
Di depan gundukan tanah, seorang gadis terduduk menekuk lutut nya, tangan kanannya terus saja mengelus tanah merah yang masih basah karena air mawar yang di siram para pelayat.
Gina Utami, ya dia gadis yang sedang merasa dunianya sedang hancur, kehidupannya seketika berubah kelam karena perginya seseorang yang baru ia sadari bahwa kehadirannya sangatlah penting baginya.
Dosa-dosa yang terus saja ia ratapi, tidak akan mengubah apapun, Karena ibunya sudah terpendam di bawah sana meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Semua orang yang turut serta mengantarkan jenazah ke pemakaman pun telah pergi meninggalkan tempat tersebut. Tinggalah hanya ada beberapa orang yang tak lain adalah Gina, anak kandung dari mendiang ibu Nur, dan Nenek Sari serta Reyhan dan juga Eza yang turut membantu proses demi proses untuk pemakaman ini Nur.
Gina duduk dengan kepala yang tertunduk, bahkan untuk mengangkat kepalanya sejenak pun ia tidak mampu, jiwanya tidak ingin pergi kemana-mana, nenek Sari menatap iba pada gadis belia itu karena ia tahu hanya ibunya lah yang Gina punya, dan ibunya pun pergi.
''Gina.. Maafkan nenek, nenek ada urusan penting, nenek pamit undur diri ya,'' pamit nenek Sari dan hanya mendapatkan anggukan kecil dari Gina.
Nenek Sari berlalu dengan di bantu orang kepercayaan yaitu Dani Alves yang sudah di anggapnya sebagai cucu sendiri. Namun sebelum benar-benar meninggalkan makam, nenek Sari menepuk pundak Reyhan dan memberikan isyarat untuk tetap tinggal dan menemani Gina di sana.
Eza mendekati Gina dan berjongkok di dekatnya, memberi kekuatan untuk tetap tabah, Reyhan yang melihat kedekatan Gina dan Eza yang sudah terbiasa namun tidak dapat di pungkiri bahwa ia merasa jengah melihat nya.
Reyhan berdehem setelah melirik jam tangannya dan berkata dengan nada seperti biasanya. ''Sudah sangat sore, kalian akan ikut pulang dengan ku atau ku tinggal,'' ucapnya, Gina melirik Reyhan sebentar dan menghela nafasnya.
''Bahkan di situasi seperti inipun, dia tidak merubah cara bicaranya,'' gumam Gina dalam hatinya.
''Kak bisa tidak, kakak mengerti keadaan Gina,'' ucap Eza dengan kesal.
Duggh!!
Reyhan menendang pelan bokong Eza.''Jangan terlalu mencari muka!'' sungut Reyhan pada Eza.
''Bu… Nana pamit ya, besok Nana akan datang lagi dan memberikan bunga favorit ibu, lalu meletakkan nya di sini,'' ucap Gina dengan suara yang sengau.
__ADS_1
Tiga anak manusia itupun pergi meninggalkan area pemakaman yang memang sudah mulai gelap, karena hari pun sudah mulai malam di tambah langit yang mendung. Kaki Gina terasa berat untuk melangkah pergi, rasanya ia masih tidak percaya ibunya sudah tiada dan terkubur di bawah tanah sana.
Air mata Gina menetes kembali, di balik kaca mobil Gina terus memandangi dimana makam ibunya, dalam benaknya ia terus berpamitan walaupun dia tahu, ibunya tidak bisa menyahuti ucapannya.
Reyhan yang duduk di bangku kemudi dan Eza yang duduk di kursi samping Reyhan, terus saja memperhatikan kakaknya yang terus melirik Gina melalui kaca atas kepalanya. ''Fokus!'' sindir Eza dengan ketus. Entah persaingan itu akan berakhir sampai kapan.
***
Tidak terasa kepergian sang ibu sudah sebulan lamanya. Gina yang tidak mau terus terhanyut dalam kesedihannya, berusaha untuk tegar dan bangkit dari keterpurukannya.
Gina melangkah dengan yakin ke area gedung kampus, tangannya memegang kedua tali tas gendong nya, rambutnya yang di kuncir satu membuat Gina lebih fresh dari sebelumnya.
