Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 28 Frans


__ADS_3

"Permisi." Louisa mengetuk pelan-pelan pintu sebuah ruangan yang terbuka. Ia sedikit memicingkan mata ke arah pria yang tengah duduk dengan posisi memunggunginya.


"Masuk!!" titah pria di balik kursi kerja kepada Louisa tanpa memperlihatkan wajahnya.


Louisa melirik ke arah kanan serta ke kiri. Setelah itu, barulah ia memasuki ruangan yang tidak begitu luas di hadapannya. Namun, tertata sangat rapi juga dilengkapi interior-interior mahal.


"Maaf Tuan Frans. Saya Louisa. Pegawai baru kantor Anda," ucapnya hati-hati dengan kepala sedikit miring ke kanan, mencari wajah sang atasan.


Pria yang dipanggil Frans, memutar kursi kebesarannya. Ia pun tersenyum misterius sembari membuka kaca mata hitam yang melekat di antara kedua netra kecilnya.


"Silakan duduk, Nona Louisa," kata Frans. Ia memandangi gadis di depannya dengan tatapan tak biasa. Gagang kaca mata pun ia mainkan di atas bibir, dengan badan bergoyang-goyang mengikuti arah gerakan kursi yang diduduki.


"Terima kasih, Tuan Frans." Louisa pun duduk sesuai perintah sang atasan dan berusaha bersikap setenang mungkin. Walau sebenarnya, debaran di dalam dada lebih cepat dari sebelumnya.


"Ternyata... aslinya, kamu lebih cantik dari foto," ungkap Frans menilik foto yang terpampang di layar komputer lalu menatap genit ke arah Louisa.


Louisa menanggapi dingin selorohan Frans yang baginya sangatlah tidak penting. Sebab, kedatangannya menemui pria aneh itu ke ruang CEO adalah untuk meneken surat kontrak kerja.

__ADS_1


"Saya orang yang tidak suka basa-basi dan sangat menghargai waktu. Jadi, sudi kiranya kalau pembahasan kita langsung saja pada intinya." Louisa melayangkan tatapan tak gentar. Kalaupun sikap diplomatisnya barusan dijadikan alasan untuk pihak perusahaan membatalkan kontrak kerja, tidak menjadi masalah bagi seorang Louisa.


Frans tidak langsung menjawab, ia malah semakin memandangi Louisa dengan tatapan tidak sopan. Ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan memutar dan pada akhirnya berhenti di belakang punggung Louisa.


"Sepertinya saya tidak salah merekrut karyawan. Anda rupanya sangat enerjik dan menarik, Nona," bisik Frans tepat di samping telinga Louisa.


Jantung pun tiba-tiba berdegup kencang. Louisa menahan saliva sekuat tenaga, agar tidak terlihat gugup sedikit pun.


"Mohon maaf Tuan Frans, posisi Anda terlalu dekat. Saya tidak ingin orang lain yang melihat kita sekarang, berasumsi yang tidak-tidak," ujar Louisa menundukkan kepala.


Frans menarik bibirnya ke salah satu sudut lanjut menjauhkan tubuhnya dari punggung Louisa. Ia pun kembali ke tempat semula dan duduk bertopang dagu.


Louisa sigap mengambil map yang disodorkan padanya. Ia membuka perlahan map tersebut dan membaca poin demi poin yang tertuang di atas kertas putih bertinta hitam. Ia tersenyum tenang sebab isi kontrak tersebut sangatlah menguntungkan dirinya.


"Bagaimana? Apa isi kontrak kerja dari perusahaan kami memberatkan Anda?" tanya Frans tidak sabar lantaran Louisa belum juga menandatangani berkas yang dipegangnya.


Mata Louisa berbinar bahagia disertai kepala yang bergulir ke kiri juga ke kanan. "Tidak Tuan Frans, justru sebaliknya. Jauh dari kata memberatkan ataupun merugikan."

__ADS_1


"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" Frans mendesak Louisa agar sesegera mungkin meneken surat kontrak kerja.


"Ba-baik Tuan Frans," sahut Louisa. Tanpa berpikir panjang, ia pun membubuhkan tanda tangan di atas kertas putih kemudian menuliskan nama lengkap di bawahnya.


"Serahkan pada saya." Frans menjulurkan tangan kiri, meminta berkas itu kembali padanya.


Louisa menyerahkan kembali surat kontrak kerja tersebut pada sang atasan. "Silakan, Tuan Frans."


Pria yang mengenakan tuxedo berwarna biru tua, menilik satu per satu surat yang sudah ditanda tangani Louisa. Sejumput senyuman pun terbit dari bibir merah kehitaman. Ia berdiri tegap kemudian mengulurkan tangan. "Selamat, Nona Louisa. Selamat karena Anda sudah menjadi bagian perusahaan kami. Semoga Anda bisa bekerja semaksimal mungkin."


Louisa turut berdiri dan menjabat tangan pria di hadapan. "Terima kasih, Tuan Frans. Saya akan mengerahkan semua keahlian yang saya punya."


"Bagus!! Itu yang kami inginkan!" seru Frans tanpa melepaskan genggamannya. Hingga suara dering ponsel, memaksa ia untuk menarik jemarinya dari tangan Louisa. Raut muka pun mendadak tegang setelah ia membaca nama yang muncul di atas layar gawai.


"Sa-saya ada telepon penting. Perbincangan kita disambung nanti. Mengenai job desk, bisa ditanyakan dulu pada Erika." Frans meminta Louisa untuk keluar dari ruangannya.


"I-iya." Louisa lekas-lekas berdiri kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang CEO menuju ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruang direktur utama. Ia pun menutup pintu dengan rapat sesuai yang diintruksikan Frans, melalui gerakan tangan.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2