
Reyhan mematung di tempatnya yang kini ia pijak. Menatap tajam ke arah dua orang yang sedang tertawa bersama.
Dari jarak beberapa meter, tengah berdiri Gina bersama seorang pria yang berparas cukup tampan sedang tertawa bersama, dan itu yang juga di lihat oleh Reyhan.
"Seperti itu 'kan manis. Jangan terus manyun nanti cepat tua," ujar laki-laki yang sedang bersama GIna.
"Kak Dimas bisa aja. Oh ya kakak jangan dekat-dekat Gina nanti mereka pada ngereog, Gina nggak tanggung jawab ya," sahut Gina yang mengetahui bahwa para mata gadis sedang menatap ke arahnya.
Ya pasalnya laki-laki yang bernama Dimas itu adalah lelaki yang cukup populer di kampus, dan para gadis pun kerap berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya. Posisinya sebagai asisten dosen mahasiswa manajemen sama seperti Gina itulah salah satu alasan tingkat kepopuleran nya melejit, dan malah dekat dengan gadis yang terkenal juga namun dengan embel-embel nama 'haram' bagaikan sebuah titel yang paten untuk Gina.
Tapi apa yang dia lakukan sekarang!
Dimas malah ada disini, di samping Gina si anak haram dan tentunya membuat mereka semakin menatap benci pada Gina.
"Sulit materi dari Pak Ganes?"
Dimas bertanya pada Gina dan diapun segera memberikan gelengan kepalanya.
"Nggak kok, tapi terima kasih ya sudah bantu menjelaskan."
Dimas mengangguk, langkahnya terhenti tiba-tiba dengan tangan nya yang meraih tangan Gina yang seketika berhenti dengan berjarak yang sudah hampir sampai di pintu gerbang utama kampus.
"Kenapa, kak Dimas ?"
Mata mereka bertemu cukup lama, Gina dapat melihat jelas wajah Dimas yang menawan dengan sempurna, tapi baginya Reyhan jauh lebih tampan.
"Ck! apa yang gue pikirin sih!" Gina mengomel dalam hatinya karena bisa-bisanya dia memikirkan Reyhan bahkan di waktu yang tidak tepat seperti saat ini.
Reyhan memikirkannya ataupun tidak Gina tidak mengetahuinya. Terlebih lagi perdebatan mereka saat itu membuat gadis berdarah asia itu cukup merasa bingung dengan apa yang sebenarnya di inginkan Reyhan, juga tidak mengerti apa yang dia mau.
"Kamu tau nggak, kalau kamu itu cantik?"
Degh'
Gina terbelalak mendengar pernyataan Dimas, bahkan ia tidak siap mendengar nya karena itu terucap tanpa adanya peringatan.
Siapa! siapa yang tidak salah tingkah mendapatkan pernyataan seperti itu terlebih lagi dari seorang lelaki yaitu Dimas Andrean lelaki yang paling di kagumi di kampus.
"A-aku? kak Dimas bilang aku cantik?"
__ADS_1
"Ya! makanya mereka semua iri sama kamu, kamu perhatikan deh, semua yang bully kamu itu, semua perempuan 'kan. Karena memang mereka iri sama kamu, mereka mau seperti kamu."
"Kak Dimas jangan ngadi-ngadi ahh.. Mereka bully aku karena memang sesuai fakta dari aku."
"Nggak GIn, coba deh kamu ingat-ingat, yang bully kamu semuanya perempuan 'kan? Mana ada laki-laki yang bully kamu, justru laki-laki yang ada di kampus sering banget deketin kamu, termaksud aku."
Gina tidak bisa menyembunyikan senyumannya bahkan ia tertawa kecil karena mendengar ucapan Dimas yang sedikit membuat nya terhibur, dan melupakan perdebatan antara dia dan Reyhan. Dimas pun ikut tersenyum di buatnya.
Dan...
Yang mereka lakukan itu dapat terlihat jelas oleh kedua iris tajam Reyhan yang kini berdiri dengan jarak beberapa meter dan hanya terhalang oleh orang-orang yang berlalu lalang di sekitaran sana.
Baru saja keluar dari mobilnya dan untuk menemui calon istrinya, ia bahkan menyaksikan dengan jelas Gina sedang tertawa bersama seorang laki-laki seperti sedang memamerkan kemesraan tepat di pucuk hidungnya.
Telinga Reyhan memanas! dia kesal, dia jengkel, dia marah! karena melihat Gina yang tertawa lepas dengan orang lain yang bahkan bersama nya belum pernah seperti itu dan mengingat mereka juga habis bertengkar beberapa hari yang lalu.
