
Jumat malam
"Bangun Louisa, bangun..." teriak Samuel menggoyang-goyangkan tubuh si gadis muda yang melingkar erat di atas guling kesayangan. Goncangan kencang yang dihasilkan kedua tangannya tidak mampu menggoyahkan Louisa dari buaian mimpi indah. Gadis itu tetap terlelap, meski teriakan demi teriakan menggema ke seluruh ruangan.
"Kamu tidur seperti bangkai, Louisa. Ayo bangun...!!" sambung Samuel, kesal.
Sejak kepulangannya dari kantor tadi pagi, Louisa menghabiskan waktu dengan tidur seharian. Ia pun melewatkan jam makan siang serta jam makan malam. Karena hanya dengan cara seperti itulah, setidaknya ia bisa melupakan kemelut cinta yang mengusik separuh hati jua pikiran. Pertengkarannya dengan sang kekasih tempo lalu, tidak jua menemukan titik terang. Bahkan, lelaki yang dicintainya itu menghilang tanpa jejak.
"Heh gadis pemalas, cepat bangun! Atau aku bakar semua foto si pria bajingan itu!" ancam samuel mulai hilang kesabaran.
Louisa langsung terbangun seraya mengerang panjang layaknya seekor singa yang terusik di tengah-tengah tidur panjangnya. "Samuel...!! Keluar dari kamarku... aku masih ingin tidur...!!"
Namun, Samuel mengabaikan hardikan Louisa. Ia menarik selimut yang menutupi kaki gadis itu, hawa dingin pun mengalir ke sekujur tubuh. Louisa tidak ingin tinggal diam, ia pun memegangi kain yang menutupi badannya tidak kalah kuat.
"Turun dan pergilah mandi!!" titah Samuel, garang.
"Kamu seperti ibuku, Sam. Cerewet...!!" Louisa merungkup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Dasar gadis keras kepala!!" umpat Samuel, menarik selimut tersebut sekaligus. "Ayo bangun!!" Samuel membetot lengan Louisa dan menyeret gadis itu dari atas ranjang menuju kamar mandi.
"Aku tidak mau mandi, Sam!!" tolak Louisa. Namun, tanpa perlawanan. Ia terlalu lemas, tenaganya tidak cukup kuat untuk bergerak atau sekedar melepaskan diri dari cengkeraman sahabatnya.
Samuel terus menarik tangan Louisa. Dibukanya keran kamar mandi. Air pun mengalir deras dari balik sela-sela pancuran. Ia mendorong tubuh Louisa hingga menyentak dinding, membiarkan tubuh sahabatnya itu kuyup oleh siraman air dingin.
__ADS_1
"Tega kamu, Sam!!" cerca Louisa.
"Suruh siapa, susah diatur?!" balas Samuel.
Louisa berdecak sebal. "Sekarang kamu keluarlah, Sam. Aku bisa mandi sendiri!"
"Aku pikir kamu mau aku mandikan!" canda Samuel, cengengesan.
"Pemuda gila!" sahut Louisa, meninju dada sahabatnya. "Ayo cepat keluar! Aku mulai kedinginan." Tubuh Louisa berangsur menggigil karena air dingin tak hentinya mengaliri raga.
Samuel mengiyakan karena ia pun sadar, bahwa ia dan Louisa adalah manusia berlawanan jenis. Bila ia berlama-lama berduaan di tempat itu, bisa saja otak warasnya tergerus oleh bisikan keegoisan yang pada akhirnya akan menghancurkan persahabatan. "Iya-iya aku keluar. Mandi yang bersih, terus ke ruang makan. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu."
Senyuman tipis terukir manis di setiap sudut bibir Louisa. Ia sungguh beruntung sebab memiliki sahabat sebaik Samuel. Ketika ia butuh sandaran dan di saat terpuruk sekali pun, Samuel lah yang selalu mendukung dan memberinya kekuatan. "Thank you, Sam!"
"Iya-iya, bawel!!" ketus Louisa, mendorong punggung Samuel.
Pintu pun ditutup rapat. Louisa lekas-lekas memutar kunci sebelum Samuel berulah lagi. Ia kembali berdiri di bawah kucuran air dingin. Membiarkan raga tersakiti layaknya jiwa yang terlukai.
...***...
Sementara di kamar mandi sebuah apartemen mewah, sepasang kekasih yang dimabuk asmara tengah menggenapkan aktifitas pergumulan mereka. Melampiaskan dahaga akan hawa nafsuu yang berbalutkan kata cinta. Bagi keduanya sek-s adalah ungkapan cinta. Akan tetapi, bila tanpa ikatan yang sah apa jadinya?
"Aku merindukanmu, Daniel! Please... puaskan aku malam ini!!" Chloe meracau, menikmati permainan demi permainan yang disuguhkan untuknya. Satu minggu sudah, ia menahan rasa gelisah. Kenikmatan yang Daniel berikan bak menjadi candu penuh madu baginya. Hingga mengkasatkan mata dari tulusnya kasih seorang pria yang mengucap janji setia.
__ADS_1
"Aku pun merindukanmu, Chloe. Sangat...!" balas Daniel, melambungkan perasaan perempuan yang telah bersuami tersebut. Ia tidak peduli akan rasa cinta dan juga mimpi-mimpi indah Chloe yang ingin menikah dengannya. Sebab di dalam pikiran seorang Daniel hanya ada uang, kekayaan dan tentu saja, sek-s. Tidak ada keinginan untuk mengikat diri dengan ikatan suci pernikahan.
"Daniel...!!" Chloe menjerit, memekikkan nama sang kekasih saat dahsyatnya puncak kenikmatan ia dapatkan. Wanita itu benar-benar lupa akan ikatan atas nama Tuhan. Ia tidak peduli pada harapan semua orang karena di benaknya kini hanya ingin terlepas dari jeratan bak penjara sebuah pernikahan tak diinginkan.
Sepasang kekasih tersebut akhirnya terkulai lemas di sebuah kasur ukuran besar. Dada naik turun, napas tersengal-sengal lantaran pertempuran sengit menggairahkan, menghabiskan tenaga yang mereka punya.
"Thanks Honey, untuk hari ini," ucap Chloe, sayu.
"Your welcome, Babe," sahut Daniel. "Sekarang, pakai kembali pakaianmu. Lima menit lagi, aku antar kamu pulang," sambungnya.
"Aku tidak ingin pulang." Chloe merajuk.
"Kamu harus pulang, Honey!" balas Daniel.
"Tapi..." sergah Chloe yang tidak ingin berjauhan dengan kekasih hatinya.
"Belum saatnya kita bersama. Bersabarlah, Chloe." Daniel merayu.
Meski terasa berat. Namun pada akhirnya, Chloe menuruti permintaan sang pujaan. Ia langsung bangkit, memunguti pakaian yang berserakan di atas lantai. Sebetulnya ia sangat malas untuk kembali ke rumah yang baginya bagai Neraka. Akan tetapi, apa boleh buat. Ia tidak bisa menolak apa pun yang Daniel inginkan.
Chloe sudah seperti boneka yang dimainkan sesuka hati oleh pemiliknya. Ia tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Rasa cinta, membutakan mata dan merusak logika.
...*****...
__ADS_1