
"Ma-majikan apa? Majikan siapa?" Louisa kebingungan.
"Apa kau tidak lelah terus saja memainkan sikap sok lugumu itu, gadis bayaran?" Axelle menjepit kedua rahang Louisa dengan jemarinya. "Sudahi sandiwaramu dan mulailah bekerja layaknya wanita murahan!!"
Louisa menepis tangan Axelle dari wajahnya. "Cukup!! Anda terlalu banyak bicara, Tuan! Sepertinya Anda sedang mabuk. Pulanglah... lalu tidur yang lelap seperti seorang bayi laki-laki!"
Axelle tergelak lantas menarik pinggang Louisa membuat tubuh keduanya saling berhimpitan. Tatapannya teramat tajam. Tatapan yang telah dipenuhi kabut gairah dan dikuasai nafssu setan.
"Aku sudah membayarmu dengan jumlah yang fantastis, layani aku sekarang juga atau kamu akan merasakan akibatnya!" geram Axelle. Ia mulai menyerang, dengan menyesap ceruk leher yang terekspos indah.
"Lepas!! Aku bukan wanita seperti itu. Anda salah orang...!!" Louisa menyorong dada Axelle, agar pria itu menjauh dari tubuhnya.
Wajah Axelle berubah merah padam. Ia teringat akan penolakan sang istri pada dirinya dan kini perempuan lain pun melakukan hal yang serupa. "Tidak ada seorang pun yang bisa menolak seorang Axelle Flynn! Sekarang, ikut aku!!"
"Tidak mau!!" Louisa memutar badan ingin secepatnya menghilang dari hadapan pria yang membuat bulu kuduknya merinding. Rasa gugup berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat. Ia bisa melihat tatapan buas seorang pria yang sudah gelap mata.
"Kamu tidak boleh pergi sebelum memuaskanku!!" teriak Axelle. Ia membetot tangan Louisa, hingga tubuh gadis itu berputar seratus delapan puluh derajat. Tanpa ampun, ia menyeret kasar si gadis malang ke arah sebuah kamar yang sudah disiapkan untuk malam panjang.
Louisa meronta-ronta dan mengerahkan seluruh tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman si pria asing. Akan tetapi, tenaganya kalah kuat dibandingkan dengan tenaga lelaki yang akal sehatnya tertutupi awan kelam.
__ADS_1
"Lepaskan atau aku teriak!!" ancam Louisa, menakut-nakuti.
Lagi-lagi Axelle terbahak. "Sekuat apa pun kau teriak, tidak akan ada yang bisa mendengarnya. Karena villa ini dibuat kedap suara. Jadi, lebih baik kau hemat suara indahmu itu, Nona. Di dalam kamar sana, kau akan lebih sering berteriak...."
Louisa sontak menelan saliva. Ia bergidig ngeri sebab membayangkan hal buruk akan terjadi pada dirinya sebentar lagi. "Tidak-tidak, kamu tidak bisa melakukannya padaku!! Biarkan aku pergi, kumohon ...."
Pria yang sudah tidak bisa berpikir jernih, terus saja menyeret gadis bayarannya menuju kamar eksekusi. Ia membantingkan tubuh ringkih gadis tersebut ke atas ranjang dan lekas-lekas mengunci pintu agar bisa bermain dengan leluasa. Ia sudah tidak bisa menunggu lagi sebab semakin lama semakin tersiksa oleh gairah tak terbendung.
Seringai kejam tergurat nyata di paras tampannya. Kengerian terlihat di beberapa urat nadi. Ia berjalan selangkah demi selangkah seraya melepas satu per satu kancing kemeja yang melekat. Ia bersiap untuk mencicipi tubuh wanita yang mampu membuat lupa segalanya.
Sedangkan Louisa, ia meraung-raung ketakutan. Melempar benda apa pun yang bisa terjangkau oleh tangan lembutnya. Namun, sosok yang ia takuti tidak gentar sedikit pun. Axelle berjalan pasti disertai tatapan sayu karena hawa nafsuu telah menguasai jiwa kosongnya.
"Pergi! Aku tidak sudi kamu sentuh, bajingan!!!" hardik Louisa.
Mata Louisa terbelalak karena Axelle semakin mendekat dengan tubuhnya. Sebuah tendangan pun spontan ia luncurkan dan berhasil mengenai wajah lelaki tersebut. "Sudah kukatakan, aku bukan gadis bayaran. Aku bukan wanita murahan! Kenapa kamu tidak percaya???"
Axelle terdiam merasai bagian wajah yang terkena tendangan. "Berani sekali kau menyerangku, pelacurr! Kau harus membayarnya dengan setimpal!!"
Tubuh Louisa tiba-tiba melangsur lantaran secepat kilat Axelle menarik kedua kakinya. Dan kini, Louisa terkungkung oleh tubuh kekar si pria haus belaian. Sedetik kemudian, tali tipis yang menaut di atas pundak telah terputus. Membuat dada ranum Louisa semakin jelas di depan mata.
__ADS_1
Kini, giliran Axelle yang menelan ludah. Kerongkongannya naik turun seirama dengan tarikan napas Louisa. Dan untuk beberapa saat, bayangan akan sang istri terhempas dari dalam benak dan tergantikan olah wanita yang sama sekali tidak ia kenali.
"Tubuhmu indah sekali. Biarkan aku memilikinya, malam ini... saja." Axelle mendekatkan wajah ke atas dada Louisa. Ia ingin menyesapi keindahan yang tiada duanya itu.
Louisa memekik kencang dan menendang pangkal paha pria yang menindihnya. Pria itu pun seketika mengaduh kesakitan, memegangi bagian sensitif yang berdenyut-denyut karena ulah Louisa.
"Rasakan itu!!" cemooh Louisa.
"Kau, wanita ular! Kenapa menendang adik kecilku!!" erang Axelle, kesakitan.
"Itu belum seberapa. Harusnya selain kutendang, kupukul dengan ini!" Louisa mengepalkan telapak tangan.
Louisa memanfaatkan ketidak berdayaan Axelle untuk segera kabur dari tempat yang baginya bak gerbang ke Neraka itu. Dan ia pun berhasil keluar dari kamar. Akan tetapi, lagi-lagi Axelle bisa menjerat dirinya kembali.
"Setelah kau melukaiku, lalu mau pergi begitu saja? Tidak semudah itu, Nona!" Axelle merobek gaun bagian belakang, menjadikan Louisa nyaris telanjang. Ia kembali dibuat terkesima oleh kemolekan tubuh wanita yang ingin ia rampas kesuciannya.
Louisa mendekap dadanya, menahan gaun itu agar tidak terlepas dari tubuh. Dan ia pun mulai terisak karena Axelle menyentak punggungnya, hingga ia hilang keseimbangan dan menubruk sebuah meja.
Axelle membalikkan badan Louisa. Ia mencumbu bibir gadis itu dengan tangan yang bergerak cepat. Akan tetapi, masih kalah cepat dengan gerakan tangan Louisa sebab sebuah pisau telah berada di genggaman. Benda tajam itu pun menancap di atas punggung Axelle. Tubuh pria itu roboh karena luka dalam.
__ADS_1
"Nikmati itu, pria tidak malu!!" cibir Louisa.
...*****...