
"Please bilang ... kalau kamu cuma mengerjaiku! Kalau apa yang kamu katakan barusan, hanya sebuah candaan!!" cecar Karen setelah Louisa mengungkapkan niatnya untuk berhenti bekerja dan pindah ke luar kota. Memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari bayang-bayang masa lalu juga laki-laki yang meninggalkan trauma.
Louisa menggelengkan kepala. "Aku serius, Karen."
"Ayolah... berhenti mengusiliku. Aku tahu pasti isi otakmu, Louis!" Karen mendelik dan menyilangkan tangan di depan dada.
Louisa menyorongkan sebuah map yang berisikan berkas surat pengunduran diri. Ia juga memperlihatkan selembar tiket pesawat terbang dengan tujuan kota Bunbury. "Lihatlah...."
Karen menatap sendu ke arah Louisa lanjut menatap nanar ke arah map berwarna abu muda. Tangannya gemetaran dengan bibir digigit tipis. Ia membuka map tersebut, matanya terbelalak tak percaya. "Ta-tapi kenapa, Louis? Apa ini ada hubungannya dengan si buaya darat??"
"Iya." Louisa mengangguk lemah.
Karen menarik tangan Louisa dan menggenggam hangat. "Kamu punya aku. Kamu juga punya Samuel. Kamu memiliki sahabat yang selalu bersedia mendukungmu. Jadi, please... urungkan niatmu, ya?!"
Louisa menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan. "Keputusanku sudah bulat, Karen. Aku akan pergi dari sini. Maaf...."
"Come on, Louis. Kita bisa menghadapinya bersama. Kalau kamu mau, detik ini juga aku akan menyeret si pengecut itu dan membuatnya berlutut di hadapanmu!" seru Karen berusaha meyakinkan Louisa agar berubah pikiran.
"Tidak semudah itu, Karen. Aku harus menyembuhkan luka. Aku juga butuh ketenangan. Aku ingin menjaga mentalku agar tetap sehat. Tinggal di sini, hanya menjadikanku bak seorang tawanan. Aku tertekan, Karen. Sangat tertekan," ungkap Louisa. Suaranya terdengar parau, seperti ingin menangis.
Louisa merasa akhir-akhir ini gerak-geriknya semakin terbatas. Ia selalu diliputi kekhawatiran seakan-akan Axelle selalu memantaunya ke mana pun ia pergi.
"Tapi, Louis..." sergah Karen, merajuk.
Bagaikan petir di siang bolong. Tidak mudah untuk Karen menerima keputusan sahabat terbaiknya itu. Bagaimana tidak, bertahun-tahun mereka selalu bersama. Hubungan keduanya sudah seperti seorang kakak dan adik. Maka di saat salah satunya pergi, sama saja dengan membawa separuh jiwa.
"Maaf..." Mata Louisa berkaca-kaca karena dilanda rasa bersalah.
Wajah Karen memerah. Ia menarik tubuh Louisa, membawanya ke dalam pelukan. Dan tangis pun pecah. Raungan kesedihan terdengar lara dari bibir yang basah karena air mata.
__ADS_1
"Kamu yakin akan pergi dari kota ini, Louis?" lirih Karen, mendekap erat. "Memangnya kamu tega, meninggalkanku sendirian?" Karen sesenggukan.
"Maaf..." pinta Louisa kedua kalinya. Hanya kata itu yang dapat terucap.
Karen menggeleng. "No! Aku tidak mau memaafkanmu!!"
"Kumohon ..." rayu Louisa melepaskan pelukan dan menatap sayu. Air matanya turut berlinang-linang. "Jangan membuatku semakin berat hati, Karen..." rengek Louisa, tersedu-sedu.
Melihat wajah memelas Louisa, akhirnya hati Karen pun luluh. "Baiklah... aku maafkan. Jadi, kapan kamu berangkat?"
"Secepatnya," balas Louisa.
"Secepatnya?" Karen menyeka matanya yang sembab. "Sebelum pergi, ikut aku dulu ke Central Park ya?" pinta Karen yang ingin mengabadikan momen terakhir bersama sahabat karib.
