
"Masam amat mukamu, kenapa?" tegur seseorang yang melihat Louisa masuk ruangan dengan wajah yang ditekuk. Dan bukan hanya itu, bibir gadis itu pun mengerucut tajam. Menandakan kalau suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Louisa tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan untuknya barusan. Ia malas membuka suara lantaran pertemuan dengan pria asing tadi membuat mood-nya hancur berantakan. Ia melewati seseorang tersebut begitu saja, tanpa menoleh atau pun sekadar melempar senyuman.
"Terus, kenapa kamu datang ke kantor telanjang kaki begitu? Mana sepatumu, patah?" tanya seseorang itu lagi, yang mana ia adalah rekan kerja sekaligus sahabat Louisa. Ia menilik penampilan si dara muda dari atas kepala hingga ujung kaki. "Rambut, make up, kemeja, rok, semua kusut dan berantakan. Astaga... kamu habis dikejar anjing, apa?" tunjuknya, heran.
"Tolong diamlah, Karen...! Aku lagi kesal, jangan buat aku semakin kesal!!" Louisa melempar tas kesembarang arah lalu mendaratkan tubuhnya ke atas kursi. Kepalanya mendongak di tengah-tengah sandaran seraya membuang napas kasar.
Gadis yang bernama Karen hanya bisa melongo karena sikap ketus Louisa terhadapnya. Sebagai seseorang yang mengenal Louisa cukup lama, Karen sudah memahami bagaimana perangai gadis itu. Dan pilihan yang tepat untuknya saat ini adalah berhenti bertanya mengenai apa pun.
Ruangan pun berubah hening lantaran Karen maupun Louisa sama-sama terbungkam. Tidak ada sedikit pun suara yang terdengar, kecuali detak jarum jam dinding yang berputar seirama.
Louisa melirik ke arah Karen yang terlihat melamun. Ia pun merasa bersalah karena sudah membentak sahabatnya itu. Akhirnya Louisa bersuara dan berbicara dengan nada rendah. "Maafkan sikapku. Pikiranku sedang kacau, ditambah tadi aku berpapasan dengan orang gila di jalan. Dan dia hampir saja menerkamku!"
"Orang gila?" ulang Karen, memastikan.
"Iya, orang gila. Untung saja aku berhasil kabur!" jelas Louisa. "Andaikan orang gila itu berhasil menangkapku, habislah aku!" jawabnya, mengerdikkan bahu mengingat kejadian di jalan tadi.
"Lalu sepatumu?" tanya Karen masih penasaran.
"Aku pakai buat melempar orang gila itu!" Louisa menyeringai.
"What??" pekik Karen, terkejut. "Astaga Louisa... bisa-bisanya kamu mencari gara-gara sama orang gila. Agak lain memang otakmu itu!" Karen geleng-geleng kepala.
Louisa hanya cengengesan mendengar celotehan sahabatnya. Padahal orang gila yang ia maksud, tidak benar-benar gila. Justru orang itu sangat waras, bahkan memiliki ketampanan di atas rata-rata. Belum lagi postur tubuhnya, tinggi menjulang. Sempurna.
__ADS_1
"Kamu memikirkan apa?" tanya Karen, tiba-tiba.
"Aku?" tunjuk Louisa ke arah hidungnya. "Aku tidak memikirkan apa-apa." Louisa masih enggan menceritakan kejadian yang dialaminya.
Di saat Louisa dan Karen tengah bercengkerama, suasana kantor yang semula damai tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tak terduga, yakni pewaris tunggal dari Flynn Company.
Kedua dara muda itu pun serempak menyudahi obrolannya dan langsung berdiri untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Karen, apa hari ini kantor kita kedatangan tamu penting?" tanya Louisa yang memerhatikan sumber keramaian.
Karen yang baru saja teringat akan agenda pagi ini, sontak menepuk jidat. "Oh My Gosh, Louisa... aku lupa memberitahumu, kalau hari ini kita ada rapat dengan anak pemilik perusahaan!"