''Heii anak kecil!!'' panggil seseorang yang berdiri bersender pada motor besarnya.
Gina yang mendengar pun menoleh, melihat di sekeliling nya dan memang hanya ada dia di sana.
''Saya?''
Alisnya menyatu, memperhatikan sosok pria yang ada di depannya, memang nampak tidak asing, namun siapakah gerangan?
Pria yang berdiri dengan kaca mata hitam itu melangkah mendekati Gina yang berdiri cukup jauh darinya, lalu melepaskan kaca mata hitamnya dan tersenyum dengan manisnya.
''Mas Aiden?'' Mata Gina terbelalak kaget, tidak percaya dengan kehadiran pria yang di panggilnya dengan sebutan 'Mas.
''Anak kecil, rupanya pertumbuhan mu tidaklah pesat,'' ledek pria bernama Aiden itu.
Karena merasa senang bertemu dengan pria itu, Gina tidak sadar sudah merentangkan tangannya untuk memeluknya namun tiba-tiba seseorang datang dan menarik tas ransel yang Gina gendong, sehingga membuat Gina yang akan memeluk Aiden pun terurungkan.
__ADS_1
''Ck, siapa sih!'' omel Gina.
''Saya!'' sahut orang itu yang tak lain adalah Reyhan.
Dua pria tinggi dengan gadis pendek di tengahnya membuat penampakan suasana itu sangatlah epik jika untuk pose sebuah potret, terlebih lagi raut wajah kedua pria itu seakan menampilkan ketidak sukaan akan kehadiran satu dengan yang lain nya.
''Pak Reyhan?''
''Pak? oh pasti dia dosen kelas mu kan, Nan,'' kata Aiden yang membuat raut wajah Reyhan seketika berubah dan melirik Gina yang tengah gugup untuk menjawabnya.
''Jawab Nan...'' celetuk Reyhan mengikuti panggilan dari Aiden.
''Emmm, maaf ya,, mas Ai, Pak. Kelas Gina sebentar lagi di mulai, aku pamit..'' Gina pergi meninggalkan dua pria yang belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya.
Reyhan maupun Aiden saling menatap satu sama lain, memperhatikan dari kepala sampai ujung kaki. Reyhan berdehem dan pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Aiden.
Saat Reyhan akan masuk ke dalam mobilnya, ia melihat sebuah ponsel milik Gina yang tertinggal di mobilnya tadi malam. Ya, alasan Reyhan datang ke kampus Gina hanya semata-mata untuk mengantarkan ponsel milik Gina namun karena ia melihat Gina yang sedang berbicara dengan seorang pria, entah kenapa ia melupakan tujuannya.
''Sial,, aku melupakan nya. Baiklah aku akan mengantarkan nya,'' ujarnya yang kembali keluar dari mobilnya dengan ponsel milik Gina yang dia bawa.
Para wanita yang juga merupakan mahasiswa di universitas tempat Gina kuliah, terus saja mencuri pandang pada Reyhan. Ya, walaupun penampilan Reyhan yang terbilang sangat dewasa namun wajah tampan Reyhan membuat para wanita itu terpesona karena nya.
''Maaf, kalian tahu kelas Gina Utami?'' tanya Reyhan pada kumpulan gadis-gadis.
''Gina Utami? oh anak akuntan, kelasnya ketiga dari sana,'' jawab sala satu dari mereka, Reyhan pun berlalu setelah berterima kasih.
Tapi sebelum Reyhan melangkah jauh untuk menemui Gina. Eza yang melihat Reyhan pun akhirnya memanggilnya dan menghampiri kakaknya. ''Kak, mau apa ke sini?'' tanya Eza namun sebelum terjawab, mata Eza melihat ponsel Gina yang sangat familiar di matanya, dan tanpa permisi dia merebut dari tangan Reyhan.
__ADS_1
''Inikan ponsel Gina, biar aku yang memberikan nya,'' ucap Reza yang akan pergi, tapi tiba-tiba tangannya di tarik oleh Reyhan dengan raut wajah yang penuh amarah.
"Kembalikan ponsel Gina pada kakak!"