Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 26 Musim Gugur


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Hari berganti hari tiada terasa. Namun, langit tetaplah sama. Membentang luas memayungi dunia. Memancarkan kedamaian di antara putihnya mega.


Sementara, hati yang terluka masih saja terkungkung oleh episode masa lalu. Sejauh mana raga terbang tinggi, pada akhirnya turut jua segala kenangan. Semakin kuat hati melupakan. Maka, semakin erat jiwa terikat.


"Kenapa, Nak?" William berdiri di samping Louisa yang menatap daun-daun berguguran dari balik jendela.


Louisa menoleh seper sekian detik dan kembali asyik memandangi dedaunan yang tersapu angin. "Aku hanya teringat masa kecil, Pa...."


William mengangkat tangan kanannya, ingin merangkul sang putri tercinta. Namun, pada akhirnya ia urungkan. "Papa ingat betul, kamu suka sekali dengan musim gugur."


"Dan membenci musim salju," sambung Louisa bernada dingin. Karena di musim itulah, kebahagiannya memiliki keluarga yang utuh, sirna oleh keegoisan.


William menelan ludah. Tentu saja memorinya masih mengingat dengan jelas, di mana perselingkuhannya dengan seorang wanita disaksikan langsung oleh istri jua anaknya. "Kau masih menyimpan rasa sakit itu, Nak?"


"Tentu!" Louisa menatap tajam, bak sembilu.


"Dan kau masih membenci Papa?" lirih William.


Louisa menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah diajarkan untuk membenci orang lain. Walaupun orang itu telah melakukan kesalahan fatal!"


William tersenyum kecut. Ia mengerti, sangat tidak mudah menyembuhkan luka masa lalu yang tertanam di hati putrinya. "Maafkan Papa...."

__ADS_1


"Papa sudah meminta maaf lebih dari seribu kali," balas Louisa. "Jadi, tidak ada lagi yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah usai dan tak akan kembali sama."


William mengangguk-angguk. "Kamu benar, Nak. Kata maaf tidak akan merubah apa pun. Tidak akan mengembalikan yang telah hilang."


Di tengah-tengah hubungan antara ayah dan anak itu, terdapat benteng yang sangat tinggi. Di mana benteng itu dibangun oleh pengkhianatan serta kepalsuan. Hanya mereka yang berasal dari keluarga broken home, yang bisa memahami bagaimana perasaan Louisa. Bagaimana beratnya ia berjuang melewati masa-masa sulit.


"Oh iya Pa. Besok, aku sudah menempati rumah pemberian mendiang opa. Karena lusa, aku sudah mulai bekerja." Louisa mengalihkan pembicaraan karena tak ingin larut lagi dalam kesedihan. Setiap William membahas tentang masa lampau, benih-benih rasa benci seakan tertanam kembali di dalam hati.


"Tinggal di sini saja, Nak. Temani Papa," harap William, tak ingin berpisah lagi dengan anak yang sempat disia-siakan.


Bibir Louisa tertarik tipis. "Selama ini aku terbiasa hidup sendiri, Pa. Aku tidak ingin menyusahkan Papa ataupun tante Natalie."


William hanya bisa pasrah dengan kekeras kepalaan Louisa. Ia tidak bisa marah maupun memaksa gadis itu untuk tetap tinggal bersamanya. "Baiklah tuan putri. Tapi, Papa minta setiap akhir petang datanglah kemari. Biar Papa tidak kesepian."


"Kamu ada-ada saja, Nak..." William mengacak-acak pucuk rambut putrinya.


"Aku bukan anak kecil lagi, Pa..." rajuk Louisa tidak suka rambutnya dibuat berantakan karena ia sudah bersusah payah menata rambutnya agar terlihat cantik.


"Kamu akan selalu menjadi gadis kecilnya Papa, Louis." William membelai kepala Louisa dengan penuh kasih sayang.


Kendati perbincangan keduanya di awali dengan ketegangan. Namun, bisa diakhiri dengan senda gurau dan gelak tawa. Mereka sama-sama saling menyembuhkan satu sama lain. Dari rasa bersalah juga sakit hati.

__ADS_1


Keakraban ayah dan anak tersebut, ternyata tidak diingini Natalie. Perlahan, iri dan dengki merasuki diri wanita paruh baya itu. Ia sangat tidak suka melihat suaminya bisa begitu hangat dengan Louisa. Sedangkan dengan putrinya, William sangat kaku dan dingin. Karena itu, mendengar Louisa akan hengkang dari rumahnya, ia merasa bahagia.


"Baguslah... lebih cepat kau pergi, maka akan lebih baik. Karena kalau kau masih menumpang hidup di sini, aku pastikan akan membuat hidupmu tidak tenang!!!" gumam Natalie yang mengintip keakraban suami dengan anak tirinya dari celah daun pintu.


...***...


"Lapor, Tuan Axelle!" ucap seseorang dari seberang telepon.


"Bagaimana, Frans? Ada kabar baik apa buatku?" tanya Axelle pada orang kepercayaannya.


"Saya sudah berhasil menemukan tempat tinggal gadis yang Tuan cari," ucap seseorang itu lagi.


"Benarkah?" Axelle menarik bibirnya ke salah satu sudut. "Ternyata sangat mudah melacak keberadaan gadis itu." Axelle memainkan dagunya. Wajahnya terlihat begitu misterius.


"Benar, Tuan. Dan sesuai permintaan, hari Rabu sekarang, dia sudah mulai bekerja di perusahaan milik Tuan," ungkap Frans, lantas mengirimkan foto yang menampilkan surat lamaran kerja dan email yang dikirimkan pada gadis itu.


Axelle tersenyum senang. "Baik, terima kasih untuk infomasinya, Frans. Aku puas dengan kerjamu!!"


"Sama-sama, Tuan." Frans menutup panggilan teleponnya.


Axelle duduk bersandar seraya memutar-mutar sebuah pulpen di tangan kirinya. Kini, ia tidak bisa membedakan mana rasa penyesalan, mana obsesi semata. Mulutnya berkata, ia ingin bertemu Louisa untuk mengakui kesalahan. Namun, jauh di bawah alam sadar. Ia sebenarnya menginginkan gadis itu. Ada rasa penasaran yang terselip di dalam sanubari, sebagai seorang laki-laki normal.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2