"What!!" Kali ini giliran Louisa yang terkejut. "Kenapa kamu tidak mengabariku, Karen? Aku tidak mungkin mengikuti rapat dengan penampilan seperti ini!" keluh Louisa, cemas.
"Maaf Louis, aku benar-benar lupa. Peace..." Karen mengangkat jari tengah dan telunjuk, bersamaan.
"I-itu, 'kan, pria gila tadi!!" bisik Louisa terbata-bata. Ia buru-buru mencari apa pun untuk menutupi wajah agar pria tersebut tidak mengenalinya. Beruntung, di atas meja tergeletak sebuah masker. Tanpa berpikir panjang, ia pun memakai benda tersebut.
"Selamat datang, Tuan Axelle," sapa Karen, memberi hormat. Begitu juga dengan Louisa, ia turut membungkukkan badan ke arah anak dari atasannya itu.
"Hm..." jawab Axelle, malas.
"Mentang-mentang anak bos, sombong!!" gerundel Louisa, yang ternyata masih terdengar oleh Axelle.
"Pardon me. Apa yang kamu katakan barusan, Nona?" tanya Axelle penuh penekanan.
__ADS_1
"Ti-tidak Tuan. Saya tidak bicara apa-apa," kelit Louisa.
Axelle terdiam sesaat, mengamati gadis di hadapannya. "Kenapa pakai masker?"
"Sa-saya lagi flu berat, Tuan," jawab Louisa sekenanya. Untuk meyakinkan Axelle, gadis itu mulai bermain peran. Ia berpura-pura bersin lalu menggosok-gosok hidungnya seolah terasa gatal.
Axelle menatap jijik karena sandiwara Louisa berhasil membuatnya percaya. "Lebih baik kamu pulang saja dan jangan dulu masuk kantor sebelum sakit flumu sembuh!"
"Pu-pulang? Ta-tapi...?" sergah Louisa, berlagak tidak terima padahal di dalam hati kegirangan.
"Tidak ada tapi-tapi! Saya tidak mau virus flu itu menyebar ke seisi kantor. Paham?" balas Axelle, geram.
"Pa-paham, Tuan," sahut Louisa singkat.
Setelah mendengar jawaban gadis di hadapannya, pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam melanjutkan langkah menuju ruang rapat. Ia sama sekali tidak menaruh curiga kepada Louisa lantaran saat ini pikirannya tengah terpaku pada urusan yang lebih penting.
"Sakit flu? Sejak kapan kamu sakit flu? Beberapa detik yang lalu, kondisimu sehat-sehat saja!!" Kening Karen mengerut, ia menatap tajam ke arah Louisa meminta penjelasan.
Louisa buru-buru membekap mulut Karen menggunakan tangannya karena khawatir sandiwaranya terbongkar. "Jangan berisik... apa kamu mau aku dipecat karena ketahuan berbohong?"
Karen menggelengkan kepala sebagai respon dari pertanyaan Louisa. Gadis yang tengah dilanda ketakutan, melepaskan tangannya dan meminta Karen untuk menutup mulut.
"Nanti aku ceritakan. Sekarang aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Sebelum orang itu menyadari siapa aku sebenarnya." Louisa menautkan tas kerjanya ke atas bahu kemudian berjalan mengendap-endap meninggalkan ruangan. Namun, kedua matanya tidak lepas dari memerhatikan punggung si pria asing yang ternyata adalah anak dari pemilik tempatnya bekerja.
Karen membiarkan sahabatnya itu pergi walaupun pikirannya dikuasai rasa penasaran. Namun, ia bisa memahami bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuknya meminta jawaban. "Apa yang Louisa rahasiakan dariku? Dan sikapnya tadi, sangat mencurigakan. Apa dia mengenal tuan Axelle? Tapi, mana mungkin?"
__ADS_1
...*****...