
Walau tertatih-tatih, tidak sedikit pun menyurutkan tekad Louisa untuk terus menarik kakinya meninggalkan tempat yang telah menorehkan luka.
Petir menggelegar disertai titik-titik air dari atas langit, menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Tidak juga menjadi penghalang bagi gadis itu untuk tetap melangkah. Pikirannya begitu kalut, yang ia inginkan saat ini adalah pergi sejauh mungkin. Sejauh yang ia mampu.
Dada sesak, hati tercabik. Namun, tidak ada setetes air mata pun yang menitik. Itu lantaran kejadian yang menimpanya, teramat menjatuhkan harga diri. Menggores kepercayaan dengan sebuah kebusukan.
Rasa cintanya telah dikhianati. Rasa percaya yang selalu ia jaga, dihancurkan begitu saja oleh orang yang dikasihi sepenuh hati.
"Daniel... aku memberimu cinta yang tulus, tapi kamu membalasnya dengan kepalsuan. Aku memberimu kepercayaan yang besar, tetapi kamu membalasnya dengan penderitaan. Selucu inikah hidupku, Tuhan...?" Louisa berjalan di bawah guyuran air hujan. Ia menangkup tubuhnya yang kuyup dan membeku karena kekecewaan.
Louisa merutuki diri sendiri atas kebodohan yang menutupi mata hati. Cinta membuatnya tidak bisa membedakan antara kejujuran dan kebohongan. Cinta menjadikannya bak wanita lemah lantaran terkungkung oleh perasaan yang pada akhirnya menghancurkan segalanya.
Sudah setengah jam, Louisa menapaki jalanan sepi nan remang-remang. Ia hanya mengikuti arah kaki melangkah, tanpa tujuan pasti. Pikiran kosong, jiwanya hampa. Tubuh pun terasa lelah, terlampau lelah.
"Sam, pelankan mobilmu!" titah Karen tiba-tiba.
"Tadi aku disuruh tancap gas. Sekarang, diminta buat melambat. Dasar ya, woman!!" gerutu Samuel.
"Itu, di sebelah kiri, sepertinya Louisa!!" jawab Karen menunjuk ke arah seseorang yang berjalan di bawah hujan.
Samuel memelankan kendaraannya, menilik dari kejauhan sosok yang disinyalir adalah Louisa. "Matamu rabun! Mana mungkin Louisa macam orang gila begitu?!"
__ADS_1
Kening mengerut, sorot mata dipertajam. Karen memperhatikan kembali seseorang yang postur tubuhnya mirip dengan Louisa. "Iya juga ya. Dari pakaian yang dia kenakan saja sudah beda. Gas lagi kalau begitu, Sam!!"
Samuel mendesah kesal. "Kamu cuma membuang-buang waktu saja, Karen!!"
"Ya maaf..." balas Karen.
Samuel tak lagi menyahuti wanita di sampingnya. Ia kembali fokus pada jalanan yang dilalui karena bertambah malam, hujan bertambah deras.
"Sam... Berhenti...!!" Lagi-lagi Karen berteriak begitu saja.
Samuel yang terkejut karena teriakan Karen, spontan menginjak rem secara mendadak. Dan ia harus merelakan keningnya terbentur keras pada permukaan stir mobil. "Perempuan gila! Apa kamu mau kita mati bersama, hah...?!!!"
"Ma-maaf, Sam. Ja-jangan marah dulu. I-itu... i-itu..." ucap Karen gelagapan.
"Louisa. Itu Louisa!!" tunjuk Karen ke arah perempuan tadi.
Kepala Samuel bergulir, mengikuti arah jari telunjuk Karen mangacung. Dan kemarahan pada Karen pun seketika hilang, berubah menjadi kekehawatiran yang membuncah. "Ya Tuhan... Louisa!!!"
Samuel maupun Karen lekas-lekas keluar dari mobil untuk memastikan bahwa gadis tersebut adalah benar-benar Louisa. Dan betapa tercengangnya mereka melihat Louisa dalam keadaan menyedihkan.
"Louisa..." lirih Karen.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padamu, Louis?" Samuel ikut bertanya.
Louisa yang tengah berjalan dengan kepala tertunduk lesu, sontak menghentikan derap langkah. Ia mengangkat wajah dan melihat ke arah samuel, lalu ke arah Karen dengan tatapan tidak percaya.
Tangisan pun pecah tanpa bisa ditahan, melihat kedua sahabatnya tengah berdiri menatap sayu ke arahnya. "Ka-kalian ada di sini?"
Tanpa ada kata-kata lagi yang terucap, Samuel dan Karen langsung memeluk tubuh ringkih Louisa dan turut menangis sejadi-jadinya. Mereka tidak tahu ada hal apa yang menimpa gadis itu. Namun, dengan melihat kondisi Louisa yang amat memprihatinkan seperti ini, sudah bisa dibayangkan kejadian pelik telah menimpanya.
"Untung saja kalian datang di waktu yang tepat," isak Louisa menyayat kalbu. "A-aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau kalian tidak ada di sini sekarang..." Louisa meraung-raung di tengah-tengah dekapan hangat dua orang sahabat.
"Menangislah Louis, sampai perasaanmu terasa lega," titah Karen.
"Kami di sini, akan selalu berada di sisimu," tambah Samuel, menimpali. Ia merekatkan pelukan seraya mengepalkan tangan karena tanpa Louisa mengatakan yang sebenarnya, ia bisa menebak kalau Daniel telah melakukan tindakan asusila kepada sahabatnya.
Samuel juga Karen ingin sekali memberondong sahabatnya itu dengan berbagai pertanyaan. Namun, melihat keadaan Louisa yang sangat di luar dugaan, akhirnya mereka mengurungkan niat tersebut.
"Mari kita pulang, Louis. Kamu bisa sakit kalau berlama-lama berdiam diri di sini," lanjut Karen, melepaskan rengkuhannya.
Louisa hanya mengangguk tipis dan berjalan sempoyongan ke arah pintu mobil. Tubuhnya hilang keseimbangan dengan wajah pasi dan bibir membiru. Mata terkatup, ia tiba-tiba ambruk tidak sadarkan diri.
Samuel serta Karen, keduanya berteriak histeris secara bersamaan melihat Louisa yang terjungkal dan terlengar ke atas aspal. Kepanikan terlihat jelas di raut wajah keduanya. Mereka bersigera mengangkat tubuh gadis itu ke dalam mobil dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
__ADS_1
...*****...