Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 30 Edelin


__ADS_3

"Jadi, masalah keturunan yang menjadi pemicu pertengkaran antara kamu dengan Chloe selama ini?" tanya Edelin yang berdiri di balik pintu kamar putranya.


Edelin tidak sengaja mendengar perselisihan yang terjadi antara Axelle dan sang menantu. Ia yang baru tiba di kediaman putranya, sudah tidak sabar untuk melepas rindu. Karena itu, ia langsung saja mencari Axelle ke kamarnya. Bukan rasa senang yang ia dapatkan, melainkan sebuah petaka.


Axelle yang tidak mengetahui bahwa sang ibu menguping keributan antara ia dengan sang istri, tentu saja terkejut bukan kepalang. Ia pun sontak terpaku di depan pintu. Lidahnya kelu, mulut pun turut terkunci rapat. Kedua kaki mendadak terasa kaku.


"Kenapa, Nak...? Kenapa kamu biarkan wanita itu menginjak-injak harga dirimu? Apa kamu kira Mom akan bahagia melihatmu diperlakukan seperti sampah?" lirih Edelin tidak terima.


Ibu mana yang tidak akan sakit hati bila menyaksikan putra kesayangannya dihina serta direndahkan sedemikin rupa. Begitu pun juga dengan Edelin. Perasaannya begitu tercabik-cabik. Batinnya teriris. Ia terluka, amat terluka.


"Mom..." bisik Axelle tak mampu berkata-kata. Sejauh ini, ia berusaha menutupi bangkai pernikahannya dari sang ibu. Hanya untuk menjaga perasaan wanita yang sangat berarti di kehidupannya itu. Namun, takdir berkata lain. Edelin akhirnya mengetahui rahasia besar yang selama ini ia simpan.


"Anak bisa dicari, Axelle. Kamu bisa mengadopsi berapa pun yang kamu inginkan. Tapi, pendamping hidup pilihlah yang bisa mencintaimu dengan tulus. Menerima segala kekuranganmu. Bukan malah mempertahankan wanita yang jelas-jelas mengkhianatimu!" tekan Edelin.


"Mom..." sahut Axelle.

__ADS_1


"Jangan memotong omongan Mom, Axelle! Selama ini, Mom selalu mengabulkan apa pun permintaanmu. Dan kali ini, waktunya kamu menuruti keinginan Mom!" seru Edelin. "Ceraikan Chloe. Kembalikan dia pada orang tuanya. Mom tidak sudi punya menantu yang berwajah malaikat, tapi berhati iblis!!" Edelin marah besar.


"Belum saatnya, Mom..." jawab Axelle dengan suara bergetar. "Bukan aku mau membangkang, tapi biarkan aku menyelesaikan masalah ini perlahan," pinta Axelle. Ia menatap sayu sang ibu. Berharap wanita paruh baya itu, bisa luluh dan menerima keinginannya.


"Kamu terlalu dibutakan oleh cinta, Axelle. Sampai-sampai ibumu ini tidak kau indahkan!!" sembur Edelin. Ia tidak bisa memahami jalan pikiran anaknya yang terlalu naif.


Axelle meraih kedua tangan Edelin. Ia mengecup lembut jemari yang selalu digunakan untuk mendoakannya. "Berikan aku waktu, Mom."


Edelin mendelik dan menarik tangannya dari genggaman sang anak. "Kalau kamu menyayangi Mom. Pertimbangkan baik-baik permintaan Mom tadi. Jika tidak, terserah saja!!"


Wanita yang rambutnya mulai memutih itu, beranjak dari hadapan sang anak. Dadanya terlampau sesak mengingat perkataan demi perkataan yang terlontar dari mulut menantunya tadi.


...***...


Blue Crown Company

__ADS_1


"Ah... akhirnya beres juga..." Louisa merentangkan kedua tangan dan menariknya ke belakang kepala. Ia merenggangkan otot leher juga otot pinggang yang terasa pegal, efek duduk berjam-jam di depan komputer. "Oh God, lelahnya..." keluh Louisa.


Ia melirik jam yang tergantung di atas dinding dan lagi-lagi ia mengeluh. "Ya Tuhan... sudah jam tujuh malam rupanya. Hari pertama kerja, langsung diberi tugas menumpuk."


"Tidak usah manja. Jangan banyak mengeluh. Posisimu di perusahaan adalah posisi yang sangat diidam-idamkan oleh seluruh karyawan perempuan," sela Erika yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kau?" tunjuk Louisa pada gadis yang sebaya dengannya. "Kenapa belum pulang?" tanyanya sekadar basa-basi.


"Bukan urusanmu!" Erika kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya. Ia terlihat mengecek satu per satu berkas yang sudah dirapikan sebelumnya. Memastikan bahwa tidak ada satu pun yang terlewatkan. "Oh iya satu lagi, jangan sok asyik denganku!" ketus Erika.


"Ish... sombongnya," cibir Louisa dengan suara sepelan mungkin. Namun, ternyata masih terdengar jelas di telinga Erika.


"Apa barusan kau mengumpatku, anak baru?" sentak gadis yang mengenakan rok span sebatas paha.


"Aku? Mengumpatmu? Yang benar saja...!" Louisa mengambil tas dari atas kursi dan menyilangkannya ke depan dada. "Aku pulang duluan ya. Bye Erika..." Louisa melambaikan tangan dan berlalu dari hadapan rekan barunya.

__ADS_1


Erika mengerling dengan mulut bersungut-sungut. "Mentang-mentang anak emas tuan Axelle. Baru juga hari pertama, sudah sangat menyebalkan. Awas saja anak baru, suatu saat aku akan mengerjaimu habis-habisan!"


...*****...


__ADS_2