Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 31 Bangun


__ADS_3

"Bangun!!" suruh seseorang pada pria yang tergeletak lemah di atas lantai dingin nan lembab. Kondisi pria itu nampak sangat memprihatinkan. Bulatan hitam di area mata serta bekas luka-luka lebam mewarnai wajahnya yang lusuh. Bangun!!" Seseorang itu menyiramkan seember air lantaran pria lemah tersebut, masih enggan membuka kelopak matanya.


"Dingin..." keluh si pria malang.


"Makanya, bangun!!" sentak seseorang, menendang pinggang pria malang.


"A-aku haus... aku butuh air minum," rintih si pria dengan luka lebam di wajahnya.


Seseorang yang wajahnya tidak jelas terlihat karena minimnya pencahayaan ruangan. Ia melungsur dan berjongkok di depan si pria malang. Ia pun menarik dagu pria tersebut, agar bisa menatap wajahnya. "Lihat aku, bedebah!!"


"Ka-kau? Axelle Flynn? Ternyata kau yang sudah menyekapku. Apa salahku sampai-sampai kau mengurung dan menyiksaku seperti ini?" tanya pria malang dengan suara lemahnya.


Axelle tersenyum sinis, lalu mencengkeram kuat kedua rahang pria di hadapannya. "Apa salahmu? Kau tidak tahu, apa kesalahanmu, Daniel? Apa perlu aku sebutkan satu per satu?"


Daniel membisu. Namun, bertanya-tanya di dalam hati. Apa mungkin Axelle mengetahui segala kelicikan dirinya?


"Kenapa Daniel, apa yang kau pikirkan? Sedang mencari alasan atau memikirkan dari mana aku bisa tahu soal kelakuan bejatmu?" seloroh Axelle seakan bisa membaca isi pikiran pemuda yang diam membisu.


Daniel menyorot paras pria yang bertanya padanya. Ia pun tertawa kecil dengan kepala bergeleng-geleng. "Memangnya apa yang sudah aku perbuat, Axelle? Coba sebutkan!!"

__ADS_1


Axelle menatap balik Daniel dengan raut mengintimidasi. "Kau yakin ingin aku menyebutkan apa dosa-dosamu? Baiklah...."


"Ayo sebutkan, jangan buang-buang waktu!" potong Daniel, menantang.


"Dosa pertamamu karena sampai saat ini, kau masih menjalin percintaan dengan Chloe yang jelas-jelas adalah istriku. Dosa yang kedua, tanpa malu kau masih berhubungan badan dengan istriku...."


"Lalu yang ketiga?" Daniel memotong omongan Axelle lagi.


"Yang ketiga..." Axelle menjeda ucapannya. Raut wajah tiba-tiba berubah. Dari asalnya sinis menjadi murka. "Kau menjebakku bersama seorang gadis lugu. Dan mirisnya, gadis itu adalah kekasihmu sendiri!!" sambung Axelle.


Daniel tergelak dan bertepuk tangan meski tidak mengeluarkan suara. Di tengah-tengah kondisi tubuhnya yang ringkih, ia masih saja menunjukkan kesombongan. "Wah... wah... wah... detektif mana pun akan kalah dengan kecerdasanmu, Axelle. Bagaimana kekasihku, hm...? Pasti kau sangat menikmati kecantikan dan kemolekan tubuh yang selama ini aku idam-idamkan. Satu hal lagi, dia masih perawan. Sesuai yang kau inginkan, bukan, wahai pria hipokrit!!"


"Kenapa marah? Bukankah, apa yang kukatakan barusan benar adanya? Ayolah... kita sesama lelaki, pasti memiliki pikiran yang sama. Kau marah karena istrimu berselingkuh denganku. Lalu, kau sendiri? Bermain ja-lang!!" cibir Daniel, sengaja ingin memancing kemarahan Axelle. Karena baginya sebuah keberhasilan, bila berhasil membuat lawan bicara hilang kendali.


Axelle mengerang dengan kepalan tangan terangkat ke atas samping kepalanya. Ia terlihat bersiap untuk menghajar si laki-laki tak tahu diri.


"Ayo, pukul! Lampiaskan semua kemarahanmu, Axelle!!" tantang Daniel. "Kenapa kau diam saja? Cepat pukul!!" Daniel terkekeh untuk mengejek.


Axelle masih di posisi yang sama. Ia terdiam dengan tangan mengepal keras. Dan setelah beberapa saat, ia menurunkan lengannya secara perlahan. "Aku tidak akan mengotori tanganku dengan menghajar pria sepertimu. Kau nikmati saja hari demi hari tinggal di tempat ini, sampai membusuk!!"

__ADS_1


"Axelle...!!" Daniel murka. Kali ini giliran ia yang terpancing emosinya.


Axelle mengangkat kedua bahunya ke atas dan beranjak berdiri dari hadapan Daniel. Ia pun menarik kedua kakinya untuk menjauh dari pria yang amat ia benci.


Melihat sikap acuh tak acuh Axelle, menjadikan Daniel semakin meradang. Ia pun kembali memaki dan disusul dengan umpatan-umpatan keji. "Axelle!! Pria pengecut! Pria mandul! Sampai kapan pun, kau akan menjadi seorang pengecut. Tidak akan ada satu wanita pun yang sudi mencintai pria tak berguna sepertimu. Bahkan, istrimu sendiri lebih memilih diriku. Dengar itu, sialan!!"


Axelle menghela napas dan berusaha untuk tetap tegar. Walau sebenarnya, ucapan-ucapan Daniel barusan melukai harga dirinya sebagai seorang lelaki.


"Michael?" panggil Axelle pada anak buahnya.


"Ya, Bos?" jawab Michael.


"Hari ini jangan berikan pria itu minuman dan makanan. Biarkan dia kehausan, kelaparan. Aku ingin, dia meminta belas kasihan pada kita," pinta Axelle.


"Siap, Bos!!" sahut Michael.


Axelle melanjutkan kembali langkahnya, menuju pintu keluar yang jaraknya tinggal beberapa meter di depan mata.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2