Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 12 Lilin


__ADS_3

"Bagaimana, aku cantik tidak?" Louisa bertanya pada sahabatnya, seraya memperlihatkan gaun merah bertali tipis yang diberikan sang kekasih. Ia meminta Karen untuk datang ke apartemen dan mengomentari penampilannya. Sebab ia ingin tampil sesempurna mungkin, di malam spesial yang sangat dinanti-nanti. "Apa ada yang kurang?" Louisa kembali bertanya.


"Cantik! Bahkan, sangat... cantik. Semuanya perfecto. Tapi, apa gaun itu tidak terlalu terbuka?" tunjuk Karen. Menurutnya pakaian yang dikenakan Louisa, memiliki belahan dada terlalu rendah juga terlampau memamerkan tubuh bagian belakang.


Louisa merengut. "Aku juga punya pemikiran yang sama. Tapi, gaun ini pemberian Daniel. Aku tidak mungkin mengecewakannya kali ini."


Bola mata berputar malas. Karen tahu betul, akan sulit menasehati seseorang yang diperbudak oleh cinta. "Terserah kamu sajalah, Louis. Kalau kamu nyaman, tidak jadi masalah buatku."


Louisa menangkap raut keresahan di wajah sahabatnya. Ia menghampiri gadis itu dan duduk di kursi kosong berbicara dari hati ke hati. "Apa yang kamu pikirkan?"


Karen geleng-geleng kepala. "Tidak ada."


"Yakin?" tekan Louisa.


"Yakin!" jawab Karen, tegas.


"Tapi, raut mukamu tidak bisa berbohong, Karen," tekan Louisa.


Karen menarik napas panjang. "Aku hanya mencemaskanmu, Louis."

__ADS_1


"Mencemaskanku?" Louisa balik bertanya.


Karen menganggukkan kepala. "Yup, mencemaskanmu."


"Aku tidak pergi ke mana-mana, Karen. Cuma berkencan makan malam, setelah itu pulang," jawab Louisa menenangkan perasaan Karen. Ia tidak tahu mengapa sikap Karen sangat berbeda malam ini. Semula ikut bahagia, tetapi sekarang dia cenderung memperlihatkan wajah penuh kekhawatiran. "Aku tahu apa yang membuatmu cemas. Kamu takut, 'kan, kalau aku akan mengalah pada Daniel dan makes love with him?"


Karen menganggukkan kepala. "Kamu tahu pasti apa isi pikiranku."


Louisa terkekeh, "Tenang saja Karen, aku bisa menjaga diriku sendiri dan akan tetap memegang teguh prinsip hidup yang selama ini aku jalani!"


Karen menarik bibirnya tipis, berpura-pura tenang. Ia tidak ingin merusak suasana hati Louisa yang tengah berbunga-bunga. "Iya-iya... aku tahu kamu bisa menjaga dirimu baik-baik. Karena itu, berjanjilah!!"


"Berjanjilah, untuk menjaga diri dan kembali tanpa kurang satu apa pun," pinta Karen dengan kalimat yang umum didengar. Namun, bemakna dalam.


"Tentu! Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik dan kembali tanpa kurang satu apa pun," sahut Louisa mengacungkan telapak tangan ke arah Karen dan mengulang kalimat yang sahabatnya itu ucapkan.


Akhirnya, kedua gadis belia tersebut sama-sama tertawa lepas. Meringankan beban yang menumpuk di atas pundak. Persahabatan mereka adalah persahabatan yang didasari ketulusan. Wajar saja memang, andaikata saling mengkhawatirkan satu dengan yang lain.


"Kenapa?" tanya Karen lantaran Louisa tiba-tiba tersenyum manja seraya menatap layar handphone-nya.

__ADS_1


"Sopir yang dikirim Daniel untuk menjemputku, sudah ada di depan lobby. Aku berangkat sekarang ya..." Louisa memeluk Karen sepintas dan mengecup kedua pipi sahabatnya. "Doakan aku, kencan malam ini lancar..." Louisa segera keluar dari apartemen dengan setengah berlari. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu sang kekasih, yang selalu membayang di setiap mimpi.


...***...


Sementara itu, di tempat yang akan menjadi saksi perjalanan kisah cinta Louisa dan Daniel, telah diberi hiasan seindah mungkin. Tulisan "Happy Anniversary", terpampang nyata terpasang di sebuah dinding dengan cat berwarna putih.


Mawar-mawar merah muda serta lilin-lilin kecil, tak luput memberikan nuansa hangat nan romantis. Keduanya perpaduan sempurna untuk merayakan momen terbaik bersama kekasih pujaan yang dirayakan sekali dalam satu tahun.


"Bagaimana, apa semuanya sudah siap?" tanya seseorang pada pria yang baru saja selesai menyalakan lilin-lilin kecil di atas lantai.


"Sudah, Tuan Daniel. Hanya tinggal menunggu kekasih Tuan datang saja," jawab pria tersebut, pasti.


"Bagus... saya puas dengan hasil kerja kalian!" puji Daniel. "Ini ambilah dan segera pergi dari sini. Saya tidak ingin kamu atau yang lainnya melihat kecantikan serta kemolekan tubuh kekasih saya," usir Daniel. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang berisikan sejumlah uang, sebagai bayaran atas kinerja orang-orang yang ia sewa.


"Baik, Tuan Daniel. Terima kasih banyak karena sudah mempercayakan momen bahagia ini dengan kami," ucap pria yang tidak diketahui namanya.


Daniel mengibas-ngibaskan tangan, menginginkan orang-orang tersebut untuk beranjak dari hadapannya detik ini juga. Dan sejurus kemudian, mereka pun pergi dengan wajah ceria.


"Louisa sayang... aku sudah tidak sabar melihat bagaimana reaksimu nanti ketika melihat kejutan dariku. Nikmati malam ini, aku yakin kamu akan sangat menyukainya." Daniel buru-buru pergi dan bersembunyi di tempat yang menurutnya aman. Ia ingin memastikan terlebih dahulu kalau kedua targetnya berada dalam satu tempat. Dan setelah itu, ia akan pergi jauh menghilang untuk sementara dari kota yang ia cintai.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2