
"Jangan...!!" Louisa terbangun dan langsung berteriak. Mengejutkan semua orang yang berada satu ruangan dengannya. "Pergi kamu, pergi...!!" racau Louisa. Ia mengibas-ngibaskan tangan. Namun, kedua mata masih tertutup rapat.
"Louisa... sadar, Louisa...!" Frans berusaha menenangkan, tetapi teriakan gadis itu malah semakin menggila.
"Jangan dekat-dekat denganku, pria bajingan!!" teriak Louisa lagi. Ia memukuli dada Frans. Mengira bahwa lelaki yang berdiri di sampingnya sekarang ini adalah Axelle.
"Aku Frans! Sadarlah, Louisa!" Frans menarik tubuh sang gadis dan membawanya ke dalam pelukan. "Tenangkan dirimu! Kamu aman bersamaku," ucap Frans lembut.
Louisa menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Frans. Suara isak tangis gadis itu, begitu menyayat kalbu. Sangat jelas terlihat, jika ia belum bisa melupakan pengalaman pahit yang terjadi akibat sebuah kesalahan.
Dan setelah beberapa saat, tangisan pun mereda. Louisa mengangkat kepala. Memastikan lelaki yang bersamanya kini adalah Frans. Bukan laki-laki yang ia benci segenap hati.
"Tuan Frans?" lirih Louisa, sesenggukan.
"Iya, ini aku. Frans," jawabnya dengan tangan kanan membelai kepala Louisa. "Jangan menangis!" Frans menyeka air mata yang menggenang di kelopak mata.
"Ta-tadi aku melihat dia! Laki-laki itu ingin membawaku!" ujar Louisa terbata-bata.
__ADS_1
Frans mengerutkan kening. "Laki-laki yang mana, Louisa...?"
"A-Axelle! Na-namanya Axelle! Aku ingat betul, tadi dia menggendongku!" Louisa meremas kuat pakaiannya, ketakutan akan sosok pria yang telah memberikan luka batin. Masih terngiang di ingatan Louisa, bagaimana pria itu melontarkan kata-kata hinaan serta ucapan buruk kepadanya.
"Tapi, tadi aku yang membawamu ke Rumah Sakit. Tidak ada orang lain, kecuali aku!" Frans berusaha meyakinkan.
Louisa termenung. Bagaimanapun juga, saat ia melihat Axelle tengah memangkunya. Ia masih dalam kondisi sadarkan diri. Jadi, sangat tidak mungkin kalau semua yang ia saksikan, hanyalah mimpi atau sekadar ilusi.
"Mungkin kamu salah lihat," kata Frans yang menangkap raut kebimbangan di wajah Louisa. "Sudah, lupakan dulu soal itu! Terpenting saat ini, kamu cepat pulih agar bisa kembali ke kantor. Karena aku akan sangat kerepotan kalau kamu terlalu lama cuti bekerja!" tambahnya, tak ingin Louisa larut dalam pikiran.
Louisa mengangguk tipis. Meski di dalam hati menyimpan sebuah teka-teki. Ia wanita yang tidak mudah percaya pada perkataan orang lain. Terlebih bila indra penglihatannya sendiri, menyaksikan langsung apa yang tercipta di depan mata.
Louisa menyeringai lantaran terganggu oleh aroma masakan yang tersaji di dalam mangkuk besar. "Aku tidak suka sup sayuran...."
"Kau sama saja seperti Ax...." Frans menjeda ucapannya lantaran hampir saja keceplosan menyebutkan nama Axelle. "Seperti Axe, kucingku!" sambungnya, meringis seperti seekor kuda.
Axelle yang tengah memperhatikan Frans dan Louisa dari jarak beberapa meter. Membuang napas lega dan mengusap-usap dada. "Hampir... saja. Awas, kalau sampai semuanya terbongkar gara-gara kedunguanmu, Frans!!"
__ADS_1
"Tapi aku tidak suka baunya." Louisa merajuk. Memalingkan muka seraya menutupi hidung.
Frans mengangkat mangkuk yang berisikan sup sayuran, lanjut menyendok makanan tersebut. "Aku suapi dan kamu tidak boleh menolak! Kalau kamu tetap tidak mau, maka tidak usah kembali ke kantor!!!"
Mendapat ancaman seperti itu. Mau tidak mau, Louisa terpaksa melahap sup sayuran yang disodorkan Frans padanya. Meski berkali-kali ia menahan rasa mual. Namun akhirnya, ia menghabiskan semua makanan itu hingga tak bersisa.
"Terima kasih," ucap Louisa setelah selesai menyantap sarapan pagi.
Frans tersenyum senang. "Sama-sama, Louisa."
Louisa terpaku menatap senyuman manis Frans yang terus terukir seraya memandanginya tanpa berkedip. "Kenapa Anda melihatku seperti itu?"
Wajah Frans mendekat. Ia mengarahkan ibu jari ke sudut bibir Louisa. "Ada sisa makanan menempel."
"Oh..." sahut Louisa, tersipu malu.
Perasaan di dalam dada, tiba-tiba bergemuruh lantaran adegan mesra yang tak disangka-sangka. Axelle mengepal tangan erat. Meninju dinding yang sama sekali tak memiliki kesalahan. "Harusnya aku yang di sana. Bukan Frans!!!"
__ADS_1
...*****...