
"Ayolah, Louisa. Sampai kapan kamu begini terus? Sudah seminggu cuti bekerja, mengurung diri di kamar, menutup diri dari dunia luar. Mana Louisa yang dulu? Mana Louisa yang kukenal? Mana Louisa yang tak kenal putus asa?" gerundel Karen yang mulai lelah melihat sahabatnya kehilangan semangat hidup. Segala cara telah ia lakukan untuk menghibur Louisa. Namun, gadis itu malah asyik dengan dunianya sendiri.
Karen menarik paksa lengan Louisa dan menghadapkannya ke sebuah cermin. "Coba lihat dirimu! Mata panda, pipi tirus, badan kurus, rambut tidak terurus. Apa yang kamu dapat dari menyakiti dirimu sendiri, Louis?"
Louisa terpaku menatap bayangan diri. Ia seolah melihat sosok lain. Sosok penakut, sosok pecundang, sosok wanita yang menyerah dengan keadaan. Dan itu jelas bukanlah dirinya.
"Aku kehilanganmu, Louis. Kamu seperti orang yang berbeda," lirih Karen, menghela napas panjang.
Louisa mematung, tatapannya kosong dengan pikiran yang melanglang buana. Sebenarnya, ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan diri. Namun, malah terhanyut dalam keterpurukan.
"Please!! Bicaralah, Louis!! Aku ini sahabatmu, bukan?" tanya Karen dengan suara yang tertahan.
Louisa menoleh ke arah sahabatnya. Mulut terasa kelu untuk sekadar berucap. Hanya kedua mata yang mampu mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Ayo katakan padaku! Apa yang terjadi malam itu? Apa yang sudah Daniel lakukan sampai jiwamu terguncang seperti ini?" Karen bertanya seraya mencengkeram kuat lengan sahabatnya.
Louisa hanya geleng-geleng kepala seraya menangis pilu. Isakan demi isakan saling bersahutan di bibirnya yang kering nan pasi. Ia sangat ingin berbagi kepahitan diri pada sahabatnya itu. Akan tetapi, ntah mengapa lidahnya begitu sulit untuk mengutarakan isi di hati.
"Apa Daniel menyakitimu? Apa dia memaksamu melakukan hubungan terlarang? Atau... dia telah menodaimu? Ayo jawab, Louis! Jawab...!!" teriak Karen, menggoncang-goncangkan tubuh Louisa. Membuat sahabatnya itu bersikap histeris.
__ADS_1
Louisa menutupi kedua telinga karena tak ingin lagi mendengar segala pertanyaan yang dilontarkan untuknya. Ia menjerit pilu, meski suaranya terdengar begitu parau. "Berhenti...! Kumohon ... berhenti...!!"
Karen menelan saliva dan tanpa sadar turut menitikkan air mata. Kepedihan yang tengah dirasakan Louisa, seakan menjadi kepedihannya juga. Karena itu, ia tidak sanggup melihat Louisa tak berdaya seperti sekarang ini.
"Maafkan aku, Louis. Aku tidak seharusnya menekanmu." Karen menarik tubuh sahabatnya ke dalam dekapan. Ia mengusap lembut punggung gadis itu, hingga suara isakan mereda. "Tidak usah ditahan, menangislah sampai kamu puas," sambung Karen.
Louisa turut mendekap erat dan ia pun menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung di pelukan sang sahabat. Segala penderitaan yang ia tanggung sendiri, tumpah bersama deraian air mata.
"Aku bingung harus memulainya dari mana, Karen," lirih Louisa. "Karena, aku pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Semuanya di luar nalar buatku..." ucap Louisa, menahan tangis.
"Apa Daniel—"
"Sudah kuduga sejak awal, kalau si bedebah itu menyiapkan rencana busuk buat menjeratmu, Louis!!" geram Karen. "Awas saja, aku akan memotong habis miliknya tanpa ampun!!" Karen menggemeretakkan gigi dan mengepal kedua pergelangan tangan.
"Bukan Daniel yang ingin menodaiku, melainkan pria asing," ungkap Louisa, perlahan.
"Pria asing?" ulang Karen. "Tapi, bagaimana bisa?" Karen menatap penuh tanda tanya.
Louisa menundukkan kepala, menahan saliva, lantas menarik napas dalam-dalam. "Iya, pria asing. Sepertinya Daniel memang sengaja menjebakku dengan laki-laki itu."
__ADS_1
"Menjebak? Menjebak bagaimana?" Karen semakin dibuat penasaran oleh perkataan Louisa yang setengah-setengah.
"Aku pun tak tahu pasti, Karen. Cuma pria asing itu bilang, kalau aku ini miliknya. Kalau aku harus merelakan keperawananku untuknya karena dia sudah membayar sangat mahal pada seseorang," ungkap Louisa bernada amarah. Ia mengingat kembali tragedi memilukan yang hampir saja merenggut mahkota wanita yang dijaga dengan susah payah.
"Jadi, kemungkinan terbesarnya adalah... Daniel sudah menjualmu pada pria asing itu?" tanya Karen berusaha mencerna dari cerita yang diungkapkan sahabatnya.
Louisa mengangguk tipis. "Pikiranmu sama dengan pikiranku."
"Brengsek kamu Daniel!! Dasar laki-laki bajingan!!" murka Karen setelah mengetahui fakta tentang malam itu. Darahnya mendidih, ia tidak akan segan-segan untuk menghajar pria itu, meski pada akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib. "Aku berjanji akan membawa si bedebah itu ke hadapanmu, Louis. Pegang janjiku ini!!!"
Louisa tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya bisa menangis seraya memeluk sahabatnya. Akan tetapi, saat ini beban di pundak sedikit berkurang. Hati pun terasa lega lantaran tak lagi memendam kepedihan seorang diri.
...*****...
"Ah... kenapa wanita itu sudah seminggu tidak masuk juga?" keluh Axelle memata-matai Louisa. Sejak malam kelam, ia sering mendatangi Flynn Company untuk mencari gadis bernama Louisa. Namun, lagi dan lagi ia harus menelan kekecewaan lantaran wanita yang dinanti, tak juga menampakkan batang hidungnya. "Bagaimana aku bisa hidup tenang, jika bayang-bayang rasa bersalah terus saja menggangguku?!"
Sebetulnya, Axelle sudah memeriksa berkas surat lamaran kerja milik Louisa. Namun sayang, alamat yang tertera di surat tersebut adalah alamat rumah peninggalan ibunya yang sudah beralih kepemilikan karena dijual untuk biaya pengobatan.
"Apa jangan-jangan dia tahu, kalau si pria bajingan yang melecehkannya malam itu adalah aku? Makanya dia menghilang dan terkesan menghindar?" Axelle bertanya-tanya pada diri sendiri. "Oh, my Gosh!! Lama-lama, aku bisa gila hanya karena masalah ini...!!"
__ADS_1
...*****...