Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 15 Enyahlah!!!


__ADS_3

"Ayo, Sam. Lebih cepat lagi! Louisa pasti sedang membutuhkan kita..." pinta Karen, kelimpungan.


"Ini juga sudah cepat, tapi aku kehilangan jejak mobil yang membawa Louisa," balas Samuel, putus asa.


"Astaga... kenapa kamu begitu bodoh, Sam? Seharusnya sejak awal, aku tidak pernah mengandalkanmu!" cerca Karen, kesal.


"Berhentilah menyalahkanku terus menerus!!" geram Samuel yang tidak terima menjadi tempat pelampiasan kepanikan gadis di sampingnya.


"Maaf... aku hanya terlalu mencemaskan Louisa. Firasatku mengatakan, dia tidak sedang baik-baik saja," lirih Karen, dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan cuma kamu yang mencemaskan Louisa, tapi aku juga!!" sembur Samuel. "Tapi di saat seperti ini kita harus tetap tenang. Kita mesti bisa mengendalikan diri sendiri!" sambungnya, turut merasa kesal.


"Bagaimana aku bisa tenang, Sam? Saat ini, Louisa sedang berduaan dengan si penjahat kelaminn! Aku sudah bisa membayangkan, apa yang akan dilakukan bedebah itu pada sahabat kita!!" cakap Karen.


"Dari pada kamu nyerocos tidak karuan, lebih baik bantu aku buat melacak keberadaan Louisa melalui GPS ponselnya." Samuel mendelikkan mata karena dibuat pusing oleh omongan Karen yang tidak ada titik koma.

__ADS_1


Karen berdecak, "Tidak kau suruh pun, aku sudah melakukannya dari tadi. Tapi, GPS ponsel Louisa di luar radar, tidak bisa dilacak!!"


Samuel mengerang dan mengusap wajahnya kasar. Ia memukul stir mobil, menumpahkan kekesalan di hati. Ia pun sebenarnya menyalahkan diri sendiri lantaran janji untuk menjaga Louisa tidak bisa ia tepati.


Apa yang pemuda itu rasakan kini, sama dengan apa yang Karen rasakan. Penuh kegelisahan serta ketakutan sebab pikiran-pikiran buruk menghantui, tak tahu dari mana datangnya.


"Sudah satu jam kita hanya berputar-putar di sini saja," isak Karen lantaran kepanikan semakin membuncah. "Di mana kamu Louis...?" gumamnya yang terdengar sendu menjadikan batin Samuel turut teriris.


"Louisa gadis tangguh. Aku yakin di mana pun dia berada, Louisa bisa survive dengan masalah yang menimpanya," sahut Samuel, menenangkan Karen. Walau ia sendiri diliputi rasa sesak, yang berkecambuk di dalam dada.


"Kamu tahu sendiri, 'kan, bagaimana otak licik bajingan itu? Dia tidak akan berubah sampai kapan pun dan dia bakal menghalalkan segala cara buat mendapatkan apa yang diinginkan!!" Karen mengepalkan telapak tangan. Teringat saat ia tidak sengaja memergoki kekasih sahabatnya itu bermesraan dengan seorang wanita di sebuah hotel mewah, belum lama ini.


Karen menghela napas panjang. Ia melipat kedua tangan di atas dada serta mengatup mulut rapat-rapat. Penglihatannya ia sibukkan dengan memperhatikan jalanan yang tengah dilewati.


"Kuharap kamu dalam keadaan baik-baik saja Louis. Dan aku pun berharap, ketakutanku ini tidak pernah terjadi." Karen berkata-kata di dalam hati, mengingat tidak ada seseorang yang bersedia mendengar keluh kesahnya.

__ADS_1


...***...


Sementara di dalam villa, tubuh Louisa bergetar hebat melihat darah segar keluar dari balik punggung Axelle. Raga membeku sesaat, batinnya benar-benar terguncang. Sungguh, ia tidak bisa memahami dengan apa yang dialami barusan. Semuanya begitu sulit untuk ia terima. Bayangan akan malam yang indah, ternyata berakhir tragis layaknya sebuah mimpi buruk.


"Ya Tuhan... mengapa semua ini harus terjadi padaku?" Louisa menangis tersedu-sedu, setelah kesadarannya perlahan kembali pulih. "Da-Daniel, apa dia mengkhianati kepercayaanku, Tuhan?" Louisa bertanya-tanya di tengah isakan yang terdengar lara.


"A-aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Secepat mungkin, aku harus pergi dari tempat ini sebelum pria sialan itu keburu siuman!" Netra mata Louisa mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk merungkup tubuh setengah polosnya. Biji mata berputar dan berhenti pada sebuah kain yang menutupi meja. "Ah... taplak itu bisa kugunakan sebagai selimut. Karena sangat tidak mungkin, aku pergi dengan kondisi seperti ini."


Louisa menarik taplak tersebut, membuat benda-benda di atasnya berjatuhan ke atas lantai dan menimpa kepala belakang Axelle. Louisa tidak peduli akan nasib pria itu sebab saat ini keselamatan dirinyalah yang lebih utama. Ia sudah tidak bisa berpikir logis, tragedi malam ini menorehkan trauma mendalam.


Louisa beranjak meninggalkan Axelle yang terkapar lemah. Akan tetapi, baru juga satu langkah. Salah satu kakinya mendadak sulit digerakkan.


"To-tolong... a-ku bi-sa ma-ti..." kata Axelle begitu lirih.


Melihat pria yang telah merundungnya dalam kondisi sekarat, tidak sedikit pun menggugah perasaan Louisa. Naluri telah mati, batinnya terlalu pedih lantaran diperlakukan tidak adil oleh pria, yang bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya.

__ADS_1


"Pria tak bermoral sepertimu akan lebih bagus bila mati sekarang juga. Enyahlah kau, bedebah! Neraka menunggumu!!" Louisa menghentakkan kaki dan cekalan tangan Axelle pun terlepas. Ia tak ingin menoleh kembali ke belakang. Terus berjalan sejauh yang ia bisa.


...*****...


__ADS_2