena gusar. Dan malam ini mereka juga sama-sama tidak dapat tidur dengan segera karena perasaan yang berbeda seperti sebelumnya.


Kali ini mereka masih terjaga di malam hari ini karena saling membalas pesan. Dia yang menyuruh agar Gina tidur cepat dan dia pula yang terus mengirimkan pesan pada Gina.


...****************...


Mampir juga ke novel teman Nuna ya...

__ADS_1



__ADS_2