
"Apa yang kau lakukan, Frans...??" teriak seseorang di seberang telepon.
Frans menggosok-gosok cuping telinganya lantaran suara teriakan tersebut memekikkan indera pendengaran. "Kenapa Anda berteriak, tuan Axelle?"
"Memangnya aku tidak tahu apa yang kau lakukan barusan, hah...?" geram Axelle. "Apa kau lupa kalau di dalam ruanganku terpasang CCTV?" sambungnya, kesal.
Terdengar sekali nada kemarahan dari suara pria beristri tersebut. Sebab sejak tadi, ia memperhatikan gerak-gerik bawahannya itu dari layar handphone.
Di mana CCTV yang terdapat di ruang kerjanya, tersambung langsung dengan benda tipis yang tengah digenggam di samping telinga.
Frans hanya bisa cengengesan sembari menggaruk-garuk kepala bagian belakang. Ia tidak ingat bila saat ini dalam pengawasan Axelle.
"Saya hanya bercanda. Biar tidak tegang gitu..." kilah Frans.
"Awas saja kalau kau berani menggoda gadis itu lagi!" ketus Axelle yang lebih terdengar sebuah ancaman.
"Tapi, nona Louisa memang cantik sekali. Bahkan lebih cantik dari foto. Tuan Axelle tidak ada niatan buat menjadikan dia istri kedua?" seloroh Frans dengan wajah polosnya.
Axelle membuang napas kasar. "Apa kau ingin aku pecat, Fransisco?"
Frans terkekeh, "Kalau tuan Axelle memecat saya. Tuan akan kehilangan anak buah yang sangat tampan seantero jagat raya."
Axelle berdecak, "Bicara denganmu hanya membuat darahku mendidih saja, Frans. Ingat! Bersikaplah yang sopan pada gadis itu. Aku ingin dia betah bekerja di perusahaanku. Berapa pun gaji yang dia minta, berikan! Aku ingin membayar kesalahan terbesarku padanya."
"Apa tidak sebaiknya Tuan Axelle menemui dia sekarang, lalu meminta maaf?" tanya Frans yang mengetahui dengan pasti maksud kesalahan terbesar yang dikatakan sang atasan.
Axelle menghela napas. "Belum saatnya Frans, tunggu beberapa waktu. Kalau aku menampakkan batang hidung sekarang-sekarang, yang ada gadis itu akan melarikan diri lagi!"
__ADS_1
Frans mengangguk-angguk. "Baiklah, saya paham. Setelah ini, apa lagi yang harus saya lakukan?"
"Kenalkan gadis itu pada seluruh staff perusahaan. Ajak dia keliling kantor, setelah itu serahkan pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga," jawab Axelle tegas.
"Siap laksanakan!!" sahut Frans.
Axelle langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Frans. Ia menutup sambungan telepon kemudian melabuhkan punggungnya ke atas sandaran kursi. Mendengar nama Louisa, membuka kenangan pahit malam itu. Sekuat apa pun ia melupakan dan berdamai dengan diri sendiri. Namun, tetap saja rasa bersalah terus-menerus menghantui.
...***...
Kediaman Axelle Flynn
"Ayolah Daniel... angkat teleponnya!" gumam Chloe. Ia merasa resah lantaran dua minggu terakhir ini, tidak mendapat kabar dari sang kekasih. "Ya Tuhan... kenapa kamu menghilang Daniel? Apa yang sedang kamu perbuat di belakangku?" sambungnya.
Wanita bersuami tersebut mondar-mandir di dalam kamar seraya berbicara pada diri sendiri. Ia sangat takut kehilangan sang pujaan hati lantaran rasa cinta dan harapannya terlalu besar pada lelaki itu.
Chloe mendengus dan mengusap-usap dadanya karena terkesiap. "Apa kau ini sejenis makhluk halus, Axelle? Apa kau tidak bisa sehari saja tidak membuatku kesal?"
Axelle tersenyum manis. Ia merapat, lalu menarik ujung rambut sang istri. Kedua mata terpejam, ia menyesap aroma wangi dari mahkota wanita tersebut. "Kalau kamu marah seperti ini, semakin terlihat cantik dan menggoda, Sayang...."
"Cuih...!!" Chloe pura-pura meludah. "Dasar laki-laki tidak punya harga diri! Masih saja mengharap cintaku yang jelas-jelas hanya buat Daniel semata!!" kata Chloe.
"Daniel?" Axelle mengulang nama laki-laki yang disebutkan sang istri.
"Iya, Daniel!! Pria terhebat di atas ranjang dan yang pasti, dia tidak mandul sepertimu!!" sembur Chloe berapi-api.
Namun, Axelle masih bisa bersikap tenang. Seolah, ia tidak mempedulikan apa pun yang dikatakan sang istri mengenai dirinya. Ia pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, lalu memperlihatkan sebuah video yang menampilkan wajah seorang pria. "Maksudmu, laki-laki pengecut ini?"
__ADS_1
Bola mata Chloe terbelalak. Meski kondisi wajah lelaki di dalam video penuh dengan luka lebam, ia masih bisa mengenalnya dengan baik. "Da-Daniel?"
"Ternyata, kamu masih bisa mengenali muka si bajingan itu." Axelle tersenyum miris.
"Kau apakan kekasihku, Axelle?" pekik Chloe, menyalang ke arah sang suami.
"Aku hanya sedikit bermain-main dengan laki-laki tak bermoral itu," jawab Axelle acuh tak acuh.
"Kamu yang tidak bermoral, bukan Daniel!!" sentak Chloe mengarahkan jari telunjuk ke arah wajah suaminya.
Axelle melonggarkan lilitan dasi dan melepaskan kain tersebut dari lehernya. "Benarkah? Kamu belum tahu saja apa yang sudah si bajingan itu lakukan padaku!!"
"Apa? Memangnya apa yang Daniel lakukan? Dia hanya ingin mendapatkanku kembali. Dia cuma ingin merebutku dari tanganmu. Benar, 'kan?" Chloe mencengkeram kuat kedua lengan Axelle. Berbicara dengan suara meninggi, tanpa mau tahu akan alasan Axelle menyekap dan menghajar kekasihnya habis-habisan.
"Nanti juga kau akan tahu, kenapa aku melakukan ini," lirih Axelle.
"Halah... kamu cuma tidak mau kalau aku dimiliki laki-laki lain, 'kan? Kamu memang sangat egois, Axelle!!" cerocos Chloe uring-uringan. "Sekarang, katakan padaku. Di mana Daniel? Di mana kamu mengurung kekasihku?" Chloe mengguncang-guncangkan tubuh sang suami.
"Diam...!!" murka Axelle, menghempaskan tangan Chloe dari kedua lengannya. "Aku tidak akan memberitahumu di mana aku menyembunyikan laki-laki itu. Karena aku masih belum puas membalaskan dendamku!!" sambung Axelle dengan suara tertahan.
Chloe tak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa memperlihatkan linangan air mata. Dan untuk beberapa saat, ia terdiam dengan sepasang mata menatap penuh kebencian ke arah Axelle.
Ia pun mengerang lantang, lalu menubruk kasar bahu suaminya. Meraih tas tangan yang tergeletak di atas ranjang, kemudian pergi begitu saja dari dalam kamar. Meninggalkan Axelle seorang diri.
"Kau mau ke mana, Chloe?" pekik Axelle.
"Aku akan mencari Daniel dan melepaskan kekasihku dari iblis sepertimu!!" Chloe membanting pintu, menghenyakkan semua orang yang tidak sengaja mendengar percekcokan keduanya.
__ADS_1
...*****...