Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 11 Firasat tak Baik


__ADS_3

Flynn Corporate


"Karen..." Louisa yang baru saja tiba, berteriak kencang sebelum memeluk erat sahabatnya. Ia tidak peduli kalau suara bisingnya mengganggu pendengaran orang-orang. Ia masa bodoh, meski beberapa pasang mata memerhatikan dengan sorotan jengah.


Karen yang dibuat bingung oleh tingkah Louisa, refleks menempelkan punggung tangan di atas kening sahabatnya itu. "Tidak panas, suhu badanmu normal."


"Siapa bilang aku lagi demam?" tampik Louisa.


"Aku pikir, kau—" Ucapan Karen terputus lantaran lagi-lagi Louisa memekikkan namanya.


"Karen..." Louisa mengeratkan pelukannya di pundak sang sahabat.


"Louisa... tolong longgarkan tanganmu, aku sulit bernapas!" Karen terbatuk-batuk lantaran lengan Louisa menekan lehernya terlalu kuat.


"Ma-maaf..." Louisa melepaskan dekapannya. "Aku sangat bahagia, Karen. Tuhan mendengar doa-doaku. Tuhan mengabulkan permintaan terbesarku..." Louisa menarik lengan gadis sesusianya itu untuk berdiri, menggenggam tangan dan mengajak berputar-putar laksana anak kecil yang menari-nari di bawah sapuan air hujan.


Karen yang belum mengetahui alasan mengapa sahabatnya itu begitu bersukacita, turut berputar-putar diiringi gelak tawa jenaka. Bagi Karen, kebahagiaan Louisa adalah kebahagiaannya juga.


Karen serta Louisa telah bersahabat selama kurang lebih tujuh tahun. Dan selama itu pula, suka duka kehidupan sudah mereka lewati bersama.


"Senang sekali melihat dirimu yang dulu sudah kembali lagi, Louisa." Karen tersenyum tulus.


"Itu karena Tuhan membawa cintaku pulang pada rumahnya," balas Louisa, membayangkan malam indah nanti bersama sang pujaan hati.

__ADS_1


"Cintaku? Pulang pada rumahnya?" Karen bertambah bingung karena Louisa tidak langsung bercerita pada intinya. Gadis itu lebih suka membuat dirinya menerka-nerka. Ia hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, meraba-raba arah pembicaraan sang sahabat yang dikasihinya itu.


Melihat Karen termenung dan seperti tengah memikirkan sesuatu, Louisa menduga bahwa sahabatnya itu tidak bisa menarik kesimpulan dari kalimat yang diucapkan tadi.


"Nanti malam, aku dan Daniel akan merayakan anniversary hubungan kami yang ketiga...!" pekik Louisa, antusias. "Dia sudah kembali, Karen. Dia kembali padaku, aku sungguh tidak percaya..." sambung Louisa, jingkrak-jingkrak. Namun, sembari menyeka genangan air mata.


"Daniel?" Karen terkejut bukan kepalang karena sahabatnya itu masih saja mempertahankan seorang pria yang tak layak dicintai.


Louisa mengangguk-anggukkan kepala. "Tadi dia meneleponku. Aku pikir, aku sedang bermimpi. Tapi rupanya, semuanya nyata. Daniel tidak meninggalkanku, Karen. Dia masih mencintaiku...."


"Anyway, kalian mau merayakan anniversay di mana? Pasti di tempat yang sangat romantis, 'kan? Ah... aku jadi iri!" balas Karen, menggeronyotkan bibir. "Aku ingin ikut andil di acara kalian. Ayo, beritahu aku. Di mana kalian akan melepas rindu?" Karen berusaha mengorek informasi mengenai lokasi pertemuan Louisa dengan Daniel malam nanti.


Firasat Karen mengatakan bahwa keselamatan diri sahabatnya itu terancam. Terlebih bila hanya berduaan dengan laki-laki yang ia kenal acapkali bergonta-ganti pasangan. Laki-laki yang hanya menginginkan kesucian belaka. Tak ada cinta, tidak ada ketulusan.


