
"Makanlah..." Edelin menaruh piring berisikan chicken parmigiana ke atas meja makan. "Mom tahu kamu belum makan sejak kemarin malam. Jadi, habiskan semuanya. Ya?" titahnya pada Axelle.
Axelle memutar kepala, dengan kedua alis tersentak bersama-sama. "Mom, masih di sini? Kenapa Mom belum pulang? Kasihan Dad, sendirian di rumah...."
Edelin menarik bibirnya tipis, lalu duduk di samping putranya. "Daddymu sedang ada perjalanan bisnis ke Amsterdam. Dan baru akan pulang, sekitar satu minggu lagi."
"Oh..." Axelle manggut-manggut. Ia menatap kosong meja makan, teringat kembali akan kemesraan Frans dan Louisa di Rumah Sakit. Ntah mengapa hal itu mengusik dirinya. Padahal ia tahu betul, bahwa hatinya telah tertutup untuk wanita mana pun.
"Kenapa, Nak?" tanya Edelin sebab Axelle tidak menyentuh masakannya sama sekali. "Kamu ada masalah? Ayo, ceritakan pada Mom!" Edelin memiringkan kepala, mencari manik mata sang buah hati.
Axelle menahan saliva. Ia bukanlah orang yang pandai menyimpan rahasia di hadapan sang ibu. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya kecapean, Mom...."
"Benarkah?" Edelin tidak percaya sebab ia sangat mengenal putra semata wayangnya itu. Cukup dengan menatap netra sang anak, maka ia akan menemukan kejujuran ataukah kebohongan di sana. "Sejak kapan, kamu belajar membual, hm...?" tekan Edelin.
Axelle mendesah, "Sejak tadi...."
Edelin terkekeh dan merangkum kedua pipi Axelle, "Kamu masih seperti baby boy-ku, Nak. Menggemaskan!!!"
"Aku bahkan sudah kepala tiga, Mom..." sahut Axelle, memelas. Ia paling tidak senang diperlakukan seperti anak kecil.
"Tapi, kamu akan selalu menjadi beruang kecilku," balas Edelin.
__ADS_1
"Ayolah, Mom... berhenti menganggapku seperti beruang kecil!" rajuk Axelle.
Edelin memutar bola matanya ke atas, lalu ke bawah. Ke kanan, kemudian ke kiri. Ia tengah memikirkan sesuatu dan tentu saja Axelle tidak akan senang mendengarnya.
"Baiklah... Mom akan berhenti menganggapmu beruang kecil. Asalkan, jawab pertanyaan Mom!" Edelin menawarkan kesepakatan.
Axelle mengangkat alisnya. Melihat sang ibu dengan tatapan penuh tanda tanya. "Pertanyaan apa?"
Edelin mengulum senyuman. "Katakan pada Mom. Siapa gadis itu?"
"Ga-gadis? Gadis mana yang Mom maksud?" Axelle pura-pura tidak mengerti arah pertanyaan sang ibu.
"Gadis yang kamu temui tadi malam. Sampai-sampai kamu meminta Frans buat menyiapkan helikopter. Siapa dia?" tanya Edelin antusias.
Wanita parah baya itu menatap lekat sang anak. Ia menyandarkan punggung dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Ia begitu yakin, dengan apa yang ia dengar semalam.
"Oke-oke kalau kamu tidak ingin berbagi cerita dengan Mom. Tidak mengapa!" ketus Edelin.
"Karena memang tidak ada apa-apa," kilah Axelle.
"Lalu hubunganmu dengan Chloe?" tanya Edelin.
__ADS_1
"Aku tidak tahu." Axelle menatap sendu sang ibu.
Edelin mendesah. Nasib akan pernikahan Axelle membuat hatinya resah. Namun, ia tidak bisa memaksakan kehendak pada sang anak. Terutama meminta pemuda itu untuk segera berpisah dengan Barbara Chloe.
"Mom hanya berharap yang terbaik dari Tuhan. Kamu yang menjalani semua. Kamu yang berhak atas hidup juga kebahagiaanmu." Edelin menangkup wajah Axelle. "Mom tidak ingin, kamu terluka semakin dalam. Karena kesedihanmu, kesedihanku juga. Begitupun juga sebaliknya. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Camkan itu!" Edelin mengukir senyuman. Tatapan hangatnya mengunci kedua mata sang anak.
Axelle mengangguk pasti. Biji matanya berkaca-kaca lantaran perasaan hati yang mengharu biru. "Terima kasih, Mom. Terima kasih, untuk semua kasih sayang tanpa batas untukku."
Edelin berdiri, lalu mengecup kening sang anak. "Sama-sama, Nak. Sekarang, makanlah dulu. Mom membuat makanan itu, khusus buatmu."
Axelle menarik kepalanya ke bawah. "Aku akan menghabiskannya."
Edelin tersenyum lebar. "Good Boy!!"
Tanpa Axelle dan Edelin sadari, Chloe menguping perbincangan mereka. Mencari tahu rahasia apa yang tengah disembunyikan sang suami.
Sungguh, ia sangat penasaran. Akan sosok gadis yang bisa membuat Axelle berpaling darinya. Karena selama ini, tak ada satu pun wanita yang lebih penting dari dirinya. "Siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan Axelle?"
"Ah... kenapa juga aku harus mencari tahu soal perempuan itu! Yang harus aku lakukan sekarang, sesegera mungkin mendeteksi keberadaan Daniel," gerundel Chloe pada dirinya sendiri. "Sudah satu bulan, kekasihku disekap. Aku harus melepaskannya dan pergi sejauh mungkin dari kota ini!"
Chloe beranjak menuju kamarnya. Ia telah menyiapkan sebuah rencana, untuk bisa menemukan sang kekasih yang sangat dirindukannya.
__ADS_1
...*****...