
Impian sebagian atau bahkan semua wanita adalah, bediri di sebuah altar yang indah dengan seorang pria pilihannya, dengan rasa cinta dan kasih. Ya tibalah saatnya kini Gina Utami yang berdiri cantik dengan Reyhan Pratama disampingnya yang berpenampilan sangat tampan, dan terlihat sangat serasi.
Ya tepatnya hari ini, sepasang kekasih itu akan melaksanakan pengikatan sebuah hubungan yaitu pertunangan. Gina & Rey, nama itu yang terpampang indah di pintu masuk yang akan membawa para tamu untuk melihat sepasang kekasih dengan penampilan yang sangat serasi.
Sesuai kesepakatan, Gina mau bertunangan ketika dia sudah wusada, dan tepatnya kemarin dia sudah menyelesaikan studinya sebagai mahasiswa kelulusan terbaik dengan IP tertinggi.
Reyhan tentu bangga mendapatkan calon istri yang pintar dan berdedikasi tinggi dalam menimba ilmu. Begitu juga Nenek Sari yang pastinya denganbangga memamerkan prestasi Gina pada adik sepupunya yang pernah meremehkan Gina. Tapi saat ini mereka yang pernah menghina Gina tertunduk malu dibuatnya.
"Nenek kesana dulu ya, kalau kalian perlu sesuatu, kalian panggil Nenek saja." Gina mengangguk dan Nenek Sari pun berlalu menghampiri kumpulan saudaranya yang duduk di meja vvip.
"Selamat ya kak. Atas pertunangan cucumu," ucap adik sepupu Nenek Sari.
"Ya terima kasih," jawab Nenek Sari dengan ramah walupun benaknya ia muak dengan wajah sok ramah adik sepupunya itu.
"Aku minta maaf kak, pernah meremehkan pilihan mu itu." Sari melirik sinis, dan berdehem sebagai jawabannya.
"Eh iya, kalian nikmatilah jamuannya, aku tinggal dulu," ucap Nenek Sari yang mengabaikan adik sepupunya dan bicara pada yang lainnya.
Di meja sana, meja yang saat ini Sari tuju, dimana kumpulan para wanita yang usianya sebaya dengan Nenek Sari. Ya mereka adalah teman arisan nenek Sari. Dan kini mata nenek Sari tertuju pada seseorang yang sejak tadi menatap Gina di altar sana.
"Hey jeng! terima kasih sudah hadir. Dimakan yaa..., jamuannya, jangan sungkan," seru Nenek Sari pada teman-teman arisannya.
"Jeng, tunangan cucumu cantik sekali, dan didepan sana apa ijaza dia?" tanya seorang wanita, salasatu teman arisan Nenek Sari.
__ADS_1
"Iya benar, aku sengaja meletakan itu untuk menunjukan kalau calon istri cucuku ini orang yang pintar,'' sahut Nenek Sari dengan sedikit melirik keteman lainnya yang sejak tadi hanya diam menatap dengn tatapan yang aneh pada sepasang kekasih itu.
"Jeng? kenapa? kok diam saja," sapa Sari padanya.
"Jeng Sar, gadis itu, aku seperti mengenalnya-"
"Mengenalnya? masa sih, dia hanya gadis biasa lho jeng," sahut Sari yang seperti disengaja.
"Entahlah, mungkin kebetulan mirip saja," ucapnya.
"Oh ya jeng, anak mu dan cucu ku ternyata rekan bisnis lho."
"Benarkah?"
Suara para wartawan dan lampu-lampu kamera menyita perhatian para tamu. Yang ternyata para pembisnis terkenal menghadiri pesta pertungan tersebut, tapi siapa yang mengundang para wartawan itu? karena Nenek sari tidak ada niatan untuk mengundang para media.
"Selamat datang Tuan Brama Bagaskara!" seru Reyhan yang membuat Gina menoleh dengan cepat.
Pria parubaya itu mengangguk dan tersenyum tapi ada yang berbeda, beliau menatap Gina dengan tatapan yang sendu.
"Bram kau datang kesini?" tanya wanita paru baya yang tak lain adalah ibu dari Tuab Bram itu yang juga teman arisan dari Nenek Sari.
"Bu? kau disini juga, Tapi syukurlah," ucap Bram yang membuat ibunya bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kalian! kemarilah!" ucapnya pada para wartawan yang langsung menghampirinya.
"Selamat malam untuk semuanya, saya Brama Bagaskara datang keseni dan mengundang kalian semua untuk mengumumkan sesuatu," ucapnya yang terjeda sebentar.
"Mengumumkan apa Bram?" tanya Weni, ibu dari Bram tapi Bram mengabaikan pertanyaannya.
"Saya dengan sejuta rasa malu datang kesini, tapi saya benar-benar tidak kuasa untuk tidak hadir. Kalian lihatlah dia," ucap Bram yang menarik lembut tangan Gina yang sejak tadi berdiri disamping Reyhan.
Reyhan tersenyum dan menganggukan kepalanya pada Gina, karena calon istrinya itu menatapnya bingung.
"Gadis ini adalah gadis yang hebat, dia hidup bersama ibunya tanpa seorang ayah yang tidak pernah tahu keberadaanya, bahkan tidak pernah tahu kalau dia ada. Ayah yang hidupnya seakan sia-sia karena ternyata selama ini mengabaikannya. Dan itu adalah saya, saya Ayah itu dan dia adalah anak saya."
Semua orang terkejut, termasuk Weni yang seakan tidak percaya dengan apa yang anaknnya kini akui.
Begitu juga Gina yang tidak percaya dengan apa yang pria paru baya itu sampaikan, yang selama ini mengganggu pikirannya ternyata terjawab hari ini.
"Bram?!" Weni mendelik.
"Iya, Bu. Dia cucu mu, anakku."
"Benar sayang, beliau adalah ayah mu," ucap Reyhan yang mengerti arti tatapan mata Gina padanya.
"Jin Nenek mengabulkan nya 'kan?" timpal Nenek Sari dan semua pun tertawa.
__ADS_1
Inilah akhir cerita perjalanan seorang Gina Utami, ia yang haus akan kasih sayang seorang ayah, yang bahkan kerap di juluki anak haram kini ia telah bertemu dengan ayah kandungnya. Haru bahagia ia rasakan hari ini. Memiliki calon suami yang baik juga bertemu dengan Ayah kandungnya.
END