"Dia mempertanyakan soal kesiapan saya untuk menikahinya, tapi sekarang dia malah bersama lelaki lain? sebenarnya apa yang membuat dia tertawa seperti itu."
Reyhan menggertakkan rahang nya yang terasa kaku. Ia memutuskan untuk pergi dari sana sebelum kesadaran merengkuhnya.
"Tapi tunggu! kenapa saya yang harus pergi, Gina kan calon istri saya, mana bisa dia mendekat atau laki-laki itu itu yang mendekat pada Gina."
Reyhan tahu, dari manapun di lihat ada sebuah perasaan yang di pendam oleh laki-laki itu terhadap Gina. Dan sebelum lelaki bernama Dimas itu mengusap pucuk kepala Gina, tangan besar milik Reyhan sudah lebih dulu mencengkram erat pergelangan tangan Dimas.
Gina terkejut, rasa-rasanya ia ingin berteriak oleh rasa kagetnya karena kehadiran Reyhan yang secara tiba-tiba entah dari mana datangnya.
"Anda siapa?" tanya Dimas sesegera mungkin setelah tangan Reyhan enyah darinya.
"Reyhan Permana! bukan tidak tahu bukan siapa saya?" jawab Reyhan dengan sinis dan mencolok.
Dimas mendengus kesal mendengar jawaban Reyhan yang dingin nan menyebalkan. "Iya saya tahu, tapi kenapa kamu tiba-tiba datang dan meraih tangan saya? kamu kenal dia, Gin?"
"I-iya kak, aku kenal kok." sungguh Gina bingung menjawabnya. Mana mungkin dia menjawab dengan lantang bahwa Reyhan Permana pemilik perusahaan yang cukup terkenal itu adalah calon suaminya. Apa tidak akan membuat orang bingung.
Tapi lain dengan Reyhan, dia justru dengan dagu yang terangkat menjawabnya.
"Bukan urusan Anda apa yang di ketahui dan tidak oleh Gina!"
Reyhan tidak peduli dengan sekeliling, yang saat ini mereka menjadi pusat perhatian penghuni kampus terlebih lagi dia berdiri memasang badan untuk Gina.
__ADS_1
Reyhan tahu betul, dengan siapa dia berhadapan. Dimas Andrean pria yang sepertinya memang sangat populer di kampus karena melihat semua orang sedang menyaksikan mereka yang tengah berdebat.
"Ayo pergi!" Reyhan meraih tangan Gina dan membawa pergi Gina dari sana.
"Mas Rey kenapa sih!?" Gina mengkonfrontasi nya setelah sampai di samping mobil milik Reyhan.
"Masuklah!"
Reyhan menggedikan kepalanya pada pintu mobil agar Gina segera masuk kedalam lebih dulu, dari pada harus berdebat ataupun bersitegang urat leher dengan nya.
Walaupun dengan hati yang kesal, dan tanpa penjelasan kenapa Reyhan tiba-tiba datang ke kampus, Gina tetap menurut masuk kedalam mobil.
Reyhan membawa Gina menjauh dari kawasan kampus dan berkendara jauh dari sana.
"Apa ini alasan kamu mempertimbangkan pinangan mas?"
Gina menoleh segera mendengar Reyhan membuka mulutnya dan memberikan pertanyaan setelah keheningan membelenggu mereka.
"Maksud Mas?"
"Apa karena 'kak Dimas' mu itu, kamu tiba-tiba meragukan niat mas untuk menikahi mu?"
"Apa sih! mas jangan cari-cari kesalahan Giina deh!"
Reyhan menginjak pedal rem dengan seketika sehingga membuat suara decitan karet ban dengan aspal terdengar sampai ke dalam mobil.
"Cari-cari kesalahan?"
"Mas! kak Dimas enggak ada hubungan nya dengan perdebatan kita kemarin," jelas Gina dengan kesal.
"Kalau memang begitu, sekarang kita pergi ke KUA!" Reyhan sudah akan menjalankan mobilnya tapi tiba-tiba tangan Gina menyentuh nya.
"Mau apa?"
"Mendaftarkan pernikahan kita, dan untuk resepsi bisa menyusul" mulut Gina ternganga lebar, sungguh dia tidak menyangka kalau Reyhan akan mengambil keputusan secepat itu.
"Tidak!" mulut Gina menjawabnya dengan spontan tanpa ada niatan.
"Tidak? apa maksud mu Gin? kamu tidak mau menikah dengan mas?"
__ADS_1
"Pokoknya tidak! terserah Mas mau berpikiran apa! bukan seperti ini yang Gina inginkan!"
Reyhan menghela nafas nya panjang, seraya berkata dengan lirih "Baiklah..." setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, yang Gina tahu saat ini mereka tengah menuju ke jalan kampung tempat Gina tinggal.