Louisa lagi-lagi menggelengkan kepala. "Maaf Karen. Jadwal keberangkatanku, besok siang. Aku sudah tak memiliki banyak waktu."
Nampak sekali sorot kekecewaan di wajah Karen. Ia berpikir, setidaknya sebelum Louisa pergi bisa memberikan kenangan manis yang tak akan terlupakan. Namun sayang, keinginannya tidak tegak lurus dengan takdir Tuhan.
"Terima kasih... kamu benar-benar sahabat terbaikku." Louisa mengusap air mata yang menitik di atas pipi Karen.
"Walau terpisah jarak, kita akan tetap menjadi sahabat, 'kan?" harap Karen.
Louisa mengangguk. "Tentu saja, Karen!"
"Janji?" tanya Karen mengacungkan telapak tangan.
"Janji..." Louisa mengacungkan telapak tangan dan tersenyum senang.
...***...
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" Axelle melempar berkas yang berisikan surat pengunduran diri ke atas meja, hingga kertas-kertas putih itu berserakan.
"Ada apa Axelle?" sentak Roberto yang melihat putranya marah-marah tidak jelas. "Kenapa berkas ini acak-acakan?" Roberto menatap tajam.
Axelle bukannya menjawab pertanyaan sang ayah, ia malah melengos dan pergi begitu saja dari ruang direktur utama.
Roberto hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap random putranya. Ia tidak ingin ambil pusing sebab sudah paham betul bagaimana watak pemuda itu. "Axelle, Axelle... kamu memang mewarisi sifat Daddy. Keras dan tak tahu aturan!"
Pria dengan tatto kupu-kupu berukuran kecil di atas punggung, berjalan tergesa-gesa menuju ruang divisi lima. Ia ingin memastikan, apa benar gadis incarannya sudah menarik diri dari perusahaan sang ayah.
"Di mana gadis itu? Di mana?" tanya Axelle, petantang-petenteng.
Karen sontak berdiri lantaran terkejut akan kedatangan sang atasan ke ruangannya. "Gadis mana yang Anda maksud, Tuan Axelle?"
"Gadis itu. Gadis yang bernama Louisa. Mana dia?" Axelle berkacak pinggang dengan tangan yang satu mengusap kasar wajahnya. Ia mondar-mandir di hadapan Karen seperti orang bingung.
"Oh... mungkin maksud Anda, Louisa." Karen manggut-manggut. Kendati di dalam hati sebenarnya bertanya-tanya. "Baru saja dia menandatangi surat pengunduran diri. Mungkin sekarang baru keluar dari lobby kantor," sambung Karen santai.
Axelle langsung beringsut secepat kilat, berharap masih ada kesempatan untuknya meminta maaf atas kejadian yang tidak diinginkan malam itu. Ia berlari sekuat tenaga. Melewati para pegawai. Menuruni tangga. Dan sampailah ia, di depan lobby kantor.
Matanya mencari tubuh tinggi semampai milik Louisa. Dan manik mata mengunci, seorang gadis yang terlihat berdiri seorang diri seperti tengah menantikan seseorang.
"I-itu dia!!" Axelle segera menghampiri Louisa. Akan tetapi, seseorang dengan mobil hitam mengkilap lebih dahulu membawa serta gadis itu bersamanya. "Ah... shiitttt!!"
Axelle berlari, berusaha mengejar mobil yang dinaiki Louisa. Tidak peduli orang-orang memperhatikannya sedemikian rupa. Ia terus berlari, sungguhpun sang mentari mulai bersinar terik.
"Tunggu...!!" pekik Axelle melambai-lambaikan tangannya. Namun sayang, mobil itu terus melaju. Bertambah jauh, semakin tak bisa tergapai.
Axelle menghentikan langkah, mendengus kesal dan mengerang kencang. Ia kecewa pada dirinya sendiri sebab tidak bergerak cepat untuk menemui Louisa. Dan kini, peluang untuk bertemu gadis itu telah hilang. Ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengutarakan penyesalannya, walaupun dengan hanya kata maaf.
__ADS_1
...*****...