"Em... aku tidak tahu di mana lokasinya. Daniel cuma bilang, kalau dia menungguku di tempat ter... indah. Dan nanti, sopir pribadi dia yang akan menjemputku untuk menemuinya." Louisa senyam-senyum manja, memainkan anak rambut yang tergerai di samping telinga.


"Ah... so sweet... kamu memang sahabat terbaikku, Karen!" Louisa kembali memeluk erat teman karibnya.


"Baiklah... sekarang sudah jam delapan. Mulai fokus dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk ini. Biar mister Andrew tidak punya alasan untuk menyuruh kita lembur di akhir pekan!" jawab Karen setelah melihat jam di tangannya.


"Ah, kamu benar Karen!!" Louisa mengangguk pasti, lalu sedikit berlari ke arah meja kerjanya. Ia berkonsentrasi penuh dengan tumpukan arsip-arsip dan layar komputer yang menampilkan angka-angka juga garis-garis tipis statistik.


Sementara, Karen menatap bimbang ke arah Louisa. Perasaannya tidak tenang, ia memikirkan bagaimana cara untuk melindungi gadis itu dari sergapan serigala buas. Dan ingatannya menyebutkan satu nama.

__ADS_1


"Samuel!" Karen menjetikkan jari. "Ya Samuel! Aku harus menghubungi laki-laki menyebalkan itu karena dia saja yang bisa kuandalkan sekarang ini!"


Tanpa sepengetahuan Louisa, Karen menghubungi Samuel dan menceritakan tentang apa yang membuatnya begitu khawatir. Ia meminta pemuda itu untuk menjaga Louisa. Memastikan sahabatnya baik-baik saja dan pulang dengan selamat, tanpa tergores barang secuil pun.


...*****...


"Bagaimana Daniel, apa kau sudah mendapatkan gadis yang kuminta?" tanya Rudolf, pada anak buahnya.


"Tentu saja sudah, Bos! Sesuai yang Bos mau. Cantik, seksi dan paling utama, gadis ini masih tersegel rapat." Daniel memperlihatkan sebuah potret seorang perempuan muda nan jelita.


"Visual wanita ini sangat sempurna. Aku juga tidak akan menolak kalau disuruh buat menidurinya!" Rudolf terus memandangi foto wanita malang yang akan dijadikan pelampiasan nafsuu dan ego si lelaki haus belaian. "Dari mana kau mendapatkan gadis secantik ini?"


"Berikan dulu bayarannya, baru setelah itu saya jawab!!" Daniel menaik-turunkan kedua alis dengan menggerak-gerakkan jemari tangan, meminta uang yang telah Rudolf janjikan padanya.


Rudolf berdecak sebal dan menyerahkan lima gepok uang dollar kepada anak buahnya. "Ini ambilah, lalu beri aku identitas wanita itu!"


Manik mata terbelalak melihat lembaran uang yang ia terima ternyata melebihi nominal yang diminta. "Gadis itu bernama Louisa. Dia bekerja di Flynn Corporate dan satu fakta terpenting, dia adalah kekasihku."


"Kakasihmu?" ulang Rudolf cukup terperanjat dengan apa yang ia dengar. "Kamu memang keparat, Daniel!!" Rudolf tertawa terbahak-bahak.


"Kekasihku terlalu kolot dan sombong, Bos! Berprinsip kuat tidak mau berhubungan in-tim sebelum menikah. Jadi, dari pada membuatku pusing, mending aku jual saja!" kata Daniel, diikuti tawa lepas.


"Tidak salah aku menjadikanmu orang kepercayaan. Otakmu cerdik bercampur licik!" puji Rudolf.

__ADS_1


"Terima kasih banyak atas pujiannya, Bos Rudolf," sahut Daniel. "Baiklah, saya harus pergi sekarang untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana. Kalau begitu, saya pamit Bos." Daniel membungkukkan badan lalu beranjak dari hadapan Rudolf.


...*****...


__ADS_2