
"Rudolf... di mana kamu bedebah?!!" teriak seseorang tiba-tiba, menggemparkan semua orang yang tengah bersenang-senang.
Seperti malam-malam biasanya, keadaan klub saat ini sangat ramai oleh dentuman musik dan hiruk pikuk para pengunjung dengan berbagai usia. Ada yang terbahak-bahak. Ada yang tengah meliuk-liukkan dan ada pula yang sedang menenggak minuman memabukkan. Mereka nampak menikmati hidup, di dunia yang hanya sementara.
Namun, semua mendadak terdiam. Kondisi berubah mencekam lantaran kehadiran seorang pria dengan pisau di tangan. Di bagian pelipis terdapat luka, di bagian punggung merembes darah segar.
Semua orang kalang kabut, menyelamatkan diri mereka sendiri dari ancaman bahaya. Dua orang bertubuh tambun pun tidak mampu menghalau seseorang itu untuk tidak memasuki klub malam dan membuat kegaduhan.
"Rudolf... keluar kamu!!" pekik seseorang itu untuk kedua kali. Sorotan matanya teramat tajam, mencari keberadaan pria yang harus bertanggung jawab atas kekacauan yang menimpanya malam ini. "Rudolf...!!" erangnya seraya menahan rasa sakit.
Pria yang bernama Rudolf keluar dari ruangan, berjalan tergesa-gesa menilik ke arah sumber keributan. Ia melihat sosok yang dikenalnya dan langsung menghampiri orang tersebut. "Ada apa Tuan Axelle berteriak-teriak dan membuat keributan di tempat saya?"
Axelle menyalang murka, lanjut menarik kerah kemeja pria di hadapannya dan mengarahkan pisau yang ia bawa. "Mana gadis itu?"
"Ga-gadis yang mana, Tuan?" jawab Rudolf.
__ADS_1
"Tidak usah berpura-pura bodoh. Gadis yang kamu bayar buat melayaniku malam ini, mana dia?!!" geram Axelle.
"Ampun Tuan... saya benar-benar tidak tahu maksud Tuan Axelle," ungkap Rudolf menatap ngeri sebilah pisau yang siap menghunus urat-urat di lehernya.
"Gadis itu kabur sebelum menyelesaikan tugasnya!!" Axelle menekan benda tajam yang digenggamnya. "Dan lihat apa yang dia perbuat kepadaku!!" Axelle memperlihatkan punggung dan kepala yang terluka oleh perlawanan Louisa.
Rudolf meringis karena pisau tersebut berhasil melukai lehernya. "Ka-kabur? Tapi, bagaimana bisa?"
"Aku datang menemuimu buat mengetahui keberadaan perempuan itu, bukan untuk mendengar bualanmu, Rudolf!!" sembur Axelle karena tidak juga mendapatkan jawaban. "Katakan, siapa gadis itu sebenarnya? Dia bilang kalau dia bukan perempuan penghibur, lalu siapa dia?" cecarnya geregetan.
Rudolf terperangah, bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sendiri bingung karena gadis yang diperdebatkan saat ini memang bukanlah perempuan bayaran. Melainkan, wanita baik-baik yang belum sekali pun ia jumpai.
Luka sayatan di leher bertambah dalam, Rudolf tidak ingin mati konyol di tangan Axelle. "Ba-baik Tuan, saya akan memberitahu Anda siapa perempuan itu. Ta-tapi tolong jauhkan pisau ini dari leher saya. Benda ini membuat saya sulit bernapas."
Mendengar perkataan dan permintaan Rudolf barusan, kemarahan Axelle sedikit mereda. Ia menurunkan tangannya lalu melempar pisau tersebut hingga menancap pada sebuah meja. "Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu!!!"
__ADS_1
"Gadis itu bernama Louisa. Anak buah saya yang mendapatkannya," jelas Rudolf menggantung.
Axelle nampak tidak puas dengan jawaban yang diberikan Rudolf, ia pun kembali bertanya mengenai identitas wanita yang dijual untuknya. "Berikan identitas gadis itu dengan lengkap! Atau aku tidak akan mengampunimu, Rudolf?!"
"Di-dia bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga Anda, Tuan," lanjut Rudolf.
"Bekerja di perusahaan mana?" tanya Axelle tidak sabar.
"Di perusahaan Flynn Company, Tuan," sambung Rudolf. Ia sebenarnya ingin merahasiakan identitas Louisa. Namun, ia tahu bahwa Axelle bukanlah orang yang bisa diajak bercanda. Mau tidak mau, ia terpaksa mengungkapkan jati diri gadis itu pada Axelle.
"Shittt!!! Aku hampir saja merusak kesucian gadis terhormat karena ketololanmu, Rudolf. Sekarang, kau harus bertanggung jawab dengan membawa anak buahmu yang menjebak gadis itu kepadaku!!" pinta Axelle tak ingin dibantah.
Rudolf seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Ia hanya mengiyakan apa pun yang diperintahkan Axelle. Ia tidak ingin berurusan dengan keluarga Flynn karena itu sama saja dengan menggali kubur sendiri.
"Baik, Tuan Axelle. Saya akan membawa dia ke hadapan, Tuan. Secepatnya," balas Rudolf tanpa menampakan keraguan sedikit pun. Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa sang anak buah yang dimaksud olehnya telah melarikan diri ke luar kota demi menghindari masalah yang kapan saja menyerangnya.
__ADS_1
"Aku tunggu kabar baik darimu, Rudolf. Jika kamu mengecewakanku sekali lagi, kamu tahu akibatnya!!" Axelle mengacungkan sesaat jari telunjuk ke arah wajah Rudolf. Ia beranjak dari klub malam dan langsung bertolak ke Rumah sakit. Bagaimana pun juga luka di punggung dan kepala bagian belakang harus mendapatkan penanganan sesegera mungkin, sebelum hal tidak diharapkan terjadi dan benar-benar mengancam jiwa.
...*****...