Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Episode 35 Sesak


__ADS_3

"Axelle, kita harus bicara!!" Chloe mengikuti sang suami yang berjalan ke arah ruang makan. "Axelle!!!" pekik Chloe geram karena si pria dingin itu mengabaikannya.


Axelle seolah tidak menganggap keberadaan sang istri yang sibuk mengoceh. Ia menarik kursi makan, lanjut duduk dengan santai menikmati manisnya sebutir apel merah.


"Axelle... dengarkan aku!! Kita harus bicara!!" erang Chloe, tidak sabar. "Axelle Flynn...!!!" Ia membetot kasar lengan baju sang suami. Membuat buah yang tengah dinikmati lelakinya itu terlepas dari genggaman.


Sejenak, Axelle menyalang murka ke arah sang istri. Kemudian tatapannya bergulir pada buah favorit yang saat ini tergeletak di atas lantai. "Kamu tahu, 'kan, kalau aku paling tidak suka diganggu saat berada di meja makan?"


"Aku tahu, tapi aku tak peduli!" Chloe mengangkat kedua bahunya. "Salahmu sendiri, terus-terusan menghindariku," sambungnya tanpa merasa bersalah dengan apa yang ia perbuat.


Axelle mengepalkan telapak tangan. Bola matanya berkilatkan api amarah. Ia berdiri dan mengangkat jari telunjuk. Mulutnya telah bersiap mengeluarkan kata-kata pedas nan menyakitkan untuk sang istri.


Namun, suara nada dering telepon mengalihkan perhatian Axelle. Ia memilih untuk menerima panggilan masuk tersebut. Ketimbang membuang tenaga, meladeni sang istri yang tidak berhenti merajuk padanya.


"Ada apa Frans kau meneleponku malam-malam begini?" tanya Axelle, setelah tahu siapa yang menghubungi dirinya. Ia tahu betul bila Frans mengontak di jam-jam seperti sekarang, pasti ada hal penting ataupun mendesak yang akan disampaikan padanya.


"Louisa, dia terjebak di dalam lift!" jawab Frans, khawatir.


"Apa? Gadis itu terjebak di dalam lift?" Axelle tersentak kaget mendengar kabar tidak menyenangkan mengenai Louisa. "Siapkan helikopter untukku, Frans! Sekarang juga, aku akan terbang ke sana," pinta Axelle yang langsung beranjak menuju pintu ke luar.


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Edelin, melihat putranya berjalan tergesa-gesa.

__ADS_1


Axelle menarik jaket kulit yang menggelantung di stand hanger, lanjut mengenakannya. "Aku ada urusan, Mom."


Alis Edelin tersentak bersama. "Semalam ini?"


"Biasa, urusan bisnis." Axelle mengecup kedua pipi ibunya.


"Benarkah?" timpal Chloe yang muncul dari arah ruang makan. "Aku yakin, telingaku masih berfungsi dengan baik. Tadi, kamu mengatakan gadis itu terjebak di dalam lift. Benar, 'kan, pembohong?" sinis Chloe yang mendengarkan obrolan Axelle dengan seseorang di telepon.


Seperti sebelumnya, Axelle tidak mengindahkan kicauan sang istri. Laki-laki itu lebih memilih meneruskan langkahnya sebab sebuah mobil mewah sudah menunggu, sejak beberapa detik yang lalu.


"Aku pergi dulu, Mom," cakap Axelle pada sang ibu.


Edelin menganggukkan kepala dan memberikan senyuman tulus. "Hati-hati, Nak."


Chloe berlari mengejar sang suami, kemudian menggedor-gedor jendela mobil. "Tunggu Axelle, aku belum selesai bicara. Siapa gadis itu, Axelle? Siapa?"


"Jalan!" titah Axelle pada sopir pribadinya.


"Baik, Tuan muda." Sang sopir mengangguk dan mulai memutar kemudi kendaraannya.


Sementara, Chloe masih berteriak-teriak seraya menggebrak badan mobil. Ia terus berlari, kendati mobil yang dinaiki sang suami semakin menjauh dari pelataran rumah. "Axelle mau ke mana kamu? Kembali, Axelle. Kembali...!!!"

__ADS_1


Selantang apa pun suara Chloe memanggil namanya, tidak membuat Axelle tergugah dan mengurungkan niat untuk bertolak ke kota Bunbury.


"Axelle...!!" Chloe mengerang dan menendang pintu pagar.


Terdengar suara tawa seseorang yang merasa senang dengan adegan yang ditontonnya barusan. "Uh... kasihan sekali menantu Mommy. Kesal ya? Marah? Rasakan itu! Sekarang Mom mengerti, mengapa Axelle tidak langsung menceraikanmu. Karena dia ingin membuatmu menderita secara perlahan."


Chloe menelan saliva kasar dan melirik sang mertua dengan sudut matanya. "Kalian memang tidak waras. Aku sangat menyesal telah menjadi bagian dari keluarga ini!!"


"Itu karena kamu tidak selevel dengan keluarga kami. Wanita yang diangkat dari dalam kubangan. Namun, membalas semua kebaikan yang kami berikan dengan melempar kotoran!" balas Edelin, menohok.


Sekarang ini, Chloe tidak ingin berdebat dengan Edelin. Ia membawa dirinya kembali masuk ke dalam rumah. Otaknya kusut, jiwanya tak bisa lagi berpikir jernih. Ia butuh pelampiasan dari amarah yang bergemuruh di dalam dada.


...***...


"Buka pintunya!!" Louisa mengetuk-ngetuk pintu lift dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. "Buka..." lirihnya seraya terbatuk-batuk.


Sedangkan Frans, ia mondar-mandir di depan lift sembari menekan tiga orang teknisi untuk segera memperbaiki bagian mesin yang rusak.


"Cepatlah, gadis itu bisa mati!!" geram Frans merasa was-was karena sudah lima belas menit berlalu. Akan tetapi, ketiga teknisi tersebut, belum juga berhasil membuat lift menyala kembali. "Ya Tuhan... kenapa kerja kalian lelet sekali?!" Frans memilin keningnya dan berjalan ke sana ke mari.


"Tolong... dadaku mulai sesak," lirih Louisa dengan tubuh melangsur di lantai elevator.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2