
"Bunga? Siapa yang meletakkan bunga di sini?" Kening Louisa mengerut. Ia merasa heran karena tidak biasanya ada setangkai mawar, tergeletak di atas meja kerja.
Ia menggulirkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari wajah seseorang. Akan tetapi, tidak mendapati siapa pun di sana. Sebab keadaan kantor pagi ini masih sangatlah sepi. Hanya ada dirinya dan beberapa petugas kebersihan. Itu pun berada di ruangan yang lain.
Louisa mengambil mawar tersebut lantaran penasaran dengan sebuah kartu ucapan yang terikat oleh selembar pita. Segera, ia membuka kartu itu berharap mengetahui siapa yang telah mengiriminya bunga. Namun sayang, hanya ada tulisan have a great day di atasnya.
"Tidak ada nama pengirimnya." Louisa menerka-nerka di dalam hati, siapa yang sudah memberinya bunga mawar berwarna merah muda. "Apa jangan-jangan dari tuan Frans? Ah... tapi rasa-rasanya, tidak mungkin..." batin Louisa, membolak-balikkan kartu yang ia pegang seraya berpikir keras.
Sang gadis bernetra biru menyesap aroma khas bunga mawar. Di mana aroma tersebut mampu memberikan energi positif untuknya. Sejumput senyuman penuh semangat, terbit dari setiap sudut bibir berwarna cherry. Merekah indah layaknya mawar yang tengah ia genggam.
Sementara, seseorang yang memperhatikan Louisa dari balik layar handphone, turut tersimpul melihat gadis itu tersenyum manja. Senyuman yang baginya bagai sebuah medan magnet. Menarik suasana hati, membuatnya terasa berbunga-bunga.
"Syukurlah kau menyukainya, gadis lugu. Kuharap, perlahan kau bisa melupakan pengalaman pahit malam kelam itu. Dan ketika aku menemuimu, tidak ada lagi rasa sakit di antara kita berdua," gumam seorang pria, yang tak lain adalah Axelle Flynn.
__ADS_1
Ia terus mengawasi gerak-gerik Louisa. Kini, wanita muda itu telah menjadi candu untuknya. Sehari saja, ia tidak melihat wajah sang gadis. Seperti ada kekosongan menyapa relung hati. Ntah memang berawal dari rasa kagum pada Louisa atau karena hatinya membutuhkan pelarian dari kemelut rumah tangga yang masih belum usai, hingga detik ini.
"Tatap terus... ayo tatap...!" sindir Frans, tidak sengaja memergoki Axelle tengah memandangi seorang dara sedemikian rupa. "Nona Louisa, cantik ya? Sampai-sampai, Tuan tidak berkedip begitu melihatnya." Frans berucap dengan sangat enteng.
Sejak lima belas menit yang lalu, Frans berdiri di samping sang atasan. Akan tetapi, pria itu tidak menyadari kehadirannya lantaran tengah tersihir oleh pesona si gadis pemilik bola mata indah.
Axelle mendengus, "Berhenti memanggilku dengan sebutan tuan. Lama-lama aku geli mendengarnya!"
"Cie... merajuk!" goda Frans, melihat kekesalan di paras sahabatnya. "Tuan Axelle... Tuan Axelle," goda Frans lagi.
"Eits... tidak kena," ledek Frans sebab lemparan Axelle barusan melesat dan jatuh begitu saja ke atas lantai.
Kekesalan Axelle semakin menjadi. Ia melempari Frans dengan benda apa pun yang berada di depannya. "Teman sialan! Bisa-bisanya aku punya sahabat gila sepertimu!!!"
__ADS_1
"Kau yang gila, bukan aku!" sergah Frans, setengah berteriak. "Ini rasakan!!" Frans membalas melempari Axelle dengan barang-barang yang dilontarkan padanya.
"Kau, berani padaku, Frans?" Axelle beranjak dari atas kursi seraya menyingsingkan kedua lengan kemeja.
"Berani!!" jawab Frans, turut menggulung lengan kemejanya.
Kedua pria dewasa itu pun berkelahi layaknya anak kecil. Mereka saling meninju dan menarik pakaian masing-masing. Ruangan yang semula rapi, telah berubah menjadi sebuah kapal pecah. Barang-barang berserakan, kertas-kertas berhamburan. Persis, seperti perkelahian seekor kucing dan anjing.
"Apa-apaan ini Axelle? Frans?" teriak Roberto yang baru saja memasuki ruang kerja putranya. Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah memalukan antara sang anak dengan sahabatnya. "Kalian ini sudah seperti anak kecil saja. Apa kalian tidak malu, seluruh karyawan dari tadi berkerumun karena suara kegaduhan yang kalian buat??" sembur Roberto, murka.
"Dan kamu Axelle, kamu di sini sebagai pemimpin. Bersikaplah selayaknya pemimpin. Kalau kamu masih seperti ini saja, jangan berharap orang-orang akan menaruh segan padamu!!" sambung Roberto, masih ingin menumpahkan kekesalan.
Axelle dan Frans, seketika terdiam membisu. Mereka berdua sama-sama menundukkan kepala, tanpa mampu bersuara. Sementara, beberapa orang karyawan asyik menggunjingkan sang atasan yang selalu terlihat berwibawa di mata mereka. Kini, nampak seperti seekor tikus kecil tak berkutik.
__ADS_1
...*****...