
"Apa yang kau inginkan dariku, keparat? Sudah satu bulan, kau menyanderaku di sini. Kalau kau, mau aku mati. Maka bunuhlah aku sekarang juga!" Daniel berteriak, ketika Axelle baru saja tiba untuk mengecek keadaannya seperti biasa.
Axelle tersenyum sinis. "Tidak semudah itu. Aku ingin, kau menderita. Dan mengakhiri hidupmu sendiri!"
Daniel memekik, "Axelle brengsekkk!!! Axelle bedebah!! Aku akan membalas setiap perlakuanmu padaku. Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Dengar itu, laki-laki mandul!!!"
"Diam...!!!" teriak Axelle menggelegar bak suara petir di siang bolong. "Sebelum kau sempat membalaskan dendam. Ajal akan menjemputmu lebih dulu...!" teriaknya lagi.
Daniel terkekeh, "Jangan senang dulu! Tuhan akan selalu bersama orang-orang tertindas sepertiku!"
Axelle menyeringai, lalu menjambak rambut Daniel hingga kepala pemuda itu turut tertarik ke bawah. "Menakjubkan! Laki-laki bejat tak tahu malu, masih mengingat Tuhan?!"
"Memangnya, kau manusia suci?" sahut Daniel, seraya menahan sakit.
"Aku bukan manusia suci, tapi setidaknya perangaiku tak seburuk kelakuanmu. Manusia sampah!!!" Axelle melepaskan cengkeraman tangannya dari rambut Daniel, lalu mendorong kepala pemuda itu. "Membusuklah kau di sini! Agar tak ada lagi Louisa-Louisa di luaran sana yang menjadi korban kebejatanmu!!" Axelle beranjak, meninggalkan Daniel yang duduk terikat di atas sebuah kursi.
Daniel tertawa tipis. "Kau tahu nama gadis itu? Coba aku tebak. Kau pasti mencari tentang dia, 'kan?"
__ADS_1
Axelle yang tengah berjalan, menghentikan langkahnya dan sedikit menengokkan kepala. "Tentu saja. Karena aku berhutang maaf pada gadis itu."
"Hanya itu?" sinis Daniel. "Kita sama-sama pria dewasa, Axelle. Isi otak kita mestilah sama," lanjut Daniel seolah-olah mengetahui apa yang tersirat di dalam pikiran Axelle.
"Kita memang sama-sama pria dewasa. Bedanya, aku masih memegang norma. Dan kau? Manusia tak bermoral!" balas Axelle. "Wujudmu memang manusia, tapi hati layaknya binatang!!!" lanjut Axelle.
"Sini kalau kau berani. Kita adu jotos!!" Daniel meronta-ronta. Ingin melepaskan diri dari tali yang melingkar di tubuhnya.
"Aku tidak sudi mengotori tanganku dengan darahmu. Biar, orang-orangku saja yang melakukannya!" Axelle meneruskan langkah kaki, menulikan indra pendengaran.
Axelle terus berjalan, lalu menghilang beserta bayangan. Sementara kemarahan, masih saja menggema di dalam ruangan kosong. Di mana hanya ada Daniel seorang diri dan dinding-dinding usang yang dingin nan lembab.
Lima menit selepas kepergian Axelle dari tempat penyekapan. Seorang wanita bertopeng hitam, menyelinap masuk tanpa mendapatkan halangan berarti. Sebab penjagaan di siang hari seperti ini tidak seketat ketika malam.
Wanita tersebut mengendap-endap. Kepalanya cingak-cinguk, memastikan keadaan aman. Bibirnya pun melengkung sempurna, saat kedua matanya menemukan apa yang tengah ia cari. "Daniel..."
Si pemuda yang sedang memejamkan mata, sontak terbelalak lantaran mendengar suara perempuan yang sangat dikenali. Mulut pun turut menganga, mendapati kekasih hatinya itu berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Chloe, kau di sini?" tanya Daniel dengan suara bergetar. Antara percaya dan tidak, sang kekasih bertaruh nyawa demi menyelamatkannya.
Chloe menganggukkan kepala. "Yash, Honey. Aku di sini. Aku datang untukmu. Aku akan membawamu keluar dari tempat menjijikkan ini!!"
"Selama ini ke mana saja? Kenapa baru hari kau datang buat menyelamatkanku?" lirih Daniel. Namun, dengan kalimat menohok.
"Jangan banyak bertanya dulu. Nanti anak buah Axelle keburu datang ke sini dan memergokiku!" sahut Chloe, berbisik-bisik.
Daniel menghela napas dan menarik kepala ke bawah. Ia baru tersadar akan kondisinya saat ini dan meredakan sejenak kemarahan pada kekasihnya, tetapi bukan berarti melupakan.
Gerak cepat, Chloe melepaskan ikatan di tubuh Daniel. Walaupun sejujurnya di dalam hati merasakan ketakutan yang luar biasa. Namun, rasa cintanya kepada sang kekasih, mengalahkan segalanya.
"Berdirilah! Aku akan memapahmu!" Chloe meletakkan lengan Daniel di pundaknya dan melingkarkan tangan ke pinggang pemuda itu. "Kita harus bisa keluar dan selamat dari tempat ini," sambungnya pada sang kekasih yang nampak meringis kesakitan.
Daniel mengiyakan dan berusaha berjalan, meski harus tertatih-tatih. Anak buah Axelle berkali-kali menghajarnya. Karena itu, ia merasakan rasa ngilu di sekujur tubuh.
...*****...
__ADS_1