Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 34 Lift


__ADS_3

"Jadi, ibumu sudah tahu semuanya?" Chloe menghampiri Axelle yang hendak menaiki tangga. Ia sengaja menunggu suaminya pulang karena sangat tidak sabar ingin menanyakan yang dikatakan Edelin tadi pagi.


Axelle terpegun. Di saat tubuh dan pikirannya telah letih, sang istri malah menanyakan hal yang membuat suasana hati semakin awut-awutan. "Aku baru pulang, Chloe. Kita bahas itu nanti!!!"


Pria bertubuh tegap itu melanjutkan langkah kakinya. Namun, sebuah rentangan tangan, kembali membuat ia terdiam.


"Nanti atau sekarang, sama saja Axelle. Lagi pula, aku cuman bertanya. Mommy-mu sudah mengetahui masalah antara kita berdua. Apa itu benar?" tanya Chloe, antusias.


Bagi Chloe, kabar mengenai keretakan rumah tangganya dengan Axelle sudah sampai di telinga Edelin, adalah sebuah kebahagiaan tak terkira. Sebab ia sangat yakin bahwa sang mertua akan mendesak Axelle untuk menceraikannya.


Axelle mendengus dan menghampiri sang istri. Berdiri lemah dengan senyuman getir tertatah di wajah lusuhnya. "Apa kamu buta? Apa kamu tuli? Apa hatimu terlalu mati? Kau, satu-satunya wanita yang tidak tahu diri, Chloe!!!!"


Kini, giliran Chloe yang tertegun karena baru kali ini Axelle berani membentaknya dengan suara lantang menggelegar. Kedua mata terbelalak sempurna. Dada naik turun, diikuti napas yang berangsur sesak.


"Kamu membentakku, Axelle?" lirih Chloe, berkaca-kaca.


Axelle membuang muka. "Jangan memperlihatkan kelemahanmu di depanku, Chloe!"


"Kenapa?" tanya Chloe dengan suara sengau. Ada rasa perih yang menyapa hati kecilnya. Padahal selama ini, ia kerap kali menyakiti sang suami karena ingin sekali mengakhiri hubungan dengan pria itu.


"Aku benci melihatmu lemah karena itu hanya membuatku ikut lemah!" Axelle meninggalkan sang istri seorang diri. Lebih cepat lebih baik, ia pergi menjauh. Sebelum hatinya kembali tersentuh dan bertekuk lutut karena rasa cinta yang merusak logika.

__ADS_1


"Wah... wah... wah...! Adegan yang sangat... luar biasa!" Edelin tiba-tiba muncul seraya bertepuk tangan. "Aku bahagia ... akhirnya Axelle bisa memperlakukan wanita murahan sepertimu, dengan perlakuan yang semestinya!" tambah Edelin, sumringah.


Chloe mendelik. "Dasar mertua tukang nguping!!"


"Menguping? Tanpa menguping pun, semua orang di rumah ini pasti bisa mendengar suara teriakan Axelle tadi," sahut Edelin menyilangkan kedua tangan. Menatap Chloe sinis, dengan bola mata bergulir ke atas dan ke bawah.


Chloe melengos dan menggeronyotkan bibir. Mulutnya bergerak-gerak. Namun, tanpa suara. Mengolok-olok ucapan sang mertua barusan.


Edelin yang melihat sikap kurang ajar menantunya, hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum miris. "Sebanyak apa pun harta yang putraku berikan, ternyata tidak bisa merubah etikamu menjadi lebih berkelas!!"


Chloe melotot dan bersiap untuk menimpali omongan sang mertua. Akan tetapi, Edelin telah lebih dahulu angkat kaki dari hadapannya.


Namun, Edelin tidak menghiraukan sang menantu. Ia menulikan pendengaran, seraya terus saja berjalan dan mengacungkan telapak tangan sebagai ungkapan, "Talk to my hand".


...***...


"Ya Tuhan, capeknya..." keluh Louisa merenggangkan otot-otot tangan dan leher.


Sejak hari pertama ia bekerja, Frans selalu memberikan pekerjaan yang menumpuk. Tetapi, semua itu sepadan dengan penghasilan yang ia dapatkan.


Karena itu, meski terasa lelah, Louisa selalu bersemangat dalam menuntaskan tugas-tugas kantornya. Ia tidak ingin dianggap orang yang makan gaji buta lantaran mendapat salary dengan nominal fantastis.

__ADS_1


Louisa melihat ke arah kiri dan ke kanan. Lalu menengokkan kepala ke arah ruangan yang lain. Rupanya, hanya ada tinggal dirinya yang masih bekerja. "Oh my Gosh! Jadi, aku cuma sendirian di sini?"


Louisa buru-buru merapikan barang-barangnya. Menata kembali meja kerja yang semula tidak karuan. Baru kali ini, ia bekerja seorang diri di kantor tanpa ada seorang pun yang menemani. Bahkan OB kantor juga tidak nampak batang hidungnya.


Gadis yang memiliki bola mata berwarna biru, tak ingin lagi berlama-lama di kantor seorang diri. Keadaan sepi dan penerangan yang sedikit temaram, membangkitkan kembali ingatannya tentang peristiwa malam itu. Meski kejadian kelam sudah berlalu tiga bulan yang lalu. Akan tetapi, luka batinnya masih tersimpan rapat di bawah alam sadar.


Punggung Louisa mulai bergetar, keringat dingin pun membasahi tubuh. Gerak kakinya cepat. Namun, terseok-seok. Ia memeluk erat tas tangannya. Nampak sekali seperti orang yang sedang ketakutan.


Louisa menuruni satu lantai dengan lantai lainnya menggunakan lift utama. Ia tidak memiliki pilihan lain sebab bila menggunakan tangga darurat, suasananya akan lebih mencekam lantaran tidak adanya pencahayaan.


Semakin lama, Louisa makin ketakutan berada di dalam ruang hampa udara sendirian. Ia ingin secepatnya keluar dari ruang sempit tersebut. Namun yang ada, malah terasa bertambah waktu.


"Ayolah... cepat lantai satu! Kenapa lama sekali?!" gerundel Louisa, menggerak-gerakkan salah satu kakinya. Ia berusaha menepis rasa gelisah yang menguasai diri jua pikiran.


Namun, bukannya sampai. Lift malah berhenti berjalan lantaran ada kendala di salah satu bagian mesinnya. Rasa was-was kian meningkat, tubuh Louisa bergetar hebat. Sebisa mungkin, ia bersikap tetap tenang menahan kecemasan.


Louisa mengatur napas, meredakan detak jantung yang bertalu-talu. Ia memencet tombol telepon yang tersedia di dalam lift, guna meminta pertolongan teknisi perusahaan.


"Hallo... ada orang di sana? Hallo??!!" teriak Louisa. "Lift utama mati!! Saya sangat takut. Tolong, perbaiki segera!!!"


...*****...

__ADS_1


__ADS_2