Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 37 Ambulan


__ADS_3

"Bagaimana, Frans?" tanya Axelle pada sahabatnya yang baru saja mengakhiri percakapan di telepon.


"Pertolongan medis akan segera datang. Jadi, tenanglah. Kau tak perlu panik," jawab Frans santai, berjalan mendekat ke arah di mana Louisa tergolek lemah.


"Berapa lama mereka akan tiba?" tanya Axelle lagi. Betapa ia mencemaskan Louisa. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadis di depannya itu.


Frans menarik pundaknya ke atas. "Tidak tahu, mungkin lima menit. Bisa jadi sepuluh menit. Atau bahkan tiga puluh menit."


Axelle mengusap wajahnya kasar. Ia ingin sekali memukul kepala sahabatnya itu. Namun, kekhawatiran akan kondisi Louisa. Mengalahkan api amarah yang membara di dalam dada.


Pria yang mengenakan t-shirt berwarna hitam, memutar kepala. Kedua manik matanya menatap lekat wajah sang gadis, yang terbaring tak sadarkan diri dengan warna bibir pucat pasi. Ia menggenggam pergelangan tangan Louisa dan denyut nadi pun terasa melemah.


"Ayo bangun!!" Axelle kembali menepuk-nepuk kedua pipi Louisa. "Bangun, gadis bodoh!!" Axelle menekan-nekan dada Louisa. Akan tetapi, gadis itu tetap saja terlengar.


"Kenapa tidak kamu berikan dia napas buatan?!" Frans tiba-tiba menceletuk. Meski terdengar lelucon belaka. Namun, saran yang ia cetuskan barusan adalah satu-satunya pertolongan pertama yang bisa diberikan. Di tengah-tengah kondisi darurat seperti sekarang ini.


Axelle melirik sinis ke arah Frans, kemudian melihat Louisa yang terlihat bak mayat hidup. Ia menarik napas panjang dan mengatup kedua mata. Pikiran dan batin bergejolak, antara mengiyakan saran Frans atau menganggapnya sekadar angin lalu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kau tidak mau, biar aku saja!" Frans mencondongkan bibirnya ke atas bibir Louisa. Berniat untuk memberikan napas buatan kepada gadis itu.


"Kau mau apa?" Axelle menghadang mulut Frans menggunakan telapak tangannya.


"Memberikan napas buatan," jawab Frans sekenanya. Ia mengerucutkan bibir. Hanya tinggal beberapa inci lagi, maka benda tipis miliknya itu akan menempel di atas bibir Louisa.


"Tidak perlu! Biar aku saja!" Axelle menarik kasar lengan Frans, agar laki-laki lajang itu menjauh dari tubuh si gadis.


Frans berjalan mundur beberapa langkah seraya mengulum senyuman. Rupanya rencana yang ia pikirkan, akan berjalan sesuai harapan. Ia pun langsung menyiapkan kamera ponsel, untuk mengabadikan momen indah yang bakal terjadi beberapa saat lagi. Antara Louisa dengan sahabat karibnya.


"Hurry up! Kau tunggu apa lagi? Pikirkan keselamatan gadis itu!" desak Frans, tidak sabar ingin melihat adegan panas di depan matanya.


Axelle mengambil napas dalam, kemudian menempelkan bibirnya di atas mulut Louisa yang terbuka. Kerongkongan naik turun, berkali-kali ia menelan saliva. Sejenak, pikirannya seakan melayang. Merasai lembutnya benda tipis dan dingin milik Louisa.


Setelah beberapa detik meneguhkan hati. Axelle membuka mata sekaligus. Ia meniupkan napas dengan penuh tenaga ke dalam mulut Louisa. Berharap gadis itu siuman.


Sementara di sisi sebelah kanan, Frans tengah asyik merekam aksi Axelle yang berkali-kali memberikan napas buatan pada Louisa. Ia melipat bibir, menahan senyuman tengil. Sebab menyadari bahwa sahabatnya itu, nampak menikmati setiap sentuhan di bibir sang gadis.

__ADS_1


"Perfecto!" batin Frans, kegirangan.


Lima menit telah terlewati. Akan tetapi, kondisi Louisa tidak ada perubahan sedikit pun. Axelle kembali gelisah mana kala ia merangkum wajah gadis itu, terasa lebih dingin dari sebelumnya.


"Frans, kenapa ambulan belum datang juga?!" sentak Axelle pada lelaki yang berdiri bersandar pada sebuah lemari. "Coba kamu telepon lagi! Pastikan posisi mereka sudah sampai mana!" titahnya pada Frans.


"Oke!" sahut Frans, singkat.


Tuhan selalu mendengar doa setiap hamba-Nya. Sebab sejurus kemudian, tiga orang tenaga medis telah tiba di lantai dua. Mereka diantarkan oleh security kantor yang berjaga malam ini.


Akhirnya, Louisa berhasil dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan di tangan orang yang tepat. Ia bak putri tidur, terlelap dalam buaian mimpi indah. Nampak di tangannya tertancap jarum infusan. Sementara di atas wajah, terpasang alat bantu pernapasan.


"Berjanjilah, kau akan baik-baik saja," kata Axelle di dalam hati.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Axelle tak henti-hentinya berdoa. Kedua netra mata pun tak lepas dari memandangi wajah Louisa.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2