
Eeza memang baik, perhatian terhadap nya tapi ada sosok lain yang membuat Gina lebih nyaman saat berada di dekatnya, siapakah dia? entahlah sosok itu masih tersimpan rapat di hatinya saat ini.
Siapa sosok itu? Reyhan kah ataukah pria lainnya? Gina menghembuskan nafasnya dengan kasar, berlalu pergi dari rumah itu menuju suatu tempat yang membuat ia sangat nyaman meluapkan emosi dan perasaan nya. Makam! ya makan sang ibu, wanita yang melahirkannya, mengurus nya yang bahkan wanita yang selalu sabar menghadapi sikapnya yang sering tidak peduli pada nya.
"Buu... Nana bingung. Nana benar-benar bingung mau lanjut dengan perjodohan ini atau enggak. Tapi Bu, Nana terus memikirkan mas Reyhan," keluhnya dengan nanar.
"Terlebih lagi, mas Reyhan mengatakan seolah-olah dia enggak mau Nana membatalkan rencana perjodohan ini, apa jangan-jangan mas Reyhan udah suka sama Nana ya Bu.." Sambungnya, Gina terus berceloteh seakan-akan bercerita pada makhluk hidup yang pada kenyataannya saat ini Gina hanya berbicara pada sebuah batu nisan dengan berukiran sebuah nama dari ibunya.
Entah kenapa setelah mengatakan keluh kesahnya pada makam ibunya, perasaan nya kerap sekali seketika merasa tenang secara tiba-tiba. Setelah menyampaikan apa yang ia rasa hari ini. Gina pun berpamitan dan tidak lupa meletakkan bunga favorit sang ibu semasa hidupnya di depan batu nisannya.
Di balik pohon besar, Reyhan yang tidak sengaja mendengar apa yang di katakan Gina mengulumkan senyumannya, hatinya seakan-akan ingin keluar dari tempatnya, perasaan nya pun benar-benar bahagia karena namanya telah di sebut dengan bibir Gina sendiri yang bercerita pada makam ibunya itu.
Ya sebenarnya Reyhan berada di sana bukan untuk mengikuti Gina tetapi dia berada di sana memang bertujuan untuk berziarah. Namun saat ia akan pergi, ia melihat Gina yang datang dan segera membuat ia bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sana.
"Aku akan menepati janji ku," gumam Reyhan.
.
Sudah empat hari Gina menjalankan hidupnya seperti biasanya namun seperti ada yang berbeda belakangan ini, ya bahkan empat hari ini ia tidak sama sekali melihat Reyhan. Seperti ada yang hilang pada dirinya, tapi Gina pun masih tidak menyadari itu
"Gin?!" panggil Eza yang baru saja datang dan memarkirkan sepeda motor sport nya.
"Ada kelas pagi?" tanya Eza dan di angguki Gina yang matanya bahkan tidak sama sekali menatap pada Eza, melainkan matanya seakan-akan mencari-cari sesuatu.
"Cari siapa?" tanya eza yang ikut menatap ke sekeliling.
__ADS_1
"Hah! Oohh enggak!" sahut Gina dengan cepat.
"Za?"
"Emmm.."
"Gue kangen nenek," lirih Gina.
"Main lah kerumah."
"Emmm enggak deh,'' Alis Eza menyatu heran. "Kenapa?" Gina pun menggeleng cepat.
Gina dan Eza pun terpisah tepat di depan kelas Gina. Hari ini ia benar-benar tidak sama sekali bersemangat untuk belajar, tapi karena hari ini ia akan menyerahkan tugas yang di berikan dosennya, terpaksa Gina pun datang.
Kakinya berjalan tanpa arah, tertinggal satu hari lagi untuk ia memutuskan apa yang akan ia ambil, bertahan kah atau malah sebaliknya? Tanpa Gina sadari saat ini, Gina sudah Berada di depan gedung yang menjulang tinggi, dimana tempat itu pernah beberapa kali ka datangi yaitu tempat Reyhan bekerja.
"Mas Reyhan?!" panggil Gina tanpa sadar, tangan nya menutup mulutnya sendiri merutuki kebodohannya karena memanggil Reyhan dengan sangat frontal dan jelas.
Reyhan yang akan masuk ke dalam mobil pun seketika menghentikan geraknya, ia menoleh ke asal suara dan menutup kembali pintu mobil. Berdiri di sana menatap Gina yang berdiri tidak terlalu jauh darinya.
"Maaf pak, kita akan terlambat," ucap staff pribadinya, namun tangan Reyhan memberikan tanda agar dia diam dan tidak bicara lagi.
"Kamu?"
Gina melangkah mendekat dengan ragu, wajah nya kini bahkan sudah seperti kepiting rebus, merah karena gugup juga malu. "Kamu ada disini?" tanya Reyhan dengan suara yang seperti biasanya.
__ADS_1
"Emmm iy-iya, kebetulan lewat," kilahnya.
Reyhan mengangkat tangannya melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian melangkah dengan lebar menuju Gina lalu menariknya agar ikut masuk ke dalam mobilnya.
"Eehhh, mau kemana ini?" protes Gina.
"Ikut dengan saya, saya akan ada pertemuan penting," jawab Reyhan dengan singkat.
"Tapi kenapa aku juga harus ikut, apa urusan ku. Aku enggak mau ganggu pertemuan penting kalian."
"Sudahlah menurut saja."
Di kursi pengemudi, staff yang membawa mobilnya terus saja melirik ke arah belakang melalui kaca yang ada di atas kepalanya, merasa heran dengan sikap Reyhan yang tiba-tiba melunak terlebih lagi saat ini ia bersama seorang gadis yang usianya lebih muda darinya.
Ya walaupun tempo hari para karyawan kantor menghadiri acara yang di adakan nenek Sari, tapi staff tersebut memang kebetulan tidak terlalu mengenali gadis yang saat ini berada di kursi belakang bersama Reyhan, karena penampilannya yang memang jauh berbeda.
Sesampainya di sebuah restoran yang hanya di datangi oleh para orang-orang penting, Reyhan pun keluar dari mobil namun tidak langsung masuk ke dalam restoran tersebut, ia berdiri di samping mobil beberapa waktu sampai membuat staff nya kebingungan. "Pak?"
"Gina kluar lah!" ucap Reyhan yang tentunya membuat staff tersebut terkejut. Untuk apa Reyhan membawa sekalian gadis itu ke dalam pertemuan penting itu, bahkan gadis itu tidak ada berkepentingan sama sekali di dalam pertemuan mereka.
Gina tidak membuka pintu mobil justru ia hanya menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya sedikit seraya berkata.
" Aku tunggu disini aja ya, aku enggak cocok kalau untuk berada di dalam sana," kata Gina agar Reyhan mengerti.
Tapi tidak, Reyhan justru malah membuka pintu mobil dan meminta Gina agar tetap keluar dari sana bahkan Reyhan sempat mengancamnya dengan suara yang dingin.
__ADS_1
"Saya tidak akan masuk ke dalam sana dan juga tidak akan menghadiri rapat penting itu, kalau kau benar-benar tidak menurut apa yang saya katakan, keluar!"
Dengan terpaksa akhirnya Gina pun keluar dari sana, dan ikut bersama Reyhan masuk ke dalam restoran tersebut.